Hal itu disebabkan penyelenggara gagal menghadirkan sejumlah artis yang dijanjikannya.
Gelora Music Festival yang digelar di lapangan Sat Brimobda Kalsel Banjarbaru ini, sejatinya menghadirkan 8 musisi papan atas.
Diantaranya Hindia, Feast, Mario G Clau, Lomba Sihir, Re Union, Lyodra, hingga TBA yang digawangi Kiki, Bastian, dan Aldi eks grup CJR (Cowboy Junior Reborn).
Namun, sayangnya tiga bintang tamu seperti Feast, Mario G Clau, TBA sebelumnya mengumumkan tidak jadi tampil di konser musik tersebut karena bermasalah dengan panitia penyelenggara acara.
Kemarahan penonton kian memuncak ketika si tokoh utama yang ditunggu-tunggu yakni Lyodra Ginting juga ikut batal manggung di Banjarbaru.
Penyanyi jebolan Indonesian Idol 2020 itu mengumumkan hal tersebut melalui story di instagram pribadinya, tepat di hari H yakni pada tanggal Sabtu (6/5) malam, tidak bisa datang karena masalah penerbangan.
Melalui story instagramnya, Lyodra membeberkan kejadian batal manggungnya lantaran tak adanya kepastian oleh penyelenggara acara, mengenai tiket penerbangannya bersama crew, sampai menjelang hari pelaksanaaan.
"Dari beberapa hari lalu manager aku sudah selalu mengkonfirmasi mengenai tiket penerbangan pesawat, tetapi tidak ada kepastian dari pihak penyelenggara dan hampir setiap hari manager saya update mengenai tiket pesawat, padahal administrasi sudah dibayarkan lunas," tulis Lyly, sapaan akrabnya Lyodra dalam unggahan story Instagram lyodraofficial pada Minggu (7/5) malam.
Ia menceritakan, pihaknya sudah menunggu kepastian sekian hari sebelum tanggal acara, namun nyatanya manajemen Lyodra pun baru mendapatkan update mengenai tiket penerbangan sehari sebelum konser berlangsung yakni pada tanggal 6 Mei 2023 pukul 10 malam.
Lyly juga membeberkan jika perwakilan penyelenggara memberikan pilihan waktu keberangkatan Lyodra di waktu yang berbeda dengan timnya.
"Jadi ada di jam 06.00 – 09.10 dan 11.50 -18.15. Disitu kita semua setuju akan hal tersebut asalkan kita jadi berangkat namun sampai pagi tadi tgl 7 Mei 2023 aku dan tim belum mendapatkan kepastian tiket," tulisnya lagi.
Ketidakpastian itu masih belum mendapat perhatian dari pihak penyelenggara hingga akhirnya sponsor utama ikut turun tangan mengurus keberangkatan artis. Padahal diketahui sponsor utama tidak bertugas mengurus talent atau artis
"Pihak penyelenggara kemudian share tiket untuk penerbangan jam 11.50 untuk lima orang dan sisanya sekitar jam 6 sore, aku dan team 5 orang ini langsung berangkat ke bandara secepat mungkin, pas aku sampai di bandara ternyata pesawat sudah mundur dan mencoba cari flight di jam lain dan maskapai lain semua sudah full untuk penerbangan ke Banjarbaru," ujarnya.
Namun, acara pun tetap berlangsung. Pada konser hari pertama diisi oleh penampilan solo Baskara Putera atau Hindia. Sementara di hari kedua konser, tampak situasi penonton di lapangan mulai tak terkondisikan.
Banyak dari mereka memilih tetap turun ke lapangan untuk meminta pertanggungjawaban dari EO konser. Tidak sedikit juga yang memadati area refund tiket atau pengembalian uang.
Tak hanya itu, dalam acara itu sejumlah panitia penyelenggara menyatakan sikap di depan ratusan penonton yang hadir.
