BANJARMASIN - Kandang itu berukuran 2x1 meter. Rangkanya terbuat dari kayu, dibalut dengan strimin plastik dan kawat hijau.
Letaknya di halaman belakang TPS 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle) di Tanjung Pagar, Banjarmasin Selatan.
Di dalam kandang, sejumlah balok disusun bertumpuk, direkatkan dengan karet dan ditaruh di atas sebuah box. Di situlah lalat tentara hitam atau black soldier fly (BSF) meletakkan telur-telurnya.
Telur-telur itu nantinya dipindahkan ke rak penetasan yang memakan waktu 3-4 hari. Setelah menetas, bayi-bayi maggot itu dibesarkan.
Di ruangan 5x5 meter tersebut ada sekitar 10 tempat untuk menaruh maggot dengan berbagai fase usia. Dari yang baru menetas, hingga sudah tiga pekan.
"Untuk makannya, dalam sehari bisa habis 100-200 kilogram sampah organik," kata Ismail (47), petugas pengelola TPS 3R Tanjung Pagar, Rabu (4/9).
Proses ini bisa mengendalikan masalah penguraian sampah organik di sana.
"Di ruangan yang terbatas ini, dalam sepekan kami bisa memanen sekitar 50 kilogram maggot," bebernya.
Meski budidaya maggot ini memiliki potensi ekonomi, tapi hingga saat ini belum ada hasil signifikan. Banyak maggot yang mati sia-sia atau berubah menjadi lalat dewasa tanpa dimanfaatkan.
Padahal, di setiap fase kehidupan maggot, dari telur hingga lalat, dapat dijual sebagai pakan ternak.
"Kendala kami adalah tidak tahu ke mana pemasarannya," keluhnya.
Selain itu, masyarakat masih ragu tentang manfaat maggot untuk ternak. Ada kekhawatiran saat melihat sumber makanannya yang yang berasal dari sampah.
"Tidak usah manusia, kita saja masih ragu-ragu mau kasih makan ke hewan ternak," ucapnya.
Ismail berpendapat, sebaiknya maggot-maggot tersebut diuji klinis terlebih dahulu sebelum dipasarkan. Hasil uji ini dapat disosialisasikan kepada masyarakat untuk meningkatkan minat mereka. Namun, biaya untuk uji klinis menjadi kendala utama.
"Kami perlu biaya untuk uji klinis, dan itulah yang menjadi tantangan saat ini," tambahnya.
Padahal, andai difasilitasi, Ismail yakin budidaya maggot di TPS 3R Tanjung Pagar akan meraup untung besar.
Dalam bayangan Ismail, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banjarmasin membuat kandang ternak unggas atau kolam ikan di sisa lahan yang dimiliki TPS.
"Unggas atau ikan itu lalu diuji coba diberi makan maggot. Jika hasilnya baik dan aman, itu dipromosikan ke masyarakat agar mereka percaya dan mau membeli maggot di sini."
"Keuntungan yang dihasilkan pun akan kelihatan," tutup Ismail.
Terpisah, Kepala Bidang Kebersihan dan Pengelolaan Sampah DLH Banjarmasin, Marzuki mengatakan dalam waktu dekat akan ada upaya lebih massif untuk mengembangkan potensi ekonomi dari maggot.
Misalnya, bekerja sama dengan pihak Dinas Peternakan atau peternak swasta untuk memasarkannya.
Namun terkait saran uji coba klinis, pria yang akrab disapa Jack itu, merasa tidak perlu. "Pasar itu menginginkan kontinyu. Yang penting kita bisa menyediakan dalam jumlah besar. Kalau untuk uji klinis, rasanya tidak perlu, karena cuma untuk pakan ternak," katanya.
Adapun untuk menyediakan maggot dalam skala besar, Jack menyebut akan dilakukan di awal tahun depan. "Nanti budidaya maggot di TPA Basirih akan dimulai lagi," tekannya.
"Kami juga telah menyebar proposal ke provinsi, balai, juga kementerian untuk pengembangan TPS 3R di Tanjung Pagar dan TPS 3R lain di Banjarmasin," sambungnya.
Butuh bantuan dari luar karena ruang fiskal di APBD sedang sangat ketat. "Jadi perlu mencari peluang pembiayaan dari sumber di luar APBD," pungkas Jack.
Wartawan: Riyad Dafhi
Editor: Syarafuddin