Denyut pasar konveksi di Banjarmasin kian melemah. Akibat dihantam pandemi, disrupsi digital, dan penurunan daya beli masyarakat.
******
DI TENGAH hiruk-pikuk Pasar Sudimampir, Banjarmasin Tengah, Imi berdiri di sudut kios berukuran 2x3 meter yang penuh baju daster. Tangan yang mulai keriput itu masih telaten melipat dan menata barang dagangan.
"Sudah 30 tahun saya berjualan di sini. Sejak masih bujangan," kata pria 54 tahun itu, Senin (11/11).
Jadi Imi tahu betul kisah pasar di tepian Sungai Martapura ini.
Diceritakannya, dahulu pasar ini begitu ramai. Pembeli tidak hanya datang dari Banjarmasin, tapi juga dari luar kota.
Dari berdagang pakaian ia bisa memenuhi menyekolahkan anak dan naik haji.
Namun, kini pasar itu kian sepi. Dimulai sejak pandemi covid. Kebiasaan belanja yang bergeser ke marketplace juga memperparah keadaan. Belum lagi merosotnya daya beli masyarakat.
"Anjloknya 50 persen lebih. Sekarang, pembeli tak lagi bisa diprediksi. Kalau dulu, setiap hari pasti ada yang datang. Sekarang tak menentu," ujar Imi lesu.
Imi juga harus mengubah cara berjualan. Dulu ia menjual grosiran—satu warna, satu lusin. Tapi kini, dengan sepinya pembeli, konsep itu tidak lagi berlaku.
"Tidak bisa seperti dulu lagi. Sekarang kalau ada yang mau beli grosir dengan warna campur pun saya dijual," katanya.
Beban Retribusi
Keadaaan yang lebih memprihatinkan terjadi di Pasar Baru Permai, Banjarmasin Tengah.
Penurunan omzet diperkirakan mencapai 70 persen. Menimpa hampir semua pedagang di pasar ini.
Ihwalnya juga serupa. Turunnya daya beli masyarakat pasca-pandemi, serta peralihan kebiasaan belanja masyarakat ke pasar online.
Karena sepi, beberapa pedagang kini baru membuka kiosnya pukul 10.00 Wita dan sudah tutup pukul 16.00 Wita.
Berbeda dengan dahulu, di mana pedagang sudah buka sejak pukul 07.30 Wita dan baru tutup pukul 17.00 Wita.
Saking lesunya, ada puluhan kios di Pasar Baru yang telah tutup. Banyak pedagang yang menyerah. Memilih gulung tikar.
Salah satunya Udin Leha. Setelah 20 tahun lebih, ia tidak lagi bisa berdagang sendiri.
"Sekarang hanya menjagakan dagangan teman. Lumayan ketimbang berdiam di rumah," katanya, kemarin.
Udin mengungkap, modalnya habis akibat penjualan yang menurun tajam.
"Bayangkan, dalam sehari kadang tidak terjual satu lembar pakaian pun. Kalau pun ada yang laku, uangnya habis untuk kebutuhan sehari-hari," katanya.
Bukan hanya itu, ia juga kesulitan membayar sewa kios meski harganya sudah kian murah.
"Dulu sewa kios bisa tembus Rp25 juta. Sekarang Rp3 juta saja, tetap saja tak ada yang mau," katanya dengan raut kecewa.
Selain itu, kondisi kumuh Pasar Baru juga turut memperburuk kondisi.
Kondisi pasar ini memang kian suram. Panas. Lantainya kotor. Di atas kepala, kabel listrik semrawut berjuntaian.
"Tapi retribusinya tetap ditarik," keluhnya.
Semestinya, kata Udin, Pemko Banjarmasin lebih peduli dengan kondisi pasar dan memberikan kelonggaran bagi pedagang yang kesulitan membayar retribusi.
"Jangan cuma segel kios. Lihat dulu kondisi pasarnya seperti apa," kecamnya.
Menurutnya, tidak hanya menarik retribusi, pemko juga perlu memastikan kebersihan dan peremajaan pasar agar pengunjung tertarik untuk kembali berbelanja di sana.
"Tolong lah sarana pasarnya juga dibenahi. Jangan dibiarkan begini. Kalau terus diabaikan pasti akan mati," katanya.
