Dua Saudara, Dua Kubu: Michael dan Ampuh Dau Rawat Basket Kalsel

Tia Lalita Novitri • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 20:37 WIB
DUA SAUDARA: Michael Mikanata Dau dan Ampuh Dau sama-sama berkiprah sebagai pelatih basket dan kerap berhadapan di Honda DBL South Kalimantan. (Foto: DBL Indonesia)
DUA SAUDARA: Michael Mikanata Dau dan Ampuh Dau sama-sama berkiprah sebagai pelatih basket dan kerap berhadapan di Honda DBL South Kalimantan. (Foto: DBL Indonesia)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN – Persaingan SMAN 2 Banjarmasin (Smada) dan SMAN 7 Banjarmasin (Smaven) pada Honda DBL with Kopi Good Day 2026 South Kalimantan menyimpan cerita menarik.

Di balik dua kubu yang saling berhadapan, terdapat dua saudara yang sama-sama berdiri di pinggir lapangan. Michael Mikanata Dau menjadi asisten pelatih Smada, sedangkan sang kakak, Ampuh Dau, merupakan head coach Smaven.

Keduanya kembali berhadapan saat Smada melawan Smaven di GOR Hasanuddin HM Banjarmasin, Senin (10/8/2026). Laga tersebut dimenangkan Smada, yang kemudian melaju hingga menjadi juara sektor putra Honda DBL with Kopi Good Day 2026 South Kalimantan.

Bagi Michael dan Ampuh, duel sebagai pelatih bukan hal baru. Rivalitas keduanya sudah berlangsung sejak DBL hadir di Banjarmasin pada 2008.

“Dari dulu-dulu sebelumnya juga ada. Sejak DBL ada di Banjarmasin tahun 2008 sudah sering head to head,” ujar Michael.

Michael sebelumnya sempat menangani SMAN 3 Banjarmasin. Pada 2013, ia mulai melatih Smada dan bertahan hingga sekarang.

Menariknya, Michael mengaku memiliki catatan kemenangan lebih baik saat berhadapan dengan sang kakak.

“Kalau rekor pertemuan, banyak menang saya. Di DBL saya cuma kalah satu kali lawan dia,” kelakarnya.

Meski kerap berada di kubu berbeda, persaingan tersebut tidak menjadi persoalan di luar lapangan. Keduanya justru sama-sama memiliki kecintaan terhadap basket yang sudah tumbuh sejak lama.

Michael mengatakan, basket sudah menjadi bagian dari keluarga Dau. Selain dirinya dan Ampuh, satu kakak mereka juga menekuni olahraga tersebut.

“Kita memang menekuni basket. Selain Ampuh Dau, saya juga masih punya satu kakak lagi yang juga menekuni basket,” tuturnya.

Michael bahkan pernah menjadi pemain pada era 1990-an. Ia sempat berlatih bersama Antasari Utama sebelum akhirnya memilih dunia kepelatihan dan fokus pada pembinaan pemain muda.

Kini, pengalaman tersebut terus ia bagikan melalui tim sekolah dan klub basket lokal.

Menurut Michael, kehadiran DBL memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan basket pelajar. Kompetisi tersebut membuat pemain SMA memiliki target yang lebih jelas.

“Anak-anak sekolah, terutama SMA, mereka itu mimpinya DBL. Kompetisi lain sama mereka dianggap pelengkap saja. Begitu ada DBL, mereka merasa sesuatu yang membanggakan kalau bisa main DBL,” jelasnya.

Target pemain pun tidak lagi sekadar tampil. Mereka mulai membidik gelar juara, First Team, DBL Camp, hingga kesempatan menjadi All-Star.

“Jadi mimpinya anak-anak itu ya bisa main di DBL. Bisa champion. Bisa mengejar pula First Team. Bisa ikut DBL Camp. Bisa terpilih All-Star,” lanjutnya.

Michael menilai proses tersebut perlu dibangun sejak usia dini. Pemain yang mengenal basket sejak SD dapat melanjutkan pembinaan melalui klub dan jenjang SMP.

“Sehingga ketika SMA mereka bukan lagi dari nol kemampuannya. Fondasinya sudah terbangun,” katanya.

Ia juga melihat aspek fisik masih menjadi tantangan bagi pemain lokal. Dari sisi keterampilan, menurutnya pemain Banjarmasin mampu bersaing dengan daerah lain.

“Kalau secara skill mereka bagus. Sebenarnya kalahnya lebih di postur saja,” ujarnya.

Karena itu, pembinaan menurutnya perlu mencakup teknik, kondisi fisik, nutrisi, hingga dukungan orang tua.

Michael juga mengapresiasi konsep development dalam DBL yang mendorong pemain mendapatkan kesempatan bermain.

“Bagus. Jadi tidak ada lagi namanya cadangan mati. Semuanya harus bisa. Itu kebijaksanaan pelatih bagaimana membina anaknya supaya semua pemain bisa,” jelasnya.

Konsep tersebut juga sejalan dengan langkah Michael saat ini. Setelah bertahun-tahun menjadi pelatih utama, ia mulai mengambil peran sebagai assistant coach dan memberikan kesempatan kepada pelatih muda untuk memimpin.

“Saya penginnya yang muda-muda juga tampil. Makanya saya sekarang jadi asisten. Biar yang sudah lama juga memberikan kesempatan untuk yang muda tampil,” ungkapnya.

Regenerasi juga berlangsung di kubu Smaven. Setelah sekitar 26 tahun menangani tim tersebut, Ampuh kini mendapat dukungan dari generasi berikutnya. Putrinya, Claudya Florence Dau, membantu sebagai assistant coach, sementara Karen Angelica Dau bertugas sebagai medical support.

Keterlibatan keluarga Dau pun terus berlanjut lintas generasi. Tidak hanya sebagai pemain, tetapi juga dalam kepelatihan dan pendampingan atlet.

Di lapangan, Michael dan Ampuh memang kerap berada di sisi berlawanan. Namun, keduanya memiliki tujuan yang sama, yakni menjaga dan mengembangkan basket pelajar Kalimantan Selatan.

Michael berharap semakin banyak pemain dan pelatih muda dari Banjarmasin dan Kalsel mendapat kesempatan berkembang hingga ke level lebih tinggi.

“Saya ikut bangga ketika ada anak-anak dari DBL Banjarmasin ini terpilih sampai All-Star,” pungkasnya. 

Editor : Tia Lalita Novitri
Michael Mikanata Dau Ampuh Dau Saudara Basket pelatih