Simpan Jejak Sejarah dan Budaya, Ini 5 Cagar Budaya di Hulu Sungai Tengah

Jamaluddin Radar Banjarmasin • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 23:09 WIB
Masjid Al-A
Masjid Al-A'la

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) tidak hanya menyimpan keindahan alam, tetapi juga jejak sejarah dan budaya yang masih terjaga hingga kini. Sejumlah bangunan, situs, dan makam menjadi saksi perjalanan panjang masyarakat Murakata, mulai dari perkembangan Islam hingga perjuangan melawan penjajahan.

Berikut lima cagar budaya di HST yang menyimpan kisah penting dan menarik untuk diketahui. (mal)

Masjid Al-A'la

MASJID Al-A’la berada di Desa Jatuh Kecamatan Pandawan Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST). Didirikan pada pertengahan abad ke-17 Masehi.

Dalam bahasa Indonesia, Al-A’la artinya tinggi. Letak masjid ini memang lebih tinggi daripada jalan di depannya.

Kemudian masjid ini memiliki tradisi yang unik yaitu Batumbang. Tradisi ini dilaksanakan setiap hari raya Idulfitri. Para orang tua akan membawa balita atau anaknya untuk menjajaki setiap tangga mimbar. Diiringi selawat kepada nabi.

Masjid Al-A’la memang sudah terkenal. Masjid ini sudah dijadikan sebagai Cagar Budaya oleh pemerintah.

Masjid Masjid Ash Sulaha

Masjid Ash Sulaha berada di Kelurahan Barabai Barat, Kecamatan Barabai. Sebelumnya disebut Masjid Jami saja.

Masjid Masjid Ash Sulaha
Masjid Masjid Ash Sulaha

Masjid ini punya peran penting pada era perjuangan melawan penjajah Belanda.

Sebelum dinamakan masjid Ash Sulaha dulu namanya Masjid Jami. Namanya diubah pada tahun 1900-an ketika direlokasi. Ash Shulaha sendiri memiliki arti tempat berkumpulnya orang-orang saleh.

Masjid ini sudah beberapa kali direnovasi. Dari penggantian material hingga bentuk bangunan. Tempo dulu, masjid ini berarsitektur Jawa-Banjar. Tidak semodern sekarang.

Dahulu memiliki tiga atap bertingkat. Filosofinya, tingkat pertama bermakna syariat, kedua tarikat dan atap teratas adalah hakikat. Kini masjid ini hanya memiliki satu kubah.

Masjid Keramat

Masjid Keramat menjadi saksi bisu kejayaan penyebaran Islam di Bumi Murakata. Letaknya di Desa Pelajau, Kecamatan Pandawan, Hulu Sungai Tengah.

Masjid berarsitektur Jawa ini dibangun oleh utusan Kesultanan Demak. Masjid ini memiliki kubah sama persis dengan bangunan masjid pada masa Kesultanan Demak.

Masjid Keramat
Masjid Keramat

Ada kemiripan bentuk kubahnya. Sekilas mirip dengan bangunan awal Masjid Agung Demak pada masa kesultanan Demak. Masjid ini dibangun oleh para Wali Songo.

Masjid Keramat dibangun pada abad ke-14. Didirikan setelah Sultan Demak Raden Fatah mengutus beberapa orang melakukan penyebaran Islam di Tanah Banjar.

Utusan dari Pulau Jawa itu berjumlah tujuh orang datang ke Tanah Banjar dengan menyusuri Sungai Negara (Hulu Sungai Selatan). Kemudian ke Sungai Buluh dan Ilir Pemangkih (Hulu Sungai Tengah), sehingga sampai ke Sungai Palayarum di Desa Pelajau untuk melakukan perluasan Islam.

Sampai di Pelajau, para utusan kemudian membangun masjid. Konon Masjid Keramat ini menjadi salah satu masjid yang masuk daftar pengembangan Islam di Nusantara oleh Kerajaan Demak.

Kala itu Kesultanan Demak memulai penyebaran dan pengembangan Islam dengan mendirikan masjid. Masjid Keramat dipercaya menjadi masjid kelima dari sembilan masjid yang dibangun Kesultanan Demak.

Monumen Pertempuran Hawang

Pertempuran Hawang menjadi salah satu catatan perjuangan rakyat Hulu Sungai Tengah (HST) melawan Belanda. Peristiwa itu terjadi pada 21 Desember 1948 sekitar pukul 03.00 dini hari di Desa Hawang, Kecamatan Limpasu.

Pertempuran bermula ketika Pasukan Badik yang dipimpin H Damanhuri bersama Barisan Berani Mati (BBM) pimpinan Daeng Suganda merencanakan penyerangan terhadap pos Belanda di Paringin. Namun, rencana tersebut diketahui Belanda hingga pasukan pejuang dikepung.

Pertempuran berlangsung lebih dari 15 jam. Sebanyak 12 pejuang dan warga yang ikut berjuang gugur. Karena situasi masih berbahaya dan patroli Belanda berlangsung ketat, jasad mereka kemudian dikuburkan dalam satu liang di wilayah Barabai Darat.

Untuk mengecoh Belanda, makam tersebut hanya diberi satu batu nisan. Masyarakat kemudian mengenalnya sebagai “Kubur 12”.

Monumen Pertempuran Hawang
Monumen Pertempuran Hawang

Setelah agresi militer Belanda berakhir, makam tersebut dibongkar dan 12 jasad pejuang dimakamkan secara layak di Taman Makam Pahlawan Kesuma Bangsa, Desa Pagat, Kecamatan Batu Benawa.

Sebagai bentuk penghormatan sekaligus pengingat sejarah, Pemerintah Kabupaten HST membangun Monumen Pertempuran Hawang di Desa Hawang, Kecamatan Limpasu.

Makam Tumenggung Jayapati

Makam Tumenggung Jayapati di Desa Abung Jayapati, Kecamatan Limpasu, Hulu Sungai Tengah (HST), menjadi salah satu jejak sejarah penting Perang Banjar.

Jayapati dikenal sebagai pejuang yang memimpin sekitar 120 prajurit dan berulang kali terlibat pertempuran melawan Belanda bersama Demang Lehman pada 1860.

Makam Tumenggung Jayapati
Makam Tumenggung Jayapati

 

Belanda bahkan menetapkannya sebagai buronan dengan ancaman hukuman mati. Namun, Jayapati tak pernah tertangkap.

Kini, makam yang menyimpan kisah perjuangan tersebut masih dirawat oleh zuriah sekaligus juru kunci makam, Rahmadi.

Keberadaan makam dinilai memiliki nilai sejarah yang kuat dan layak mendapat perhatian sebagai bagian dari warisan sejarah daerah.

Makam Tumenggung Jayapati bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir seorang pejuang, tetapi juga pengingat perjuangan rakyat Hulu Sungai melawan penjajahan.

Editor : Arief M
Budaya hulu sungai tengah cagar budaya Sejarah