AMUNTAI - Petani di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalsel, belajar metode tanam baru yang dinamai Padi Apung.
Metode ini diperkenalkan oleh Dinas Pertanian HSU, karena sesuai dengan geografis daerah HSU yang didominasi perairan.
Padi Apung adalah konsep tanam padi di atas permukaan air dengan menggunakan styrofoam atau gabus sebagai media tanam.
Kelebihan metode ini adalah petani tidak perlu menunggu air surut untuk menanam padi, seperti metode konvensional.
“Metode ini memang sedikit lebih mahal dibanding metode konvensional, karena harus menyiapkan gabus pelampung," ujar Fadil, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Amuntai Selatan, Selasa (27/2/2024).
"Tapi hasilnya juga bagus, bisa mencapai 600 kilogram padi per 300 styrofoam,” katanya.
Menurut Noor Ilham, Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian HSU, konsep tanam Padi Apung bukan hal baru di Indonesia, tapi baru diperkenalkan di HSU.
“Ini salah satu cara mengenalkan konsep tanam padi apung yang cocok dengan geografis HSU yang didominasi lahan perairan,” ujarnya, Rabu (28/2/2024).
Lokasi pilot projek Padi Apung ada di dua kecamatan, yaitu di Amuntai Selatan dan Babirik.
Di Amuntai Selatan, Padi Apung ditanam di Desa Banyu Hirang, dengan bantuan Bank Indonesia wilayah Kalimantan Selatan.
Di Babirik, Padi Apung ditanam di Desa Murung Panti Hulu dan Kalumpang Luar, dengan bantuan APBD Provinsi Kalimantan Selatan.
Editor: Ramli Arisno
Editor : Arief