Pedagang lain, Ihsan (55) menambahkan, Wali Kota Banjarmasin perlu turun langsung melihat kondisi pasar.
"Kita tidak bisa menyalahkan dinas, karena mereka juga bekerja sesuai perintah atasan. Maka kami ingin wali kota bisa melihat situasi ini. Harapannya bisa memberikan pemutihan atau minimal kelonggaran retribusi," katanya.
Dorong Adaptasi
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Banjarmasin, Ichrom Muftezar melihat dengan jelas "kejatuhan" pasar konveksi.
"Dulu, masyarakat harus datang langsung ke toko untuk berbelanja, namun kini mereka bisa belanja online," ujar Tezar, Senin (11/11).
Maka pihaknya mengimbau pedagang tradisional agar beradaptasi dengan perkembangan zaman. "Jangan bertahan dengan pola konvensional, ikuti tren. Manfaatkan media sosial untuk mempromosikan produk," tambahnya.
Tezar juga menekankan, dampak perubahan ini tidak hanya dirasakan pasar-pasar di Banjarmasin, tetapi juga di tingkat nasional.
Ditanya solusi, ia membeberkan, Disperdagin tengah mendorong pembentukan Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar.
"Saat ini kami sedang proses seleksi direksi dan dewan pengawas Perumda Pasar. Mudah-mudahan bisa segera terealisasi, sehingga pengelolaan pasar, baik dari sisi fisik maupun pedagangnya, bisa lebih baik," ujar Tezar.
Tezar berharap, Perumda Pasar akan mendesain platform e-commerce sendiri yang memungkinkan mereka untuk bersaing dengan toko online.
"Saat ini, Disperdagin tidak bisa membuat e-commerce sendiri, tetapi Perumda Pasar diharapkan dapat melihat peluang ini," jelasnya.
"Jika terealisasi, bisa meningkatkan kepercayaan pelanggan untuk berbelanja di pasar tradisional. Selain itu juga membuka lapangan pekerjaan baru, seperti pemberdayaan ojek pengkolan untuk mengantarkan barang kepada pembeli."
Soal perbaikan dan peremajaan fisik pasar, Tezar berjanji akan mengupayakannya. "Pasar akan kami buat lebih bersih, nyaman, dan tidak kumuh. Kami akan pastikan tidak ada atap bocor atau genangan air," ujarnya.
Mengenai keluhan para pedagang terkait beban retribusi di tengah penurunan penjualan, Tezar menegaskan pihaknya hanya melaksanakan aturan yang berlaku.
"Kami sudah menjalankan sesuai prosedur. Namun, kami akan pelajari lebih lanjut terkait retribusi yang tertunggak, karena banyak di antaranya yang sudah lama," pungkasnya.
Jangan Cuma Mencari PAD
Wakil Ketua Komisi II DPRD Banjarmasin, Hendra mengakui kondisi pasar konveksi tradisional di Banjarmasin kian memprihatinkan.
Ia pun berjanji akan segera membahas persoalan ini dengan pemko untuk mencari solusi.
"Pasar konvensional ini sangat terdampak oleh maraknya e-commerce seperti Tokopedia dan Shopee. Kondisi ekonomi saat ini juga berdampak, di mana daya beli masyarakat turun hingga banyak yang terpaksa 'makan' tabungan," ujar Hendra, kemarin.
Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu melihat, kebijakan fiskal dari pemerintah sangat diperlukan untuk membantu pasar konvensional.
Menurutnya, langkah seperti penyegelan terhadap pedagang yang menunggak retribusi sebaiknya ditunda.
"Pedagang saja kesulitan membuka toko, apalagi membayar retribusi. Kami mendorong agar ada keringanan retribusi sampai kondisi ekonomi membaik," tegasnya.
Selain itu, Hendra mendorong pedagang untuk mulai beradaptasi dengan dunia digital agar bisa bersaing.
"Kami berharap pedagang bisa mencoba digitalisasi, misalnya dengan pembayaran digital seperti QRIS. Atau membuka penjualan hybrid, baik offline maupun online."
Saat ditanya mengenai kemungkinan pemko meluncurkan platform e-commerce sendiri, Hendra mengungkap upaya tersebut sudah pernah dicoba.
