BANJARBARU - Pemerintah Kota (Pemko) Banjarbaru berencana mengembalikan jam operasional Pasar Bauntung seperti semula. Yakni dari pagi sampai malam hari.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pasar Bauntung Banjarbaru, Abdul Malik mengatakan, rencana ini muncul lantaran adanya masukan dari sejumlah masyarakat. Terutama warga yang kerjanya full day. Misalnya karyawan swasta dan pegawai lainnya.
“Mereka ingin, pada sore dan malam hari ada yang jualan di pasar. Karena siang fokus kerja, jadi waktu pulang sore atau malam hari mereka bisa belanja untuk keperluan di rumah,” jelasnya kepada Radar Banjarmasin, Kamis (18/4).
Saran itu kata Malik, telah ditampungnya dan rencananya akan disampaikan ke Dinas Perdagangan Banjarbaru. "Tapi sebelumnya kami juga akan berkoordinasi dengan para pedagang," katanya.
Sebab, ia mengakui bahwa sejak direlokasi pada tahun 2021 lalu, pasar ber-SNI (Standar Nasional Indonesia) itu sebelumnya buka dari pukul 05.00 sampai 22.00 Wita.
"Namun sekarang pukul 17.00 Wita pedagang sudah banyak yang tutup. Makanya kami akan mengomunikasikannya lagi soal siap atau tidaknya para pedagang di sini kalau diminta buka sampai malam,” ungkap Malik.
Selain mengakomodir keinginan masyarakat, mantan ajudan Wali Kota Banjarbaru ini mengaku bahwa keinginan mengembalikan jam operasional pasar tersebut juga untuk meramaikan pasar tradisional.
Sehingga, Malik berjanji akan segera mengomunikasikan hal ini kepada atasan di Dinas Perdagangan. “Supaya pedagang kita untung, kebutuhan masyarakat juga terpenuhi. Mudah-mudahan bisa diamini sampai ke Pak Wali Kota,” katanya.
Upaya meramaikan pasar tradisional ini tak hanya dilakukan dengan panjangnya jam operasional. Sebab saat ini Pemko Banjarbaru sedang gencar-gencarnya mengajak masyarakat untuk berbelanja di pasar.
Seperti yang dilakukan Wali Kota Banjarbaru, Aditya Mufti Ariffin pada Rabu (17/4) tadi. Orang nomor satu di Kota Idaman ini sengaja membawa para pegawainya ke Pasar Bauntung.
Tujuannya untuk jadi contoh sekaligus mengajak masyarakat untuk aktif berbelanja di Pasar Bauntung. Terlebih pasar ini dibangun menelan biaya Rp94 miliar. “Kita ingin pasar bisa lebih ramai lagi, kita menyosialisasikan lagi kepada masyarakat untuk berbelanja ke Pasar Bauntung,” tuturnya.
Aditya berharap, kunjungannya bersama Sekda Said Abdullah dan pimpinan SKPD bisa mendorong masyarakat datang ke pasar yang terletak di Jalan RO Ulin, Kecamatan Banjarbaru Selatan tersebut.
"Harapan kami, pengunjung semakin bertambah banyak sehingga roda perekonomian di pasar dapat lebih berputar. Suasana pasar semakin ramai dan pedagang bisa lebih untung," ucapnya.
Pengawasan Harus Lebih Ketat
Sementara itu, warga Kelurahan Landasan Ulin, Dahliana mengaku mendukung jika jam operasional Pasar Bauntung dibuka sampai malam.
Sebab, perempuan berusia 27 ini memang sering belanja kebutuhan sehari-hari di Pasar Bauntung sepulang dari tempat kerjanya. “Kalau ditambah jam operasionalnya sampai malam, saya rasa efektif untuk mendongkrak pembeli,” ujarnya.
Namun, jika hal itu memang dilaksanakan, ia minta agar ada jaminan dan pengawasan yang lebih ketat lagi di area pasar. “Seperti keamanan dan penerangan di pasar itu harus lebih diperhatikan supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, misal ada pemalakan dan sebagainya,” ungkap Dahlia .
Sebelum rencana itu dilaksanakan, akan lebih baik pemko melakukan kajian yang tepat dan terukur mengenai jam operasional pasar tersebut. Apakah memang diperlukan atau tidak.
“Pihak terkait juga harus benar-benar mempersiapkan segala sesuatunya dengan benar sebelum buka sampai malam. Khawatirnya malah sepi, kasihan pedagangnya,” ujar Dahlia.
Berbeda dengan Dahlia. Pengusaha katering di Banjarbaru, Salsabila mengaku jam operasional Pasar Bauntung tidak terlalu berpengaruh terhadap dirinya.
Meski rumahnya dekat dengan Pasar Bauntung, ia lebih memilih belanja keperluan usahanya di Pasar Subuh di Martapura, atau Pasar Ulin di Landasan Ulin. “Karena harga bahan di dua pasar itu lebih murah daripada di Pasar Bauntung,” ujarnya.
Sehingga, diakuinya bahwa untuk keperluan katering dan keluarga, ia sangat jarang belanja ke Pasar Bauntung. “Walaupun harus lebih subuh berangkat ke pasar, asal harganya lebih miring enggak masalah. Misalnya ayam, selisih harga di Pasar Subuh dan Pasar Bauntung bisa sampai Rp5 ribu,” bebernya.
Bahkan untuk sayur, Salsabila menyebut harga di Pasar Ulin jauh lebih murah daripada di Pasar Bauntung. “Jadi ke Pasar Bauntung itu kalau pas ada kekurangan sedikit aja, atau ada pesanan dadakan baru ke pasar Bauntung,” pungkasnya.
Editor: Sutrisno
Editor : Arief