Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Pasar Tradisional dan Ritel di Banjarmasin Disidak, Formalin dan Boraks Ditemukan

Wahyu Ramadhan • Kamis, 4 April 2024 | 16:36 WIB
UJI SAMPEL: Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina dan wakilnya Arifi n Noor memantau uji sampel BPOM di Sentra Antasari, Rabu (3/4).
UJI SAMPEL: Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina dan wakilnya Arifi n Noor memantau uji sampel BPOM di Sentra Antasari, Rabu (3/4).

BANJARMASIN - Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina inspeksi mendadak (sidak) ke pasar tradisional dan ritel modern, Rabu (3/4).

Tujuannya adalah Pasar Sentra Antasari di Jalan Pangeran Antasari, Banjarmasin Tengah dan Lotte Mart di Jalan Ahmad Yani, Banjarmasin Timur.

"Memang ada kenaikan harga untuk bawang merah, tomat, dan cabai," kata Ibnu.

Harga bawang merah naik Rp5 ribu per kilogram. Namun, harga komoditas lain seperti telur ayam justru turun.

"Kemudian harga beras masih stabil. Bahkan alternatif beras Banjar sudah tersedia,ada. Seperti beras pamanukan dan lainnya," jelasnya

Salah seorang pedagang di Sentra Antasari, Patria menjelaskan kenaikan harga bawang merah terjadi sejak dua hari terakhir.

"Harganya tembus Rp40 ribu per kilogram, dari sebelumnya Rp35 ribu," sebutnya.

Ditanya apa yang menjadi pemicu kenaikan harga, Patria mengaku tak tahu secara pasti.

"Saya dengar dari sananya (pemasok) memang sudah naik. Tapi ini biasa terjadi, apalagi menjelang lebaran," katanya.

Meski harganya naik, penjualan tidak lesu. Bawang merah tetap dicari dan dibeli masyarakat.
Sidak itu juga mengajak Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (POM) Banjarmasin.

Hasilnya, di Pasar Sentra Antasari ditemukan sejumlah makanan olahan yang mengandung bahan berbahaya terlarang.

Ditemukan pada teri medan dan cumi kering. "Dua produk itu mengandung formalin," ungkap Kepala Balai Besar POM Banjarmasin, Leonard Duma.

"Lalu ada yang mengandung boraks pada kerupuk nasi dan kerupuk lebar yang tak kami ketahui namanya," sambungnya.

Pihaknya akan membina para pedagang yang menjual olahan makanan yang mengandung bahan berbahaya tersebut.

"Ini PR bagi kami untuk bisa memutus mata rantai penyaluran bahan makanan yang mengandung bahan berbahaya," kata Leonard.

Dia juga berjanji akan menelusurinya. Meskipun namanya teri medan, belum tentu diproduksi di Sumatera Utara.

Sementara itu, Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina meminta agar pembinaan kepada pedagang bisa cepat dilakukan.

"Demi memastikan tidak ada lagi distribusi dan produksi dengan bahan berbahaya," ujarnya.

Diakuinya, untuk menindaklanjuti temuan-temuan ini tidak akan mudah. Sebab bisa jadi diolah di luar Banjarmasin atau di luar Kalimantan Selatan.

"Saya ingin memastikan lagi nanti. Mengingat produk ini sepertinya diproduksi secara nasional," ujarnya.

"Nanti, dikomunikasikan antara BPOM Banjarmasin dan BPOM di daerah lain," tambahnya.

"Sekali lagi, untuk memastikan tidak ada lagi bahan pangan yang mengandung formalin (dan boraks)," tutup Ibnu.

Sementara sidak ke ritel modern, nihil temuan.

Editor: Syarafuddin

Editor : Arief
#banjarmasin #bpom #makanan #Pasar #sidak