Penuturan sejumlah nelayan setempat, Jumat (2/6), jatah solar bersubsidi yang diperoleh dari Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Nelayan (SPBUN) di sana amat terbatas.
Tidak mencukupi keperluan melaut. Bahkan, sejak dua bulan terakhir pasokan solar tersebut kian berkurang.
Pada April 2023 misalnya, total solar subsidi yang mereka peroleh sekitar 25 ribu liter. Lalu pada Mei naik sedikit menjadi 32.100 liter.
Sedangkan pada bulan-bulan sebelumnya jumlahnya masih lumayan, walaupun belum mencukupi. Di kisaran 42.480 liter per bulan.
Keluhan para nelayan dibenarkan kepala desa setempat, Muhriadi. "Kalau membeli solar eceran di kios-kios, aduh harganya sangat mahal," ujarnya.
Muhriadi berharap solusi dari PT Pertamina Banjarmasin. "Sesuai tujuan pemerintah, SPBUN didirikan untuk membantu nelayan memperoleh BBM Solar bersubsidi," pintanya.
Disebutkannya, SPBUN di desanya sebenarnya dijatah 65 ribu liter solar per bulan.
Terpisah, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Tala, Achmad Taufik menjamin keluhan-keluhan nelayan telah diteruskan ke Pertamina.
Pemkab juga meminta Pertamina mengambil langkah cepat untuk mengatasi masalah ini.
"Kalau berlarut-larut, kasihan nelayan kami di Kuala Tambangan tak lagi bisa melaut," ujarnya.
Disebutkan Taufik, di Kuala Tambangan ada 222 unit perahu nelayan.
Informasi yang beredar, kekurangan pasokan selama dua bulan terakhir gara-gara pengelola SPBUN yang memang tak menebus kuotanya secara penuh.
Pengelola hanya menebus menebus 25 ribu liter solar pada April 2023 dan 32 ribu liter pada Mei kemarin. Jauh di bawah jatah bulanan 65 ribu liter. (sal/gr/fud) Editor : Arief