Pemko Banjarmasin mengikuti Indonesia Maju Expo dan Forum 2024 di Jakarta. Apa faedahnya?
******
JAKARTA - Event itu milik Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri. Dihelat 4-7 Juli 2024 di Jakarta Convention Center (JCC).
Kamis (4/7) siang, JCC diramaikan puluhan stan. Masing-masing pemda memajang beragam produk unggulannya.
Stan milik milik Pemko Banjarmasin berdiri di lokasi yang strategis. Searah dengan pintu masuk pameran.
Sudah pasti di sini dipajang kain sasirangan. Selain itu, juga ada kecap botolan. Bukan kecap manis atau asin biasa. Ini kecap limau kuit.
Sayang, pembuat kecapnya tidak turut dihadirkan di situ.
Stan ini dijaga dua orang. Salah satunya Murjani Hamzah. Ia perwakilan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) binaan pemko.
"Kami ingin agar produk UMKM Banjarmasin lebih dikenal lagi. Sehingga pelaku UMKM bisa naik kelas," ujarnya.
Sekdako Banjarmasin, Ikhsan Budiman mengatakan produk asli Banjarmasin harus dapat bersaing di tingkat nasional.
"Ini kesempatan untuk menyebarluaskan produk khas Banjarmasin," ujarnya usai pembukaan Indonesia Maju Expo dan Forum 2024.
"Harapannya bisa menarik minat investor untuk bekerja sama. Baik itu investor dalam negeri maupun luar negeri," harapnya.
Kehadiran investor itu penting. Seperti yang diceritakan Kepala Dinas Penanaman Modal Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Banjarmasin, Ari Yani.
Diutarakannya, selama ini perajin sasirangan kesulitan memperoleh bahan baku pewarna kain. Kebanyakan masih diambil dari Pulau Jawa.
"Ini membuat biaya produksinya mahal," ungkap Ari.
Persoalannya, belum ada investor yang melirik sasirangan. Kecenderungan investor yang hadir di Banjarmasin lebih kepada membangun sebuah tempat usaha.
Misalnya tempat wisata atau kuliner dengan memakai sistem kerja sama.
"Mereka membangun di atas tanah pemda dengan jangka waktu beberapa tahun," ujarnya.
Itu pun kerap menemui kendala keterbatasan lahan. "Lahan yang dimiliki pemko kan tidak banyak," tambahnya.
"Kalau investor sendiri yang membeli lahan, itu berat. Karena biayanya menjadi terlalu tinggi."
"Jadi kami perlu menggaet investor agar mau berinvestasi di bidang lain (seperti sasirangan)," tegasnya.
Disinggung bagaimana iklim investasi di Banjarmasin sejauh ini, Ari mengakui belum ada peningkatan signifikan.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief