Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Langka Bagai Harta Karun, Sudah 4 Hari Pertamax Kosong di Kalimantan Selatan

Zulvan Rahmatan • Kamis, 20 November 2025 | 10:45 WIB
KOSONG: Tulisan pemberitahuan di salah satu SPBU yang menyebut stok Pertamax masih dalam perjalanan, Rabu (19/11).
KOSONG: Tulisan pemberitahuan di salah satu SPBU yang menyebut stok Pertamax masih dalam perjalanan, Rabu (19/11).

Pertamax, bahan bakar non subsidi dengan oktan RON 92, belakangan menjadi rebutan di Banjarmasin. Ironisnya, meski berstatus non subsidi, permintaan Pertamax justru meroket melampaui Pertalite. Stok di SPBU kerap habis, antrean panjang mengular, masyarakat pun mengeluh. 

                  *******

BANJARMASIN – Antrean panjang di SPBU kini menjadi pemandangan sehari-hari. Warga rela menunggu berjam-jam hanya demi beberapa liter Pertamax. Julukan “berburu Pertamax seperti mencari harta karun” yang dilontarkan Alya Aidina, mahasiswi Ilmu Komunikasi Uniska MAB, bukan sekadar kiasan. “Jika antre rasanya seperti bukan prioritas lagi,” ujarnya, Selasa (18/11).

Dari pantauan Radar Banjarmasin menunjukkan antrean kendaraan di SPBU Jalan Pulau Laut, Banjarmasin Tengah hingga keluar area. Kondisi serupa terjadi di SPBU Masjid Raya dan Jalan Belitung.

Mastania, warga Belitung, mengaku terpaksa berburu Pertamax ke SPBU lain karena stok di dekat rumahnya selalu kosong. “Kalau beli eceran jadi mahal. Pertalite malah bikin motor brebet, suami saya sampai rugi karena motornya rusak,” keluhnya.

Fenomena ini bukan kasus tunggal. Anto, warga Basirih, rela antre demi motor sportnya. “Pertamax ini non subsidi, tapi antreannya malah lebih panjang dari Pertalite. Dulu tidak sesusah ini,” ujarnya.

Sejumlah pengawas SPBU mengakui lonjakan permintaan Pertamax. Rizal, pengawas SPBU Jalan Adhyaksa, menyebut 80 ribu liter Pertamax bisa habis dalam hitungan jam. “Padahal sebelumnya stok itu bisa bertahan dua sampai tiga hari,” katanya.

Senada, Lukman, pengawas SPBU Benua Anyar, menambahkan mobil pribadi kerap mengisi penuh hingga 35 liter. “Kalikan saja dalam sehari, bagaimana tidak cepat habis,” tukasnya.

Tak hanya di Banjarmasin, kelangkaan Pertamax juga terjadi di Hulu Sungai Utara (HSU), Tabalong, hingga Tanah Bumbu. Contohnya Di SPBU Pakapuran, Amuntai Utara, stok kosong Pertamax sudah hampir sepekan. “Pertamax masih habis dan kami menunggu pasokan dari pihak terkait. Informasi yang kami terima, pengiriman terlambat, kemungkinan karena faktor cuaca,” ujar Kepala Operasional SPBU, Sutoyo.

Agar warga kebagian, pihaknya memberi toleransi pengisian maksimal 10 liter bagi pengguna yang tidak menggunakan barcode. Berbeda di SPBU Desa Kaludan, Kecamatan Banjang, pihak pengelola mengonfirmasi bahwa stok Pertamax kosong dan diperkirakan pasokan baru tiba esok hari.

Sementara, di Tabalong, SPBU Mabuun sudah empat hari tanpa pasokan. Pengawas SPBU, Irwin Sahrianadi, menyebut kebutuhan harian mencapai 16 ribu liter, namun pengiriman dari depo tersendat.

Pengawas SPBU 64.715.01 Kelurahan Mabuun, Kecamatan Murung Pudak, Kabupaten Tabalong, Irwin Sahrianadi mengatakan, kendala pengiriman dari depo membuat stok Pertamax di SPBU nya mencapai level kritis. “Pengiriman depo agak kendala membuat stok kami agak kritis,,” ujar Irwin, Rabu (19/11).

Irwin menjelaskan pasokan Pertamax terhitung sudah tidak ada selama empat hari sejak Sabtu (15/11/2025). Padahal, SPBU 64.715.01 biasanya mendapat kiriman rutin setiap hari sebanyak 8.000 liter yang habis terjual dalam hitungan jam. "Jika dijual sampai pukul 10 malam, kebutuhan kami seharusnya 16.000 liter sehari,” imbuhnya.

Fenomena kelangkaan Pertamax tak dirasakan di Kabupaten Tanah Bumbu. Di SPBU Plajau, Kecamatan Simpang Empat. Pengawas SPBU, Karsono, menyebut konsumsi harian Pertamax memang melonjak dari biasanya. Kini mencapai rata-rata 6.000 liter per hari. “Meski distribusi berkurang, minat masyarakat terhadap Pertamax justru meningkat. Banyak konsumen beralih setelah muncul laporan kendaraan brebet akibat Pertalite,” jelasnya.

Karsono menambahkan, pasokan dari distributor dalam beberapa pekan terakhir mengalami pengurangan. Jika sebelumnya pengiriman dilakukan hampir setiap hari, kini SPBU hanya menerima pasokan sekitar empat kali dalam seminggu. Kondisi ini membuat stok Pertamax cepat habis meski permintaan terus melonjak.

Warga Kecamatan Simpang Empat, Sujud mengaku tidak mengalami kesulitan berarti mendapatkan Pertamax dalam beberapa pekan terakhir. “Antrean Pertamax paling lama 15 menit. Kalau Pertalite bisa sampai 30 menit antre,” ujarnya, Rabu (19/11).

Hal senada disampaikan Maulana, warga Batulicin. Ia memilih beralih ke Pertamax setelah mendengar kabar banyak kendaraan mengalami brebet akibat penggunaan Pertalite. “Setelah ramai kabar ada motor brebet itu, saya pindah ke Pertamax. Tarikan motor lebih halus dan enak dipakai,” ungkapnya. 

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#Pertamina #BBM #pertamax #Kalsel