Di Balik Riuh Tribun DBL 2026, Fisioterapis Olahraga Ingatkan Ancaman Cedera Lutut yang Sering Diaba

M Idris Jian Sidik • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 15:25 WIB
Fisioterapis olahraga Akhmad Ferdian, saat memberikan keterangan mengenai risiko cedera lutut yang mengintai para student-athlete di ajang Honda DBL with Kopi Good Day 2026 South Kalimantan di Banjarmasin. (dok Ferdian)
Fisioterapis olahraga Akhmad Ferdian, saat memberikan keterangan mengenai risiko cedera lutut yang mengintai para student-athlete di ajang Honda DBL with Kopi Good Day 2026 South Kalimantan di Banjarmasin. (dok Ferdian)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN – GOR Hasanuddin Banjarmasin tengah riuh oleh sorak penonton dan dentuman musik tribun. Honda DBL with Kopi Good Day 2026 South Kalimantan sedang berjalan penuh semangat, menghadirkan ratusan student-athlete yang berlompatan, berputar, dan berlari demi membawa nama sekolah mereka ke puncak. Namun di balik semua kemeriahan itu, ada satu bagian tubuh yang bekerja paling keras — dan paling rentan: lutut.

Fisioterapis olahraga Akhmad Ferdian, menyoroti hal ini dengan serius. Menurutnya, basket adalah olahraga yang menempatkan lutut pada tekanan yang sangat besar — kombinasi lompatan berulang, henti mendadak, dan putaran bertumpu satu kaki di atas lantai keras GOR menjadi formula yang berisiko tinggi bagi para pemain, terutama mereka yang masih berada di usia remaja.

"Lutut remaja tidak bisa diperlakukan sama seperti lutut atlet dewasa. Pada usia sekolah menengah, lempeng pertumbuhan masih aktif sementara tuntutan latihan meningkat tajam. Ditambah perubahan fisik di masa pubertas yang untuk sementara mengganggu koordinasi gerak, lutut remaja jauh lebih rentan dari yang banyak orang bayangkan," jelas Akhmad Ferdian, Minggu (9/8/2026)

Ia memaparkan tiga jenis cedera lutut yang paling sering mengintai para pebasket pelajar. Yang pertama adalah Jumper's Knee — peradangan pada tendon di bawah tempurung lutut akibat lompatan dan pendaratan yang berulang-ulang. Penelitian mencatat sekitar satu dari lima pebasket pernah mengalaminya, dengan angka yang lebih tinggi pada mereka yang bermain di lantai keras.

Yang kedua adalah Osgood-Schlatter, kondisi khas remaja yang ditandai dengan nyeri dan benjolan di tonjolan tulang kering tepat di bawah lutut, akibat tarikan berulang otot paha pada area pertumbuhan yang masih rapuh. Diperkirakan sekitar satu dari sepuluh remaja aktif pernah mengalaminya.

"Kedua kondisi ini kerap dianggap remeh karena si atlet masih bisa bermain. Padahal jika dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, kondisinya bisa semakin memburuk sepanjang turnamen," terang Akhmad Ferdian.

Cedera ketiga adalah yang paling ditakuti: robekan ligamen ACL. Yang mengejutkan, sebagian besar cedera ACL justru terjadi tanpa benturan dari lawan — melainkan saat mendarat, mengerem mendadak, atau berbelok dengan lutut yang hampir lurus. Akhmad Ferdian juga mengingatkan bahwa atlet perempuan memiliki risiko beberapa kali lipat lebih tinggi dibanding laki-laki, terutama karena perbedaan mekanika pendaratan.

Terkait tanda-tanda yang tidak boleh diabaikan, Akhmad Ferdian menyebut beberapa sinyal bahaya yang kerap dikompensasi diam-diam oleh para pemain muda. Bunyi "pop" disertai lutut yang mendadak goyah atau cepat membengkak perlu dicurigai sebagai cedera ligamen dan harus dievaluasi segera. Lutut yang terasa terkunci atau ada yang mengganjal bisa menandakan cedera meniskus. Nyeri di bawah tempurung lutut yang memburuk saat melompat dan tidak kunjung reda perlu segera mendapat perhatian.

"Prinsipnya sederhana: nyeri yang mengubah cara seseorang melompat, mendarat, atau berlari adalah tanda untuk diperiksa, bukan untuk dipaksakan demi melanjutkan pertandingan," tegasnya.

Namun Akhmad Ferdian juga membawa kabar baik. Sebagian besar cedera lutut sebenarnya bisa dicegah melalui latihan neuromuskular yang terstruktur. Dosisnya pun sangat realistis — cukup 10 hingga 15 menit, dua hingga tiga kali seminggu — mencakup pemanasan dinamis, penguatan otot paha, latihan keseimbangan, serta yang paling krusial: melatih teknik pendaratan dan perubahan arah agar lutut tidak "masuk ke dalam" saat menumpu.

"Program pencegahan seperti ini terbukti secara ilmiah mampu memangkas risiko cedera ACL hingga sekitar separuhnya. Dan yang menarik, usia peserta DBL berada tepat di jendela emas ketika latihan pencegahan memberi manfaat terbesar," ujarnya.

Di penghujung pesannya, Akhmad Ferdian mengingatkan bahwa menjaga lutut para student-athlete bukan hanya soal mempertahankan performa di turnamen. Ini adalah investasi jangka panjang yang dampaknya akan dirasakan jauh melampaui masa sekolah.

"Lutut yang sehat hari ini adalah investasi bagi masa depan — bukan hanya untuk karier olahraga, tetapi juga untuk kualitas hidup bertahun-tahun ke depan. Bila seorang atlet mengalami keluhan lutut selama musim ini, pendampingan fisioterapi sejak dini membantu memastikan penanganannya berangkat dari pemahaman yang benar — agar semangat bertanding tetap menyala tanpa harus dibayar mahal oleh cedera yang sebenarnya bisa dicegah," pungkas Akhmad Ferdian.

Editor : Arif Subekti
kalimantan selatan Kopi Good Day banjarmasin honda DBL