Makna Filosofis Rumah Bubungan Tinggi di Desa Tarangan Paringin Selatan

M Dirga • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 17:36 WIB
Rumah Bubungan Tinggi di Desa Tarangan Paringin Selatan
Rumah Bubungan Tinggi di Desa Tarangan Paringin Selatan

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Pembaca setia Radar Banjarmasin, menelusuri kekayaan budaya di Kalimantan Selatan rasanya kurang lengkap jika tidak menengok keanggunan arsitektur tradisionalnya. Di tengah pesatnya modernisasi, Kabupaten Balangan ternyata masih menyimpan sebuah mahakarya masa lampau yang berdiri kokoh hingga saat ini.

Mahakarya tersebut adalah Rumah Bubungan Tinggi yang berlokasi di Desa Tarangan, Kecamatan Paringin Selatan. Keberadaan rumah adat ini bukan sekadar tumpukan kayu tua biasa, melainkan bangunan cagar budaya milik Kabupaten Balangan yang telah ditetapkan sejak tahun 2011 silam. Di dalamnya tersimpan perabotan kuno seperti kursi tua, lemari jati, hingga ranjang besi berusia puluhan tahun yang masih terawat dengan baik.

Selain menyimpan jejak sejarah, bangunan ini memiliki nilai arsitektur yang luar biasa. Berikut sejumlah keunikan dan filosofi dari Rumah Bubungan Tinggi Tarangan yang patut Anda ketahui. (mud)

Simbol Status Sosial Masyarakat Banjar

Pada mulanya, rumah bertipe Bubungan Tinggi secara eksklusif diperuntukkan bagi Sultan dan keluarga kerajaan. Namun, setelah kolonial Belanda menghapus sistem Kesultanan Banjar, para saudagar atau orang kaya pada zaman dahulu mulai membangun rumah serupa sebagai simbol status sosial yang menyamai kedudukan kaum bangsawan.

Anatomi Lengkap Bertumpu Pada Pasak Ulin
Anatomi Lengkap Bertumpu Pada Pasak Ulin

Anatomi Lengkap Bertumpu Pada Pasak Ulin

Secara konstruksi, rumah ini murni mengandalkan ketangguhan kayu ulin dan sama sekali tidak menggunakan paku besi, melainkan dirangkai dengan sistem pasak. Menariknya, anatomi bangunan ini masih sangat komplit, mulai dari tangga, area depan atau penampik, ruang utama yang disebut palidangan, hingga bagian belakang yakni padu atau dapur dan pajijipan.

Filosofi Angka Ganjil Pada Anak Tangga
Filosofi Angka Ganjil Pada Anak Tangga

Filosofi Angka Ganjil Pada Anak Tangga

Untuk memasuki rumah ini, pengunjung harus melewati tujuh anak tangga. Jumlah ganjil ini sengaja dipilih karena dianggap membawa kebaikan bagi masyarakat Banjar. Secara fungsional dan filosofis, jika langkah pertama menginjakkan kaki kanan, maka saat tiba di atas langkah pertamanya pasti menggunakan kaki kanan pula.

Tiga Simbol Alam Semesta
Tiga Simbol Alam Semesta

Tiga Simbol Alam Semesta

Desain rumah panggung yang tinggi pada dasarnya berfungsi untuk menghindari genangan banjir dari sungai yang berada di dekatnya. Namun secara filosofis, rumah ini terbagi menjadi tiga bagian yang melambangkan alam semesta. Bagian kolong atau barumahan menandakan alam bawah, badan rumah sebagai alam manusia, dan atapnya yang selalu menjulang tinggi merepresentasikan alam langit.

Watun Sebagai Grafik Siklus Kehidupan

Berbeda dengan rumah modern, bangunan ini tidak memiliki sekat kamar masif, ruang privasi hanya dibatasi oleh kelambu. Setiap perpindahan ruangan ditandai dengan undakan menyerupai tangga yang disebut watun. Undakan ini melambangkan grafik tahapan kehidupan manusia. Dimulai dari ruangan depan yang perlahan naik hingga mencapai puncaknya di palidangan, tempat di mana aktivitas utama, ibadah, ritual, hingga pernikahan dilangsungkan. Setelah itu, undakan kembali menurun menuju area dapur sebagai simbol akhir dari tahapan kehidupan.

Watun Sebagai Grafik Siklus Kehidupan
Watun Sebagai Grafik Siklus Kehidupan

 

Keberadaan Rumah Bubungan Tinggi di Tarangan ini menjadi bukti bahwa Kabupaten Balangan memiliki kekayaan sejarah budaya dan kearifan lokal yang tak ternilai harganya. Diharapkan kelestariannya terus terjaga dan mendapat perhatian berkelanjutan, sehingga bisa terus menjadi sarana edukasi sejarah bagi generasi mendatang.

Bagi Anda yang menyukai wisata edukasi budaya dan ingin melihat langsung bukti kebesaran arsitektur Banua, menyempatkan diri singgah ke Desa Tarangan adalah sebuah pilihan akhir pekan yang sangat tepat.(mud)

Editor : Arief
Budaya arsitektur Balangan