Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tumbuh tapi Rapuh, Ekonomi Kalsel Masih Bergantung ke Batubara, Adakah Harapan di 2026?

Zulvan Rahmatan • Rabu, 19 November 2025 | 09:02 WIB
MELINTAS: Perekonomian Kalsel masih sangat ketergantungan pada tambang batu bara.
MELINTAS: Perekonomian Kalsel masih sangat ketergantungan pada tambang batu bara.

BANJARMASIN — Angka pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan kembali menunjukkan geliat positif. Pada Triwulan III-2025, Badan Pusat Statistik (BPS) Kalsel mencatat pertumbuhan sebesar 5,19 persen.

Pertumbuhan ditopang sektor pengolahan, perdagangan, serta pertanian, kehutanan, dan perikanan. Namun di balik kurva menanjak itu, para ekonom mengingatkan bahwa pondasi ekonomi Kalsel masih rapuh di satu titik: ketergantungan pada batu bara.

Ekonom Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Muhammad Handry Imansyah menyebut capaian ini patut diapresiasi, tetapi bukan tanpa catatan. Menurutnya, ketergantungan daerah terhadap komoditas tambang membuat perekonomian sangat rentan terhadap dinamika global.

“Fluktuasi harga batu bara global dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi daerah. Pertumbuhan ekonomi global yang melambat dapat memengaruhi ekspor Kalsel, dan memperlambat pertumbuhan ekonomi daerah,” ingatnya.

Selain faktor harga komoditas, Handry menilai Kalsel masih terbebani persoalan klasik: infrastruktur dan logistik yang belum sepenuhnya efisien. Kondisi ini membuat biaya produksi lebih tinggi, dan daya saing belum optimal.

Potensi Belum Diolah Maksimal

Meski demikian, Handry melihat peluang besar yang bisa mengurangi ketergantungan Kalsel pada tambang. Salah satunya sektor pertanian dan hortikultura, yang selama ini menjadi basis kehidupan masyarakat.

“Kalsel punya potensi tanaman pangan yang kuat. Jika produktivitas dan kualitas ditingkatkan, pendapatan petani bisa naik dan pertumbuhan ekonomi ikut terdongkrak,” ujar Guru Besar Ekonomi Pembangunan ini.

Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) ULM itu juga menekankan pentingnya hilirisasi pangan. Ini demi meningkatkan nilai tambah dari hasil pertanian. Jadi kontribusinya tidak berhenti pada hulu saja.

Di luar pertanian, sektor pariwisata juga berpotensi tumbuh menjadi pendorong ekonomi baru. “Pengembangan destinasi wisata dan peningkatan kualitas layanan dapat meningkatkan jumlah wisatawan dan pendapatan daerah,” yakin doktor lulusan University of Queensland Australia ini.

Cermin Ketergantungan Batu Bara

Potret ketergantungan ekonomi pada batu bara terlihat sangat jelas di Tanah Bumbu. BPS mencatat, sektor pertambangan dan penggalian menyumbang 49,88 persen PDRB 2024. Ini hampir separuh denyut ekonomi daerah. Struktur ekonomi stagnan dari tahun ke tahun membuat Tanah Bumbu berdiri di atas fondasi yang sama: kuat selama harga batu bara tinggi, tetapi goyah ketika pasar melemah.

Di balik dominasi itu, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang 11,9 persen PDRB. Sub sektor perkebunan, terutama kelapa sawit, menunjukkan geliat produksi dengan capaian 624.865 ton TBS sepanjang 2024. Namun kontribusinya masih tertinggal jauh dari pertambangan.

Optimisme dari Dunia Usaha

Meski struktur ekonomi masih timpang, dunia usaha menatap penghujung 2025 dengan optimisme. Ketua Kadin Kalsel, Shinta Laksmi Dewi menilai pertumbuhan ekonomi akan terus membaik. Salah satunya berkat kebijakan Menteri Keuangan Purbaya yang memperkuat stabilitas rupiah. “Penguatan rupiah memberi energi baru bagi pertumbuhan nasional, termasuk Kalsel,” ujarnya.

Ia memperkirakan 2026 akan menjadi tahun yang lebih cerah. Terutama dengan pergerakan program MBG, serta kebijakan perumahan 3 juta rumah yang dipercaya dapat menggerakkan ekonomi rakyat.

Pada sektor properti, Ketua REI Kalsel, Ahyat Sarbini menyebut pasar mulai membaik di 2025 akibat melimpahnya kuota rumah bersubsidi. Ia berharap pemerintah menambah kuota di 2026, dan menyesuaikan harga rumah bersubsidi dari Rp182 juta menjadi sekitar Rp190 juta guna mengimbangi kenaikan bahan baku.

Harapan di 2026

Secara nasional, pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan mencapai 5,1 persen pada 2025. Dengan tren yang membaik ini, Kalsel dinilai berpeluang melampaui capaian tahun ini pada 2026. “Peningkatan investasi di sektor-sektor strategis dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah dan meningkatkan pendapatan masyarakat,” kata Handry.

Meski masih dibayangi tantangan kualitas SDM dan struktur ekonomi yang belum sepenuhnya merata, Kalsel tetap berada pada jalur positif. Pertanyaannya tinggal satu: apakah daerah ini siap keluar dari bayang-bayang batu bara, dan membangun mesin ekonomi baru?

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#Batu Bara #banjarmasin #bps #impor #ekspor