BANJARMASIN - Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Kalimantan Selatan (Kanwil DJPb Kalsel) mengumumkan kondisi ekonomi dan fiskal daerah menunjukkan performa yang sangat positif dan stabil hingga akhir November 2025.
Dengan pertumbuhan ekonomi yang melampaui rata-rata nasional, pengelolaan anggaran yang efektif, dan dukungan kuat terhadap sektor-sektor kunci seperti UMKM, Kalsel berhasil menjaga momentum pertumbuhan di tengah tantangan lokal dan global.
"Pertumbuhan ekonomi Kalsel mencapai 5,19% (yoy) pada Triwulan III 2025, didukung oleh sektor pertambangan, pertanian, dan industri pengolahan. Pengelolaan fiskal berjalan optimal, dengan belanja APBN mencapai 89,06% dari pagu dan penyaluran Transfer ke Daerah (TKD) yang dominan sebesar Rp29,43 triliun. Selain itu, kinerja APBD juga menunjukkan surplus yang tinggi, menandakan potensi besar untuk percepatan pembangunan," ungkap Kepala Kanwil DJPb Kalsel, Catur Arianto Widodo, di Banjarmasin, belum lama tadi.
Di sisi lain, dukungan terhadap UMKM berjalan efektif, dengan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) mencapai Rp4,61 triliun dan Pembiayaan Ultra Mikro (UMi) sebesar Rp63,67 miliar, yang menjadi bukti komitmen dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan bagi Kalimantan Selatan.
Catur menambahkan, perekonomian Kalimantan Selatan terus menunjukkan dinamika yang positif. Hal ini ditandai dengan Neraca Perdagangan Kalsel mencatatkan surplus sebesar US$988,28 juta hingga November 2025.
"Meskipun masih mencetak surplus, angka ini mengalami kontraksi sebesar 20,92% (yoy) jika dibandingkan tahun sebelumnya. Kinerja ini dipengaruhi oleh nilai Ekspor bulan November yang tercatat sebesar US$1.121,44 juta dan nilai Impor sebesar US$133,16 juta," sambungnya.
Dari sisi harga, tingkat inflasi di Kalimantan Selatan pada November 2025 tercatat sebesar 3,35% (yoy) dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110,22. Angka ini masih berada di atas tingkat inflasi nasional yang tercatat sebesar 2,72% (yoy).
Secara bulanan (month-to-month), Kalsel mengalami inflasi sebesar 0,73%, juga lebih tinggi dari kondisi nasional yang mencatatkan inflasi 0,17%. "Tekanan inflasi bulan ini terutama didorong oleh kenaikan harga pada komoditas tertentu. Komoditas penyumbang utama andil inflasi (mtm) adalah emas perhiasan, terong, dan beras. Di sisi lain, beberapa komoditas seperti daging ayam ras, bahan bakar rumah tangga, dan mangga justru memberikan andil deflasi, membantu menahan laju inflasi lebih lanjut," tandasnya.
Editor : Fauzan Ridhani