MARTAPURA – Banjir besar yang melanda Kalsel sejak akhir 2025 meninggalkan luka mendalam bagi sektor pertanian. Di Kabupaten Banjar, tercatat 1.297 hektare sawah mengalami puso atau gagal panen setelah terendam air dalam waktu lama.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banjar, Warsita, menyebut banjir yang dipicu perubahan iklim merendam lahan padi di sejumlah kecamatan sentra produksi. “Banjir ini berdampak signifikan terhadap tanaman padi. Beberapa wilayah terendam cukup lama sehingga tidak bisa diselamatkan,” ujarnya.
Data sementara menunjukkan total benih padi terdampak mencapai 6.780 kilogram, dengan 6.445 kilogram di antaranya dinyatakan puso. Dari benih lacakan 250 kilogram, sebanyak 147 kilogram juga rusak. Secara keseluruhan, sekitar 1.563 hektare lahan padi terendam, dan 1.297 hektare di antaranya tidak dapat diselamatkan sama sekali.
Kerugian ini bukan sekadar angka. Bagi petani, puso berarti hilangnya sumber penghidupan utama, terutama bagi mereka yang bergantung pada panen padi untuk kebutuhan sehari-hari.
Dinas Pertanian Banjar telah berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian untuk menginventarisasi lahan terdampak. Bantuan yang diusulkan mencakup benih padi, sarana produksi, serta dukungan alat dan mesin pertanian (alsintan). Sebagiannya sudah disalurkan kepada kelompok tani dan brigade pangan. “Harapannya, ketika kondisi iklim membaik, petani bisa segera melakukan pengolahan lahan dan percepatan tanam,” kata Warsita.
Selain itu, sebagian lahan terdampak masuk dalam program asuransi pertanian. Di Kecamatan Martapura Barat, sekitar 90 hektare lahan telah mengajukan klaim, sementara di Martapura Timur tercatat 24 hektare.
Warsita mengimbau kelompok tani memanfaatkan bantuan alsintan secara optimal agar percepatan tanam bisa dilakukan. “Target kita percepatan tanam. Jika cuaca memungkinkan, petani diharapkan bisa segera menanam kembali, bahkan diupayakan dua kali tanam karena musim kemarau diperkirakan datang lebih cepat,” tegasnya.
Meski ada dukungan pemerintah, keterbatasan anggaran menjadi tantangan. Pemprov Kalsel menegaskan bantuan akan difokuskan pada wilayah dengan luasan terdampak di atas seribu hektare, termasuk di Kabupaten Banjar.
Secara keseluruhan, banjir di Kalsel merendam lebih dari 12 ribu hektare lahan pertanian, termasuk padi, jagung, dan hortikultura. Kabupaten Banjar menjadi daerah dengan dampak paling parah. Pemerintah provinsi bersama kabupaten/kota kini bergerak cepat melakukan pemulihan, dengan fokus pada wilayah terdampak luas seperti Banjar, Tapin, dan Tanah Laut.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Kalsel Syamsir Rahman mengatakan, dampak banjir tidak hanya dirasakan pada komoditas utama seperti padi dan jagung, tetapi juga pada tanaman hortikultura.
“Pasca banjir, yang terdampak bukan hanya tanaman pokok seperti padi dan jagung, tetapi juga tanaman hortikultura. Saat ini kita sedang melakukan pemulihan bersama pemerintah kabupaten dan kota,” ujar Syamsir Rahman di Banjarbaru.
Ia menjelaskan, dari total lahan yang terdampak, sebagian sudah mulai ditangani secara mandiri oleh petani. Namun, masih terdapat lahan yang belum bisa kembali diolah karena kondisi lahan belum memungkinkan.
“Sebagian sudah dikerjakan oleh petani sendiri. Sisanya masih kami monitoring karena ada lahan yang memang belum bisa dilakukan penanaman maupun olah lahan,” jelasnya.
Pihaknya mendorong percepatan pemulihan melalui peran penyuluh pertanian, petugas pengendali organisme pengganggu tanaman (OPT), serta koordinasi teknis dengan jajaran pemerintah kabupaten/kota.
Syamsir menegaskan, peran pemerintah kabupaten/kota sangat krusial dalam penanganan pasca banjir karena kewenangan wilayah berada di daerah masing-masing. “Pemerintah provinsi tidak memiliki wilayah. Yang memiliki wilayah itu kabupaten dan kota. Jadi kita bersama-sama mengidentifikasi ulang dengan pemerintah kabupaten/kota dan kelompok tani,” katanya.
Terkait bantuan, Syamsir menyebut penyaluran akan dilakukan secara selektif. Hal ini menyusul keterbatasan anggaran provinsi akibat penyesuaian dan pemotongan anggaran tahun berjalan. Terlebih, sejumlah kabupaten telah lebih dulu menyiapkan bantuan bagi petani terdampak.
“Kalau semua diminta, nanti semuanya minta bantuan. Padahal beberapa kabupaten sudah menyiapkan bantuan. Provinsi akan melihat kekurangannya saja,” imbuhnya.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief