***
BANJARMASIN - Menjamurnya kafe di Kota Banjarmasin membuat nongkrong sudah menjadi semacam kewajiban.
Bahkan, tak hanya di akhir pekan, pada hari-hari biasa pun tetap nongkrong. Sekadar singgah untuk rehat atau memboyong kerjaan kantor ke kafe.
Contoh di Bandarmasih Tempo Doeloe. Dari jam 8 pagi sampai jam 11, kawasan di Jalan Hasanuddin HM, Banjarmasin Tengah ini tak pernah sepi.
Dirintis sejak 2019 lalu, kawasan yang dulu sepi itu kini menjadi semarak. Pemko turut melirik. Dan wali kota meresmikannya pada Desember 2021 tadi.
Perihal nongkrong ini, menurut pengunjung kafe setia seperti Ricky Zulkarnain, ada beberapa syarat yang bisa membuatnya betah.
Pertama, tempat yang nyaman. Kedua, teman nongkrong yang satu frekuensi.
"Entah dalam soal pekerjaan atau pergaulan. Dan syarat ketiga adalah tempat yang asyik untuk foto-foto," ucapnya, kemarin (2/2).
Sama halnya dengan Nada. Gadis asal Jalan Sultan Adam ini mengutamakan suasana kafenya.
"Bukan sekadar karena makanan atau minumannya enak. Tapi lebih kepada bisa bertemu orang-orang baru," ungkapnya.
"Saking seringnya nongkrong di kafe, kalau ada kerjaan pun biasanya saya selesaikan di kafe ketimbang di kantor. Merasa lebih fresh saja," tambahnya.
Perihal tren nongkrong di kafe ini, menurut akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Nasrullah, memiliki kedekatan dengan budaya lisan lokal. Yang disebut dengan istilah 'mawarung'.
"Ketika orang ngobrol-ngobrol, biasanya yang dihadapi adalah makanan," ucapnya, kemarin.
Di kalangan anak muda, budaya itu menurutnya kian menjadi-jadi lantaran menjamurnya kafe.
"Dahulu, kafe terkesan eksklusif dan hanya berada di mal, sulit dijangkau anak muda. Kini, kafe tampil lebih terbuka, bahkan mudah dijangkau," jelasnya dosen sosiologi dan antropologi di fakultas keguruan tersebut.
"Ini konsekuensi sebuah kota. Walaupun di Banjarmasin terjadi belakangan. Lebih dahulu di daerah lain," tambahnya.
Lantas, apa dampaknya? Dia menjawab, kehidupan malam yang kian semarak.
"Berbeda dengan warung biasa. Sebab, masyarakat agraris seperti kita lebih memaknai malam sebagai waktu istirahat," jelasnya.
Tapi ia memandangnya positif. Di kafe, antar kalangan bisa bertemu. Ujung-ujungnya bisa menjadi produktif.
"Alangkah baiknya, nongkrong di kafe tak hanya untuk menghabiskan malam atau menghabiskan duit saja, tapi juga sebagai tempat diskusi," tukasnya.
Kafe dan restoran cepat saji datang seiring kenaikan daya beli masyarakat. Ini akan berimbas pada perekonomian daerah. Maka, wajar bila pemko turun tangan. Tak sekadar menarik pajak.
Ditanya apa yang bisa dilakukan pemko, Nasrullah meminta pemilik kafe diarahkan untuk lebih peduli pada unsur kelokalan.
"Misalnya bisa dengan menyediakan menu lokal tapi dimodifikasi ala kafe. Setidaknya sebagai upaya menghubungkan konteks kelokalan yang digaungkan pemerintah," sarannya.
"Bukan mewarnai kafe dengan motif sasirangan. Maksud saya, misalkan menyediakan menu lokal yang dimodifikasi sesuai selera kafe. Mesti ada yang beda dari kafe-kafe di Banjarmasin," sarannya.
"Intinya, kafe mesti menjadi tempat penghilang stress. Bukan malah stress gegara ke kafe," tutupnya.
Terasa Seperti Rumah Sendiri
Jangan remehkan peran pramusaji. Mereka tak hanya sekadar melayani pengunjung kafe. Sewaktu-waktu, mereka juga biasa menemani pengunjung untuk berbincang-bincang. Terutama yang datang ke kafe sendirian.
Tentu di waktu senggang, saat kafe sedang sepi. "Wah, macam-macam. Ada yang sampai curhat juga," ucap Inal, kemarin (2/2).
Barista Kota Lama Koffie di Bandarmasih Tempo Doeloe itu melayani segala macam obrolan. Dari yang serius, bertukar lelucon, hingga yang tak jelas juntrungannya.
"Mengenalkan pelanggan yang satu dengan pelanggan yang lain juga pernah. Tapi, enggak sampai menjodohkan sih," tambahnya tergelak.
Sama halnya dengan Alex, pramusaji di Kedai OTW. Berpengalaman bekerja di restoran makanan cepat saji, ia memaknai pramusaji lebih dari sekadar melayani pesanan pengunjung.
"Kami ingin pengunjung merasa seperti berada di rumah. Nyaman. Minimal, saya mengusahakan mengajak mereka mengobrol saat berada di meja pesanan," ujarnya tersenyum. (war/fud) Editor : Arief