BANJARBARU - Sudah terdengar tak asing di telinga masyarakat Banjarbaru dengan sebutan Kampung Pejabat atau Kampung Pengolah dan Penjual Jamu Loktabat.
Kampung yang dihias sedemikian rupa dengan beragam dekorasi mulai gerbang, kursi, hingga spot foto ini berlokasi di Kelurahan Loktabat Selatan.
Ketua RT 06, Tarmuji mengatakan, di wilayahnya itu ada sekitar 25 warga yang mengolah maupun menjual jamu secara langsung. "Ada yang paling muda usia 22 tahun, ia ikut mengolah jamu di sini," ucap Tarmuji saat ditemui Radar Banjarmasin, Rabu (24/4).
Pemilik kafe jamu ini mengakui, di Kampung Pejabat sudah banyak orang yang bertandang untuk sekadar mencicipi jamu olahan mereka atau bahkan ikut belajar mengolah jamu. "Dulu juga ada menteri datang ke sini dan mencicipi langsung minuman jamu. Pelatihan ataupun penelitian juga sering dilakukan di sini," ungkapnya.
Meski ramai dikunjungi, ia mengungkapkan, mereka sedikit terganggu oleh naiknya harga bahan baku jamu. Seperti jahe, kunyit, asam, maupun temulawak. "Saat ini jamu satu botol ukuran 600 ml dihargai Rp8 ribu sampai Rp15 ribu. Karena harga bahan dasarnya naik, nanti kita sesuaikan kenaikannya bisa sampai Rp10 ribu perbotolnya," sebut Tarmuji.
Ia mengatakan, selain menjual di tempat, warga sekitar juga menjajakan jualannya mulai jam 7 pagi sampai jam 11 malam, mereka berdagang keliling ada yang ke pasar-pasar tradisional.
"Kalau kafe jamu ini kadang bisa buka sampai malam. Alhamdulillah masih bisa eksis dan bertahan, karena masih ada yang membeli jamu," ujarnya.
Adapun jenis jamu yang dibuat oleh Tarmuji yakni jamu sirih dan jamu pinang muda, kemudian beras kencur, kunyit asem, jamu temulawak dan lainnya. "Pengolahannya mudah saja bagi yang sudah terbiasa, tapi kalo orang awam menilai agak rumit. Meski begitu jamu setiap hari diolah, setelah pulang keliling berjualan," ucapnya.
Karena ujar Tarmuji, jika tidak perhari mengolah jamu, maka jamu-jamu tersebut akan basi.
Editor: Sutrisno
Editor : Arief