Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

15 Ton Ikan Toman Mati Massal, Sebagian Keramba Terpaksa Dikeringkan Untuk Mengurangi Kerugian

Arief • Senin, 16 Oktober 2023 | 08:23 WIB
MUSIBAH: Budidaya Ikan Toman di Kecamatan Babirik alami mati massal akibat turunnya kualitas air akibat kemarau. | Foto: Akbar/Radar Banjarmasin
MUSIBAH: Budidaya Ikan Toman di Kecamatan Babirik alami mati massal akibat turunnya kualitas air akibat kemarau. | Foto: Akbar/Radar Banjarmasin
AMUNTAI - Musim kemarau yang berkepanjangan berdampak buruk bagi pembudidaya ikan toman di Kecamatan Babirik, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Ribuan ikan toman yang dipelihara dalam keramba mengalami kematian massal akibat penurunan kualitas air sungai.

Kejadian ini terjadi pada Kamis, 12 Oktober 2023, setelah hujan lebat yang mengguyur wilayah tersebut pada Senin malam (9/10). Hujan menyebabkan air sungai menjadi keruh dan asam, sehingga mengganggu keseimbangan ekosistem perairan.

Suriansyah, seorang pembudidaya ikan toman dari Desa Pajukungan Hulu, mengatakan bahwa ikan toman mulai menunjukkan gejala tidak sehat sejak Senin.

“Ikan toman tidak mau makan dan warna air sungai berubah menjadi kuning keruh. Pada Rabu malam, ikan toman masih bisa berenang dan mengambil udara ke permukaan air, tapi pada Kamis pagi, kami menemukan banyak ikan toman yang sudah mati,” ujarnya.

Menurut Wahyudi Rachman, Penyuluhan Perikanan Madya Kabupaten Hulu Sungai Utara, penyebab kematian massal ikan toman adalah penurunan kualitas air di atas ambang batas toleransi ikan toman untuk bertahan hidup.

“Hasil identifikasi lapangan menunjukkan bahwa tingginya kadar amoniak, rendahnya pH, dan minimnya kandungan oksigen terlarut pada malam Kamis memicu kematian massal ikan toman,” katanya.

Dinas Perikanan Hulu Sungai Utara telah memberikan bantuan dan saran kepada para pembudidaya ikan toman yang terdampak. Salah satunya adalah memanen ikan yang masih hidup untuk menghindari kerugian lebih besar.

Selain itu, pembudidaya juga diminta untuk bergabung dalam kelembagaan kelompok, agar dapat mendapatkan pembinaan teknis dari Dinas Perikanan dan Penyuluh Perikanan.

Kematian massal ikan toman ini diperkirakan menimbulkan kerugian lebih dari Rp 250 juta. Kepala Desa Sungai Dalam, Hendra, mengatakan bahwa total kerugian warganya akibat kematian massal ikan toman mencapai Rp 300 juta. “Beberapa ikan yang mati kami olah menjadi ikan kering untuk mengurangi kerugian,” tuturnya.

Kematian ikan toman tidak hanya terjadi di Kecamatan Babirik, tetapi juga di beberapa desa lain seperti Sungai Papuyu, Sungai Luang, Sungai Dalam, Sungai Nyiur, Pajukungan Hilir, Pajukungan Hulu, dan Pararain. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi perairan di wilayah tersebut membutuhkan perhatian serius dari pihak terkait. (mar/al/ram) Editor : Arief
#Perikanan