Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Pasang Surut Penjualan Kue Tradisional di Pasar Wadai Martapura

Sheilla Farazela • Sabtu, 10 Februari 2024 | 07:47 WIB
BERJUALAN: Para pedagang berjualan kue tradisional di Pasar Wadai Martapura, Kamis (8/2).
BERJUALAN: Para pedagang berjualan kue tradisional di Pasar Wadai Martapura, Kamis (8/2).

 

MARTAPURA - Puluhan pedagang kue tradisional khas Banjar berjejer menjajakan dagangannya di Pasar Wadai Martapura, berada di tepi jalan dekat Kompleks Pertokoan Cahaya Bumi Selamat (CBS) Martapura, Kamis (8/2).

Ada kakicak, kelelepon, kue bangkit, lemang, kue petah, jengkol, kue bipang, kue sagu, kacang, dodol, kue bawang, dan masih banyak lagi kue tradisional khas Banjar yang dijual di sana.

Salah satu pedagang, Siti Suhrah (57) mengatakan, dirinya sudah berdagang kue khas Banjar selama 40 tahun. “Sebelumnya tidak di sini, kalau di sini sudah sekitar 15 tahun,” ungkapnya kepada Radar Banjarmasin.

Ibu empat anak ini menceritakan sudah mengalami pasang surut berjualan kue di pasar tersebut. Berdagang setiap hari sejak pukul 07.00 hingga 18.00 wita, ia mengaku pendapatannya tidak menentu. “Sehari kadang dapat Rp200 ribu sampai Rp300 ribu,” ujar pedagang asal Paringin yang merantau ke Martapura ini.

Ia menyebut, saat harga bahan kue naik, dirinya tidak bisa menaikkan harga kue begitu saja. Karena takut akan mempengaruhi harga pasaran kue pedagang lain. “Jadi kalau harga naik, ya sudah segitu saja pendapatannya, sama-sama saja harganya, yang penting setiap hari ada yang laku, sudah Alhamdulillah,” tuturnya.

Apalagi saat Covid-19, pedagang akrab disapa H Iyang ini mengaku merugi karena tidak ada pembeli. "Gali lobang tutup lobang. Kalau tidak ada modal, biasanya pinjam uang dulu, nanti dibayarkan setelah jualan laku,"ceritanya.

"Di samping dukanya, Alhamdulillah berjualan kue Banjar ini bisa menyekolahkan anak kayak orang-orang juga," bangganya.

Dengan penuh semangat dan tetap berjualan, hanya inilah cara H Iyang untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah. "Kalau hanya mengandalkan suami yang berprofesi sebagai buruh bangunan, masih agak kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," pungkasnya.

Pedagang kue lainnya, Erma (35) menceritakan, selama 10 tahun berjualan kue tradisional, penghasilan yang didapatkannya pun termasuk serba pas-pasan. "Kadang ramai pembeli bisa sampai Rp500 ribu atau Rp1 juta sehari. Tapi kalau lagi sepi, kisaran Rp100 sampai Rp200 ribuan seharinya," sebut Erma.

Diakuinya, ia juga membayar biaya sewa lapak, pajak setiap bulan dan biaya karcis setiap harinya. "Sewa lapak sebulannya Rp250 ribu. Kalau karcis itu Rp 10 ribu seharinya," pungkasnya.

Editor: Sutrisno

Editor : Arief
#Pedagang Kue #kue #Banjar #pasar tradisional #jajanan