BANJARMASN - Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Kalimantan Selatan (Kanwil DJPb Kalsel) mengumumkan kondisi ekonomi dan fiskal daerah Kalsel menunjukkan performa yang sangat positif dan stabil hingga akhir Oktober 2025.
Dengan pertumbuhan ekonomi yang melampaui rata-rata nasional, pengelolaan anggaran yang efektif, dan dukungan kuat terhadap sektor-sektor kunci seperti UMKM, Kalsel berhasil menjaga momentum pertumbuhan di tengah tantangan lokal dan global.
Kepala Kanwil DJPb Kalsel, Catur Ariyanto Widodo menjelaskan pertumbuhan ekonomi Kalsel mencapai 5,19% (yoy) pada Triwulan III 2025, didukung oleh sektor pertambangan, pertanian, dan industri pengolahan.
"Pengelolaan fiskal berjalan optimal, dengan belanja APBN mencapai 78,45% dari pagu dan penyaluran Transfer ke Daerah (TKD) yang dominan sebesar Rp25,71 triliun. Selain itu, kinerja APBD juga menunjukkan surplus yang tinggi, menandakan potensi besar untuk percepatan pembangunan," sebut Catur, Selasa (25/11/2025) di Aula Kanwil DJPb Kalsel.
Di sisi lain, dukungan terhadap UMKM berjalan efektif, dengan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) mencapai Rp4,17 triliun dan Pembiayaan Ultra Mikro (UMi) sebesar Rp56,52 miliar.
"Ini menjadi bukti komitmen dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan bagi Kalsel," sambungnya.
Baca Juga: Kementerian Kehutanan Raih Penghargaan IKK Awards atas Pengelolaan Kebijakan yang Unggul
Catur menilai perekonomian Kalsel terus menunjukkan dinamika yang menarik. Hingga Oktober 2025, Neraca Perdagangan Kalsel mencatatkan surplus sebesar US$775,67 juta.
Meskipun masih mencetak surplus, angka ini mengalami kontraksi sebesar 29,67% jika dibandingkan bulan sebelumnya.
Kinerja ini dipengaruhi oleh nilai Ekspor bulan Oktober yang tercatat sebesar US$877,65 juta (turun 31,0% secara year-on-year) dan nilai Impor sebesar US$101,98 juta (turun 39,4% secara year-on-year).
Baca Juga: FE UNISKA Yudisium 680 Sarjana Ekonomi
"Dari sisi harga, tingkat inflasi di Kalsel pada Oktober 2025 tercatat sebesar 3,11% (yoy) dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 109,42. Angka ini berada di atas tingkat inflasi nasional yang tercatat sebesar 2,86% (yoy)." tambahnyanya.
Secara bulanan (month-to-month), Kalsel mengalami inflasi sebesar 0,36%, berbeda dengan kondisi nasional yang mencatatkan inflasi lebih rendah (0,28%).
Tekanan inflasi bulan ini terutama didorong oleh kenaikan harga pada kelompok pengeluaran tertentu. "Komoditas penyumbang utama andil inflasi adalah emas perhiasan, ikan gabus, dan telur ayam ras. Di sisi lain, beberapa komoditas pangan seperti cabai rawit, cabai merah, dan terong justru memberikan andil deflasi, membantu menahan laju inflasi lebih lanjut," tandasnya.
Editor : Fauzan Ridhani