Lahan tersebut diketahui merupakan aset Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. Kepala Bidang Pengelolaan Barang Milik Daerah Bakeuda Provinsi Kalimantan Selatan, Said Abu Bakar bersama stafnya mengatakan, PT Dikaka Bhanuwa Jasa telah menyewa lahan itu selama 30 tahun. “Sudah ada kontrak sejak 2018,” katanya pada Rabu (30/11).
Dikaka telah menyewa kawasan eks Hero itu sebesar Rp375 juta per lima tahun. Pembaharuan kontrak per lima tahun pun akan terus dilakukan. “Uang itu langsung masuk ke kas daerah,” ujarnya.
Ditanya terkait rencana pemanfaatan, pihaknya mengaku tak tahu pasti. “Kita paling membuat administrasinya.”
Berry selaku Direktur PT Dikaka Bhanuwa Jasa, pada Rabu (30/11) memberikan kronologi pengelolaan kawasan tersebut. Di pertengahan tahun 2018, pihaknya memulai kontrak dengan Pemprov Kalsel.
Rencana awal, perusahaan berniat memanfaatkan lahan sebagai pusat pertokoan di bagian depan lantai satu. Adapun lantai atas, direncanakan menjadi pusat rekreasi dan hiburan keluarga.
Sementara, bagian belakang dan samping akan dijadikan pusat kuliner, mall atau pasar khusus sandang pangan. Di tahun 2018-2019, PT Dikaka Bhanuwa Jasa menjalin kerja sama dengan beberapa waralaba. Diantaranya dengan McDonald's.
“Tapi sayang tak bisa dilanjutkan karena kebetulan terkendala aspek legalitas sertifikat tanah di kawasan tersebut. Jadi, masih dalam proses penyelesaian oleh pihak Pemprov Kalsel,” jelasnya pada Radar Banjarmasin.
Persoalan sertifikat baru selesai di tahun 2019. Namun, rencana pembangunan kembali terhenti karena Covid-19 di sepanjang tahun 2020. Akibatnya perusahaan mengalami stagnasi kegiatan.
Di tahun 2021 setelah Covid mulai mereda, PT Dikaka Bhanuwa Jasa kembali bersepakat dengan mitra untuk membangun bioskop seperti Kota Cinema Mall (KCM) yang ada di Jalan Belitung Darat, Kota Banjarmasin.
“Sayangnya itu kembali dibatalkan karena siklus Covid meningkat tajam. Terpaksa kami batalkan lagi,” tuturnya.
Dia lanjutkan, mengingat Covid-19 saat ini sudah mulai mereda pihaknya membuat beberapa persiapan rencana. Yaitu, secara bertahap akan melanjutkan rencana terdahulu.
Pihaknya pun sudah ada penjajakan untuk merenovasi bagian depan di lantai atas sebagai hotel atau apartemen. “Saat ini masih dalam tahap penjajakan kelayakan kerja sama dengan mitra.”
Sambil menunggu proses, Berry katakan, dalam waktu dekat kawasan depan dan samping halaman gedung, akan digunakan untuk tempat kuliner atau kafe. Sekaligus untuk area kegiatan komunitas lainnya.
Dia pun mengaku perusahaan cukup dirugikan akibat tertunda berbagai rencana. Sehingga praktis, untuk lima tahun pertama, pihaknya sudah cukup banyak mengeluarkan biaya. Termasuk membayar pajak PBB untuk lima tahun dan biaya operasional lainnya.
“Padahal di sisi lain, kami belum ada pendapatan sama sekali dari kawasan itu,” jelasnya.
Namun karena telah melandainya siklus Covid-19 saat ini, ditambah jadinya Banjarbaru sebagai Ibu Kota Kalimantan Selatan, pihaknya optimis di tahun 2023 sudah bisa melakukan kegiatan renovasi dan pemanfaatan kawasan tersebut.
“Menjadi kawasan bisnis dan semakin terbuka,” harapnya.
Berry mengatakan komitmen perusahaan. “Supaya bisa menghidupkan kembali eks Hero. Kami dari manajemen akan memulai dari kafe di bagian halaman gedung.”
Dalam pantauan Radar Banjarmasin pada Rabu (30/11) seng masih menutupi lokasi gedung eks Hero. Dari depan bangunan, terlihat pula urukan batu split koral dan pembersihan lokasi. Sebelumnya, rerumputan tampak tumbuh subur dari depan bangunan eks Hero itu. (mr-157/yn/bin)
Editor : Muhammad Helmi