BANJARMASIN - Belum genap 10 hari pertama Ramadan, jasa penukaran uang di kawasan Jalan Lambung Mangkurat Banjarmasin, Kertak Baru Ulu Banjarmasin, mulai bermunculan. Sejumlah pelaku usaha terlihat “menjemur” uang pecahan baru dengan tali. Siap melayani masyarakat yang ingin menukar.
Salah satunya, Junai. Ia mengaku penghasilan dari jasa tukar uang cukup menjanjikan. Terutama dari potongan setiap transaksi.
Uang baru yang disediakan beragam. Mulai Rp2.000, Rp5.000, Rp10.000, Rp20.000 hingga Rp50.000. Setiap penukaran dikenakan tarif jasa sebesar 10 persen.
Junai mengatakan, usaha ini sudah digelutinya puluhan tahun. Setiap Ramadan, ia selalu membuka lapak dan menunggu warga yang membutuhkan uang baru.
Selain rupiah, ia juga melayani penukaran mata uang asing. Seperti Dollar Amerika dan Riyal Arab Saudi. Dengan sistem potongan selisih nilai.
Meski tergolong menguntungkan, permintaan di awal Ramadan masih relatif sepi. Junai menilai kondisi ini dipengaruhi maraknya transaksi digital.
Situasi biasanya baru berubah saat mendekati Hari Raya Idulfitri. Menjelang Lebaran, layanan penukaran di Bank Indonesia umumnya ditutup beberapa hari sebelumnya. Pada momen itu, jasa penukaran swasta kembali diburu, karena masyarakat membutuhkan uang fisik untuk dibagikan. “Karena saya 25 tahun di sini, terasa. Sekarang jasa tukar uang orangnya lebih banyak,” ujar Junai, Jumat (27/2).
Hal senada disampaikan Agus, sesama penyedia jasa penukaran uang. Ia menilai daya tukar masyarakat kini menurun dibandingkan masa lalu. “Sekarang tukar uang cuma segelintir. Bukan untuk semua kalangan. Apalagi sekarang jasa ini makin menjamur, persaingan makin kompetitif,” ungkapnya.
Menurut Agus, perubahan pola transaksi dan kondisi ekonomi yang fluktuatif turut memengaruhi minat masyarakat memanfaatkan jasa tukar uang.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief