BANJARMASIN - Uji coba pembayaran non tunai melalui QRIS di Pasar Terapung Lok Baintan, Kabupaten Banjar tampaknya tidak akan diteruskan. Hal tersebut seiring dengan orisinalitas budaya Pasar Terapung yang mulai tergerus modernisasi zaman.
Salah satu pedagang, Minsih, mengaku pasar terapung tahun ini lebih ramai dibanding tahun sebelumnya. “Harapannya tahun depan lebih meriah lagi. Dagangan makin banyak terjual,” ujarnya singkat.
Ditanya soal pembayaran digital, Minsih mengaku banyak para pedagang yang masih bingung. Tapi ada juga yang sudah mulai terbiasa. “Pakai (QRIS) itu masih banyak yang belum ngerti. Lebih enak pakai uang langsung,” katanya sambil tersenyum
Kondisi ini rupanya sudah sampai ke jajaran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banjar. Hasilnya mereka memilih untuk mempertahankan cara jual beli tradisional dan barter.
Kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Banjar, Irwan Jaya mengatakan, pola pembayaran dengan sistem barter inilah yang sebenarnya menjadi ciri khas pasar legendaris di aliran Sungai Martapura itu.
Menurutnya, QRIS memang sempat dipasang di sejumlah jukung (perahu), namun hasilnya justru mengejutkan. Wisatawan mancanegara menilai transaksi digital menghilangkan nuansa budaya yang menjadi daya tarik utama pasar terapung.
“Kita sempat mencoba transaksi digital seperti QRIS. Tapi turis menilai itu mengurangi nilai budaya barter yang khas di sini. Jadi ke depan, kita kembali ke transaksi manual dan barter, agar nuansa tradisinya tetap terjaga,” ujar Irwan saat dikonfirmasi Senin (10/11) siang.
Ia menegaskan, Pemkab Banjar berkomitmen menjaga keaslian budaya transaksi di Lok Baintan. “Ada masukan dari wisatawan, digital payment menggerus keaslian pasar terapung. Maka khusus di Lokbaintan ini, kita dorong kembali transaksi barter sebagai identitas dan daya tarik wisata,” tegasnya.
Editor: Sutrisno
Editor : Arief