****
BANJARMASIN - Progres proyek baru mencapai 55 persen. Berlangsung sejak Juli tadi, ditarget rampung akhir Desember 2023 nanti.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banjarmasin, Suri Sudarmadiyah menjelaskan, pembenahan sisi kota lama itu berfokus pada perbaikan drainase dan trotoar.
Mengapa agak lamban, Suri menjawab di lapangan ditemukan kendala. Dalam saluran drainase yang dibenahi ternyata ada banyak saluran lain.
"Ada saluran air leding dan air limbah. Jadi harus hati-hati. Supaya ketika pengerjaan berlangsung, saluran yang ada tidak terganggu," ujarnya belum lama tadi.
PUPR juga meminta PT PLN (Persero) untuk memindahkan jaringan kabel listriknya. Dari yang menggantung di atas, diturunkan ke bawah.
Suri tak ingin lagi melihat ada kabel-kabel menjuntai di situ. "Maksudnya tidak ditanam ke bawah tanah. Cukup menempel di masing-masing bangunan. Insyaallah nanti lebih rapi," harapnya.
Menilik desain yang ada, total panjang drainase dan trotoar yang dibenahi di kawasan wisata kuliner itu mencapai 1.026 meter.
Khusus di BTD saja, sepanjang 622 meter drainase, trotoar dan jalan dibenahi.
Anggaran yang digelontorkan mencapai Rp7 miliar, bersumber dari APBD 2023.
Suri juga menjanjikan, trotoarnya bakal berbeda, dibikin tampil seestetis mungkin.
Kemudian pada ruas jalan, dipasang susunan batu bata bertekstur dan berulir. Jadi bukan aspal. Mengikuti masukan dari paguyuban pengusaha kafe yang berusaha di BTD.
Selain mempercantik kawasan, kawasan BTD juga dibikin lebih ramah terhadap penyandang disabilitas.
Tujuan lain, koneksi kawasan BTD dengan Sungai Martapura. "Pengerjaan terus kami kawal dan awasi. Semoga di akhir tahun sepenuhnya rampung," tutupnya.
Sementara itu, dari pantauan Radar Banjarmasin, selama proyek pembenahan berlangsung, keramaian BTD agak berkurang.
Seorang barista di salah satu kedai kopi, Iki mengungkap, sepinya kunjungan berlangsung selama tiga bulan terakhir.
"Kedai kami pun sementara waktu hanya buka pada hari Jumat, Sabtu dan Minggu saja. Tidak lagi setiap hari," ujarnya Ahad (12/11).
Berkurangnya pengunjung tentu berimbas pada penurunan omzet. Dahulu, pada hari kerja, kedai itu mampu meraup penghasilan Rp1,5 juta per hari. Dan Rp2 juta per hari pada akhir pekan.
"Sekarang tak bisa lagi segitu. Kecuali pada malam Minggu, Alhamdulillah, bisa dapat Rp1 juta," ungkapnya.
Bahkan, ada kedai yang memasang pemberitahuan tutup sementara.
Menurut Iki, sementara waktu mereka pindah berjualan ke tempat lain. "Semoga setelah pembenahan selesai, kawasan ini kembali pecah (ramai)," harapnya.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief