Make up artist (MUA). Siapa yang tak tahu dengan sebutan itu. Apalagi di kalangan perempuan masa kini. Lantaran popularitas itulah, MUA sekarang menjadi bisnis menjanjikan.
Beberapa tahun lalu, MUA hanya dikenal di lingkungan artis. Kemudian menyasar pada ibu-ibu pejabat dan sosialita.
Kini peminat MUA makin luas. Bahkan mayoritas perempuan sudah menggunakan jasa mereka. Tentu saja untuk berbagai keperluan. Seperti pernikahan, wisuda, bahkan acara seremonial.
Bayarannya tak main-main. Nominalnya jutaan rupiah untuk sekali rias. Tak heran jika banyak orang yang tertarik menggeluti bisnis MUA.
Contohnya seperti Adi Chandra. MUA yang berdomisili di Sungai Andai dalam tujuh tahun terakhir.
Untuk sekali rias, Chandra bisa mengantongi bayaran Rp7 juta. Itu acara biasa. Kalau pernikahan, nominalnya jauh lebih besar. “Bisa sampai belasan juta,” sebutnya.
Sebenarnya Chandra tak mematok harga. Tergantung kemampuan konsumen. “Biasanya kami membantu. Ada yang mau resepsi tapi budgetnya sedikit, tetap kami bantu,” tuturnya.
Di Banjarmasin, nama Chandra sudah cukup tenar. Keahliannya mendandani seseorang sudah sampai hingga pulau Jawa. “Saya juga pernah diminta merias ke Jogjakarta, Indramayu, dan Jakarta.” ungkapnya.
Chandra bukan tipe perias yang ngotot dengan style make sendiri. Dia lebih senang menyesuakan permintaan pelanggan. “Banyak MUA yang mengubah drastis wajah pelanggannya. Saya tidak mau. Karena percaya setiap individu memiliki karakter unik, biar jadi ciri khas sendiri,” tuturnya.
Dia tak pernah mengikuti pendidikan khusus merias. Kemampuannya melukis wajah dipelajari secara otodidak. Bahkan awalnya tak sengaja.
Tadinya, dia cuma sekadar ikut senior. Lama-lama, Chandra tertarik, dan akhirnya jago. “Saya mulai merias dari nol,” ungkapnya. Kini dia kebanjiran order. Paling tidak, dua kali dalam sepekan.
Nama lainnya adalah Rahmawati. Juga seorang perias. Memang tak setenar Chandara, tapi dia juga kerap banjir orderan. Terutama ketika ada wisuda.
Harga yang dipatok Rahmawati tak mahal. Cuma berkisar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu. Dalam sekali wisuda, dia bahkan bisa mendandani sampai tujuh orang.
“MUA emang bisa banget jadi profesi utama. Asal kitanya tekun, ulet belajar, dan menempatkannya sebagai prioritas. Tapi saya hanya mendandani untuk pesta atau wisuda. Kalau resepsi pernikahan masih belum. Saya pun harus belajar lagi,” pungkasnya. (eka/at/nur)
Editor : Arief