“Kami akan bertanggung jawab dengan memberikan refund tiket secara bertahap dan mekanisme refund akan kami,” ucap Yung, nama yang disebut sebagai perwakilan EO Gelora Music Festival Banjarbaru.
Namun, hal itu ternyata justru menambah carut marut suasana konser malam itu. Para penonton yang sudah terlanjur kecewa tidak terima dan tak percaya dengan sikap EO yang dianggap tak bertanggungjawab terhadap artisnya itu.
Dari pernyataan sikap itu pula, seorang MC alias pembawa acara Hirzan Anggoro langsung terkena imbas lantaran tak tahan dengan ocehan penonton di bawah panggung.
Dirinya sempat terekam dengan nada tinggi mengeluarkan kata-kata kasar di depan ratusan penonton.
Hal itu justru viral dan sontak menjadi sorotan warganet, dimana EO dianggap tak becus dalam memilih pemandu acara di atas panggung.
Namun tak lama kemudian Hizran menuliskan klarifikasi dan permintaan maafnya lewat instagram storynya.
"Minta maaf banar ku, membelakan kawanan vendor ja, kada membelakan yang belima itu," tulis Hirzan Anggoro, MC konser dilihat dari screen capture yang beredar.
Hingga saat ini ratusan penonton menuntut komitmen agar pihak EO dapat segera mengganti rugi dengan mengembalikan uang mereka.
Seperti yang diungkapkan Suriansyah, pemuda asal Kota Banjarmasin ini mengaku sangat kecewa. Pasalnya ia sengaja membeli tiket dengan harga mahal hanya untuk membeli dua tiket bersama pacarnya.
Total uang yang ia keluarkan untuk tiket sudah lebih Rp500 Ribu lebih, untuk membeli tiket kelas VIP dan Reguler.
"Kami ingin uang tiket kami kembali. Karena mau nonton apa kalau yang ditonton bukan artis favorit kami," keluhnya.
"Belum lagi MC-nya kasar. Kurang adab di hadapan penonton dalam memimpin acara," tukasnya.
Di sisi lain pemuda dengan sapaan Isur ini juga menilai bahwa penyelenggara konser tidak profesional dalam menggelar event tersebut.
"Contohnya perubahan jadwal konser artis tidak diberitahukan, dampaknya banyak yang ketinggalan lagu saat datang ke lokasi. Penyelenggara harusnya bertanggung jawab, paling tidak uang tiket dikembalikan, minimal 50 persen," harapnya.
Hal senada juga diungkapkan Aqsa. Sebagai penonton gadis asal Kota Baiman ini juga merasa kecewa dengan apa yang terjadi.
"Dan pastinya banyak yang lebih kecewa dari saya, teman teman penonton yang lain bahkan ada yang harus mengorbankan dari segi materi hingga tenaga," katanya.
Ia membeberkan banyak dari penonton yang sengaja datang dari luar banjarbaru harus mengeluarkan uang lebih untuk biaya transportasi dan biaya.
"Seperti menginap tentu untuk yang mereka harapkan dari lama yaitu bertemu dengan idola idola mereka, yang suara dan bahkan wajahnya saja tidak dapat mereka temui di konser tersebut karena terjadinya pembatalan akibat kelalaian dari panitia sendiri," keluhnya.
Pasalnya, yang paling disoroti penonton adalah dari lemahnya kemampuan panitia dalam memanajemen acara ini hingga kegagalan dalam hal usaha panitia untuk menenangkan kerumunan penonton yang sudah terlanjur kecewa.
Ia menilai kekecewaan kerumunan penonton ini memuncak pada saat salah satu pemandu acara yang sebenarnya harus mempunyai kemampuan untuk menenangkan kerumunan dan mencairkan suasana, malah menjadi membakar amarah para penonton dengan melemparkan candaan yang berisikan dengan perkataan kasar.
Lantas bagaimana kepastian pengembalian uang yang dijanjikan penyelenggara?