Menurutnya, bagus untuk produk UMKM khas Banjar seperti kuliner. Namun untuk produk umum seperti pakaian tidak akan optimal.
Terbaru, dewan bersama pemko tengah menggodok pembentukan Perumda Pasar yang diharapkan bisa mengelola pasar rakyat dengan lebih profesional.
"Semoga nanti bisa memberi nilai tambah, tidak hanya menjadi sapi perah pemerintah," katanya.
Hendra juga menyoroti masalah kekumuhan pasar dan semrawutnya area parkir.
"Sebenarnya, jika pedagang masih ditarik retribusi, maka sudah menjadi tanggung jawab pemko untuk merevitalisasi, termasuk perbaikan fasilitasnya," ujar Hendra.
Diceritakannya, pendapatan dari retribusi pasar yang rendah selalu menjadi dalih pemko. Menjadi kendala perbaikan fasilitas pasar.
Namun, ia berharap agar retribusi yang dipungut dari pedagang bisa kembali dalam bentuk pelayanan yang memadai, bukan sekadar sebagai sumber pendapatan daerah.
"Jangan sampai retribusi ditarik tanpa ada timbal balik yang nyata," tegas Hendra.
Sensasi Belanja di Pasar Tak Tergantikan
PASAR konveksi tradisional di Banjarmasin, seperti Pasar Baru dan Pasar Sudimampir, sedang menghadapi tantangan berat.
Tak seperti satu dekade lalu yang penuh sesak dengan pembeli. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Banjarmasin, tetapi juga di banyak pasar rakyat di seluruh Indonesia.
Hidayatullah Muttaqin, ekonom Universitas Lambung Mangkurat (ULM), melihat kondisi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor.
"Hadirnya disrupsi teknologi yang bertransformasi menjadi disrupsi ekonomi," katanya.
Transaksi jual beli kini beralih dari pasar tradisional menuju platform digital, termasuk e-commerce, yang menawarkan berbagai kemudahan.
Tidak hanya menghapus biaya sewa toko, platform digital juga memperluas jangkauan pasar bagi para pedagang.
Disrupsi ini turut mengubah cara berbelanja, terutama bagi generasi muda, seperti gen Z dan milenial.
Mereka cenderung memilih cara yang lebih praktis, seperti berbelanja melalui smartphone. Belum lagi tawaran diskon atau cashback.
Kepraktisan ini sangat mempengaruhi pilihan konsumen, yang menjadi tantangan besar bagi pasar tradisional yang belum mampu beradaptasi.
Banyak pedagang yang terlambat atau belum mampu beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen dan perkembangan teknologi.
"Hal ini menyebabkan mereka kehilangan pelanggan dengan cepat," katanya, Senin (11/11).
Selain itu, kondisi infrastruktur pasar yang kurang memadai juga menjadi hambatan. Banyak pasar rakyat yang masih kumuh, becek, dan sumpek.
Meski demikian, Hidayatullah masih melihat peluang besar bagi pasar rakyat dan pedagang konveksi tradisional.
Ia percaya dengan adanya inovasi kebijakan dari pemerintah dan adaptasi dari pedagang, pasar-pasar tradisional ini bisa bangkit kembali.
Salah satunya dengan melakukan revitalisasi pasar, tidak hanya memperbaiki kondisi fisik pasar agar lebih bersih dan nyaman, tetapi juga dengan mengubah sistem pengelolaan pasar agar lebih efisien.
Selain itu, pedagang bisa mengadopsi strategi omnichannel, yang menggabungkan penjualan secara langsung di pasar dengan penjualan di marketplace.
Dengan pendekatan ini, pasar tradisional tidak hanya berfungsi sebagai tempat jual beli, tetapi juga bisa menjadi destinasi wisata yang menarik bagi pengunjung.
"Sensasi berbelanja langsung di pasar rakyat—yang tidak bisa didapatkan di pasar online—bisa menjadi nilai jual tersendiri," katanya.
Dengan upaya bersama antara pemerintah dan pedagang, pasar rakyat di Banjarmasin bisa berkembang, mengikuti zaman tanpa kehilangan nilai tradisionalnya.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief