Ketua Pokmas Kelulut Berkat Bersatu, Achmad Nurcholis menjelaskan, mereka memilih kelulut karena banyak ditemukan di Banjarbaru. "Potensinya sangat besar dengan jumlah madu kelulut yang hampir terlihat di setiap pondasi rumah warga," katanya.
Ia mengaku mendapatkan ilmu budi daya kelulut ketika bepergian ke Jawa. "Saya sudah menggeluti budi daya ini selama tiga tahun di Banjarbaru," ujarnya.
Dengan hadirnya program RT Mandiri ini, maka dapat memberikan fasilitas untuk membudidayakan kelulut lebih besar lagi bagi masyarakat sekitar.
Nurcholis menerangkan, mendapat dana bantuan tersebut pada bulan Juni lalu dan dialokasikan untuk membuat sarang lebah kelulut serta bibit pohon buah.
Ada 60 koloni kelulut beserta tempat pemijahan yang kini disebar ke 22 anggota pokmas di RT 49. Setiap anggota mendapatkan dua atau tiga tempat pemijahan.
"Bibit pohon buah itu untuk ditanam di depan rumah sebagai pakan kelulut ketika sudah mengeluarkan bunga, jadi tinggal menunggu madunya saja," ucapnya.
Nurcholis menyebut, karena umur kelulut masih muda jadi manfaat yang didapat saat ini baru kepada anggota pokmas. "Cuma sedikit yang dijual, pertama panen ada dua kilogram madu kelulut terjual Rp1 juta," ungkapnya.
Ia menargetkan tiga sarang lebah madu yang dikelola satu anggota pokmas pada satu tahun pertama akan menjadi enam buah sarang dengan pemijahan. Lalu pada tahun kedua menjadi 12 buah sarang.
"Diharapkan pada tahun kedua itu akan mendapatkan hasil yang maksimal dengan kualitas madu yang cukup tua, semakin tua maka semakin mahal," imbuhnya.
Lebih lanjut ia menerangkan, selain madu yang dihasilkan juga ada getah pelindung sarang yang bermanfaat untuk pengobatan setelah diolah secara khusus. "Dapat mengobati penyakit flu, diabetes, dan lain-lain," terangnya.
Sementara itu, Sri Bimo Arinugroho, Kasi Pemerintahan Kecamatan Banjarbaru Selatan mengatakan, akan mendukung penuh dan mendampingi setiap perkembangan usaha yang dijalankan pokmas. "Rutin selalu berkoordinasi, apabila pokmas punya kendala maka kita bantu secepatnya mencari solusi," pungkasnya. (mr-159/yn/ris) Editor : Arief