BANJARBARU - Nasi kebuli dulu sangat populer. Namun, makanan khas Banjarbaru ini sekarang sudah hampir tak dilirik lagi.
Pada masa jayanya, Pemko Banjarbaru sangat gencar memperkenalkan makanan dengan ciri khas dibungkus daun pisang ini. Bahkan, pada 2018 sampai ada pemecahan rekor MURI nasi kebuli terbanyak dengan jumlah 7.019 bungkus.
Selain itu, nasi kebuli juga disahkan Wali Kota Banjarbaru saat itu, almarhum Nadjmi Adhani sebagai kuliner ciri khas kota ini, yang harus dihadirkan dalam setiap kesempatan menyambut tamu-tamu dari luar daerah.
Hanya saja, belakangan ini penikmat makanan berupa nasi putih, ditambah taburan abon ikan gabus dan kelapa parut itu sudah tak seramai dulu.
Selain penikmatnya yang berkurang, pedagang nasi kebuli juga kini tak sebanyak dulu. Hal ini dibenarkan Kasi Pembinaan dan Pengembangan Pariwisata pada Disporabudpar Banjarbaru, Silfiana Wahidah Hilmi.
"Penjual nasi kebuli ada di Warung Bawah Asam di Kelurahan Sungai Tiung, Cempaka. Dulu di sana banyak yang berjualan, tapi sekarang sisa sedikit," katanya.
Silfiana juga tak menampik, sebelumnya setiap kali event besar yang digelar Pemko Banjarbaru selalu menyediakan nasi kebuli. Namun kini tidak lagi. "Dulu itu ada kebijakan kerja sama antar stakeholder. Sekarang kalau hanya dari kami (Disporabudpar) saja yang mengusahakan promosi itu cukup sulit, perlu kerja sama yang baik untuk itu," cetusnya.
Ia berharap, segala bentuk ciri khas Banjarbaru baik dari makanan, tarian, ataupun kesenian lainnya bisa terus dilestarikan. "Pelestarian ini tak hanya kami-kami saja, tetapi juga perlu melibatkan lainnya untuk terus mencintai kebudayaan dan kekhasan daerah kita," imbuhnya.
Mulai Sulit Dicari
Sementara itu, salah seorang warga Banjarbaru, Hasanuddin mengaku mulai kesulitan mencari nasi kebuli.
"Tidak seperti dulu, di beberapa tempat ada yang jual. Sekarang sepertinya cuma ada di Cempaka," katanya.
Menurutnya, Pemko Banjarbaru seharusnya tidak berhenti memopulerkan nasi kebuli, agar penikmat dan penjualnya tetap ramai. "Takutnya nanti makanan ini semakin dilupakan," ujarnya.
Terpisah, pengelola Warung Bawah Asam di Kelurahan Sungai Tiung, Siti Fatimah membenarkan kini sudah tidak banyak penjual nasi kebuli. "Penjual lebih memilih menitipkan nasi kebuli di sini," bebernya.
Ia mengaku menjual nasi kebuli dengan harga Rp6 ribu per bungkus. "Untuk penjualannya kadang sehari habis, kadang enggak. Tergantung berapa banyak penjual yang menitipkan ke sini," katanya.
Editor: Sutrisno
Editor : Arief