Terkait hal itu, Radar Banjarmasin berusaha menghubungi salah satu perwakilan penyelenggara yang terpasang di pamflet konser, yang bersangkutan masih enggan berkomentar.
"Bentar dulu ya kak," tulisnya saat dihubungi melalui pesan singkat, Selasa (9/5) siang.
Kendati demikian, melalui instagram resmi Gelora Musik Festival Banjarbaru, yakni @geloramusicfest.bjb. pihak penyelenggara mengakui kesalahannya.
Mereka mengumumkan permintaan maaf dan klasifikasinya lewat foto yang diunggahnya pada Selasa (9/5) pagi tadi.
Lewat unggahan itulah mereka mengutarakan permintaan maafnya kepada para penonton yang telah membeli tiket konser.
"Saya ingin memberitahukan bahwa proses refund (pengembalian uang) tiket sepenuhnya menjadi tanggung jawab kami sebagai pengurus acara," tulis mereka.
Mereka berjanji bahwa pihaknya tidak akan melibatkan pihak lain yang terkait dalam acara ini seperti vendor, volunteer, sponsor, media partner, atau yang berhubungan langsung dengan terlaksananya acara tersebut.
"Kami mengerti bahwa beberapa di antara penonton mungkin merasa kecewa dan tidak puas dengan situasi yang terjadi. Oleh karena itu, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk memproses refund tiket dengan cepat dan efisien," janjinya.
Hal tersebut justru disayangkan oleh Lulu, warga Desa Tunggul Irang, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, Kalsel.
"Kecewa berat, karena tidak sesuai dengan informasi awal. Panitia koar-koar terus di medsos berusaha untuk orang-orang membeli tiket," ungkap wanita berusia 27 tahun ini.
Kekecewaan dirasakan Lulu bukan hanya karena tidak bisa menonton penampilan dari artis digemari, tetapi juga karena merasa dirugikan sudah membayar sewa tenda atau tenant untuk berjualan.
"Buka tenant niatnya mau jualan biar dapat cuan, yang ada dampaknya malah seperti ini. Terlebih lagi, panitia inti yang klarifikasi di atas panggung 2 kali tidak minta maaf atau apapun kejelasan soal tenant," ujarnya.
Lulu juga sangat menyayangkan tindakan penyelenggara yang hanya berfokus terhadap ganti tiket kepada penonton.
"Harusnya juga memberikan sesuatu selain bilang mau refund tiket, kami juga sebagai tenant dirugikan oleh ini, sangat berdampak ke kami yang sudah melunasi di awal tenant, ternyata kami tidak balik modal," pintanya.
Sementara itu, pelaksanaan konser ini sendiri sudah mendapatkan rekomendasi dari pihak Polres Banjarbaru.
Kasat Intelkam Polres Banjarbaru, Iptu Didik pun membenarkan hal tersebut. "Memang betul kami sudah memberikan rekomendasi, namun soal perizinan dikeluarkan oleh Polda Kalsel," katanya.
Diungkapkan Didik, bahwa pihaknya memberikan rekomendasi izin keramaian, setelah pihak penyelenggara melengkapi sejumlah persyaratan.
Pertama yakni penyelenggara mengajukan permohonan melalui surat tertulis, dan yang kedua memiliki izin dari pemilik lahan yang dijadikan sebagai lokasi acara konser berlangsung.
"Jadi setelah kami mengeluarkan rekomendasi, selanjutnya pihak penyelenggara bisa memperoleh izin keramaian dari Polda Kalsel, dengan menyertakan rekomendasi dari Polres Banjarbaru," jelasnya.
Didik mengungkapkan, hal serupa juga berlaku pada konser musik, yang digelar beberapa pekan lalu, di lokasi yang sama.
Namun, konser yang sebelumnya digelar pada dua pekan lalu berjalan lancar, tidak ada komentar negatif, dari para penonton. (zkr/yn/bin) Editor : Arief