BANJARMASIN - Rumah budidaya maggot di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Basirih di Banjarmasin Selatan belum bisa beroperasi tahun ini. Keuangan daerah yang seret menjadi penyebab.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) TPA Basirih, Agus Siswandi mengungkap, kemungkinan baru bisa beroperasi penuh pada 2025 mendatang.
"Harusnya tahun ini sudah jalan, tapi karena ada pergeseran anggaran (refocusing) jadi ditunda," ujarnya, belum lama ini.
Padahal, rumah maggot itu mulai dibangun tahun 2022 dan rampung 2023 kemarin.
Praktis, dengan anggaran yang ada, pihaknya hanya bisa melakukan uji coba.
Uji coba itu menghadapi tantangan. Berkali-kali rumah maggot diserang kawanan pipit.
Rumah maggot itu berada di ruang terbuka dan hanya diberi dinding jaring. "Beberapa kali dinding jaringnya bolong. Mungkin inilah tantangannya," ujarnya.
Tetapi soal potensi, budidaya maggot ini menjanjikan secara ekonomis. Selain itu, bisa mengurangi jumlah sampah organik di Banjarmasin.
"Maggot ini rakus dan lahap memakan sampah organik," ujar Agus.
Sampah organik diperoleh dari hasil pemilahan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banjarmasin.
"Kalau sudah benar-benar beroperasi, mungkin perlu penambahan dua atau tiga petugas lagi. Saat ini hanya ada satu orang saja," tutupnya.
Pakai Dana CSR
Kepala DLH Banjarmasin, Alive Yoesfah Love mengatakan, operasional rumah maggot itu tidak perlu menunggu tahun depan. Ia menyebut kemungkinan pada bulan Juli atau Agustus mendatang sudah bisa beroperasi.
Namun, Alive tidak menampik, dinasnya sedang kekurangan anggaran. "Nanti biaya operasionalnya akan dibantu dana CSR," kata Alive, Senin (13/5).
Saat ini, DLH sedang menyiapkan pembibitan dan pakan maggot berupa bubur dari sampah organik.
"Pakan maggot ini bubur yang diolah dari mesin pemilah sampah organik," ujarnya.
"Persiapannya harus benar-benar matang. Ketersediaan pakannya tidak boleh terhenti. Kalau terputus, harus mulai dari awal lagi," tekannya.
Guna menunjang ketersediaan pakan maggot, diperlukan setidaknya empat alat pemilah sampah sekaligus pengolah sampah organik.
"Saat ini kami hanya memiliki dua buah. Di Jalan Veteran (eks pasar buah) dan TPA Basirih. Jadi pengadaannya perlu biaya yang lumayan," bebernya.
"Kisaran anggaran yang dibutuhkan mencapai Rp3 miliar. Itu sudah lengkap," jelasnya.
"Tahun depan kami coba usulkan untuk pengadaannya. Jadi tahun ini pembuktian dulu. Budidaya ini harus berhasil," tegasnya.
Dikemanakan hasilnya, Alive mengatakan, sementara maggot itu belum dikomersialkan.
Yang pasti, ini bisa mengurangi beban sampah TPA Basirih. Bila dalam sehari masuk 600 ton sampah, maka Alive menaksir bisa dikurangi hingga 64 persen.
"Karena 68 persen itu berasal dari sampah rumah tangga," ujarnya.
"Jadi 52 persen diolah menjadi pakan maggot. 12 persen lainnya hilang saat pemilahan bank sampah," tutupnya.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief