BANJARBARU – Lonjakan harga tiket pesawat menjelang arus mudik Lebaran 2026 memicu keluhan masyarakat. Di sejumlah platform pemesanan, tarif bahkan disebut menembus puluhan juta Rupiah untuk sekali jalan.
Penelusuran pada Rabu (18/3), di sejumlah Online Travel Agent (OTA) seperti Traveloka dan Tiket.com menunjukkan adanya variasi harga dibandingkan situs resmi maskapai. Dalam kondisi tertentu, selisih harga terlihat signifikan.
Salah satu temuan muncul di platform Agoda, di mana tarif tiket penerbangan Garuda Indonesia rute Palangkaraya–Jakarta pada 19 Maret 2026 tercatat Rp4.820.045 per penumpang untuk kelas ekonomi. Namun, pada pencarian tanggal 20 Maret 2026, harga sempat melonjak tidak wajar hingga Rp201.926.465, sebelum kembali turun menjadi sekitar Rp6,49 juta pada 21 Maret 2026.
Pelaksana Harian District Manager Garuda Indonesia Banjarmasin, Hendra Rifantho, mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap informasi harga dan promosi yang tidak berasal dari kanal resmi. “Pelanggan harus memastikan setiap informasi perjalanan berasal dari sumber terverifikasi,” pesannya.
Ia menyarankan calon penumpang tidak langsung bertransaksi jika menemukan harga yang janggal. Calon penumpang diminta melakukan pengecekan melalui kanal resmi maskapai, seperti situs, aplikasi, contact center, hingga kantor penjualan.
Menurutnya, secara prinsip harga tiket di kanal resmi dan OTA mitra seharusnya sinkron. Namun, perbedaan bisa muncul karena sistem pencarian OTA. “Ketika penerbangan langsung sudah habis, OTA biasanya menawarkan rute transit, bahkan memutar. Ini yang membuat harga terlihat jauh lebih mahal karena merupakan gabungan beberapa tiket,” jelasnya.
Selain faktor rute, perbedaan harga juga dipengaruhi biaya tambahan seperti layanan platform, asuransi, atau bundling fasilitas tertentu yang tidak selalu ditampilkan di situs resmi maskapai.
Di sisi lain, kenaikan harga secara umum tetap dipicu tingginya permintaan pada periode puncak Lebaran. Keterbatasan kursi membuat sistem maskapai secara otomatis membuka kelas tarif lebih tinggi. “Ini hukum pasar. Saat permintaan tinggi dan kursi terbatas, harga akan naik hingga batas yang diizinkan,” jelasnya.
Pihaknya memastikan tetap mematuhi ketentuan Tarif Batas Atas (TBA) dan Tarif Batas Bawah (TBB) yang ditetapkan pemerintah. Untuk kelas ekonomi, tarif ditawarkan mulai sekitar Rp1,5 juta, sementara kelas bisnis mulai Rp5,5 juta.
Sisi lain, Hendra mengungkap tingginya permintaan penerbangan dari Banjarmasin ke Jakarta. “Per 23 Maret sudah sold out, bahkan ada waiting list sekitar 3–5 penumpang per penerbangan,” terangnya.
Fenomena lonjakan harga paling terasa pada rute-rute favorit pemudik, seperti Jakarta menuju Surabaya, Medan, Padang, dan Makassar. Sementara rute dengan frekuensi terbatas cenderung lebih cepat mengalami kenaikan harga. Maskapai umumnya mengantisipasi lonjakan ini dengan menambah penerbangan ekstra (extra flight), meski tetap bergantung pada kesiapan armada dan slot bandara.
Hal senada disampaikan perwakilan Citilink Banjarmasin, Ali Iskandar. Ia menegaskan harga tiket pada dasarnya telah disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. “Kalau ada selisih, biasanya tergantung kebijakan OTA. Namun, harga yang dipublikasikan tetap mengacu pada aturan tarif batas atas dan bawah,” katanya.
Sisi lain, lonjakan penumpang mulai terasa di Bandara Internasional Syamsudin Noor. Sejumlah calon pemudik mengaku telah mengantisipasi dengan memesan tiket jauh hari sebelumnya. Kiki, warga Tanah Bumbu, mengatakan dirinya bersama tiga anggota keluarga memilih memesan tiket sejak satu bulan sebelum keberangkatan untuk mudik ke Jakarta.
Ia sengaja memilih berangkat lebih awal untuk menghindari kepadatan arus mudik. “Kalau tidak dari jauh hari, biasanya sudah tidak dapat tiket,” ujarnya.
Pengalaman serupa disampaikan Jayadi, penumpang rute Balikpapan–Banjarmasin. Ia mengaku tidak mengalami kesulitan karena tiket telah dipesan perusahaan sejak dua hingga tiga bulan sebelumnya. Meski kondisi bandara padat, ia menyebut perjalanan tetap berjalan lancar tanpa keterlambatan penerbangan, hanya terjadi antrean saat proses check-in. “Dengan sistem itu, ketersediaan tiket bisa diamankan,” katanya.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief