BANJARBARU - Jalan Terjal yang dihadapi Wali Kota Banjarbaru, HM Aditya Mufti Ariffin pada Pilkada Banjarbaru 2024 tadi, nampaknya memberikan hikmah tersendiri.
Sebab, di tengah polemik buruknya penyelenggaraan Pilkada Banjarbaru yang berujung pada pemecatan empat komisioner KPUD Kota Banjarbaru, karir Aditya diprediksi malah semakin bersinar.
Informasi yang beredar, Aditya tengah dilirik untuk berkiprah ke Pemerintah Pusat. Informasi yang dihimpun, orang nomor satu di Banjarbaru itu diminta memegang salah satu jabatan petinggi di Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Tak hanya itu, di bawah kepemimpinan Aditya, ujar Arif, Ibu Kota Provinsi Kalsel juga berhasil mendapatkan predikat MCP mencapai 97,3 menurunkan tingkat kemiskinan mencapai 3,72. Bahkan untuk kemiskinan ekstrem bisa ditekan pada posisi 0,2 persen.
Dalam memajukan UMKM di Kota Banjarbaru, ujar Arif, Aditya dinilai sukses. Baik di daerah, bahkan ke level nasional dan internasional.
"Jumlah UMKM binaan Pemko Banjarbaru sekitar 400 unit pada saat awal beliau menjabat sebagai Wali Kota Banjarbaru. Dan saat ini, UMKM Banjarbaru tercatat jumlah keseluruhan pertumbuhannya hampir mencapai 25 ribu UMKM aktif,” tuturnya.
Bahkan, berkat keseriusan Aditya dalam memperhatikan UMKM, omset yang berhasil dikumpulkan Dekranasda Kota Banjarbaru melalui UMKM binaannya telah menyentuh angka yang sangat fantastis, yakni Rp 4 miliar.
“Berkat perhatiannya yang cukup besar kepada UMKM, beliau menerima penghargaan sekaligus menjadi satu-satunya Kepala Daerah di Kalimantan yang meraih penghargaan dari PWI tahun 2024. Pada saat itu beliau meraih penghargaan atas komitmennya memajukan sektor UMKM di Ibukota Kalimantan Selatan yang diberikan langsung oleh Presiden Joko Widodo,” jelasnya.
"Hal-hal itulah yang diantaranya menjadi pertimbangan Pemerintah Pusat untuk menarik Pak Aditya menjadi salah satu petinggi BUMN," tambahnya.
Sayang, sampai saat ini, orang dekat Aditya itu mengaku belum mengetahui BUMN mana yang akan diduduki mantan anggota DPR RI tersebut. "Sementara masih sekadar info awal. Kita belum berani meyakinkan bagaimana pastinya," pungkasnya.
Editor : Fauzan Ridhani