Aroma garam dan amis laut menyeruak kuat di Desa Rampa, Kecamatan Pulau Laut Utara, saat matahari baru saja sepenggalah naik. Di antara hutan tiang kayu ulin yang menopang rumah-rumah panggung diatas air, denyut kehidupan Suku Bajau Samah mulai berderu.
Bagi mereka, laut bukan sekadar pemandangan, melainkan urat nadi yang tak bisa dipisahkan dari napas kehidupan.
Salah satu potret ketangguhan itu ada pada sosok Arifin. Pria ini adalah satu dari ribuan warga keturunan Bajau. Sebagai keturunan Sang Pengembara Laut, Arifin mewarisi etos kerja yang keras, pantang berdiam diri selama ombak masih memanggil.
Keseharian di Desa Rampa adalah simfoni mesin kapal dan debur air. Aktivitas melaut warga disini sangat beragam, mencerminkan kekayaan teknik yang diwariskan turun-temurun.
Dari cerita legenda Putri Pa’pu yang hilang hingga akhirnya mereka menetap di Bumi Sa-Ijaan, keahlian menaklukkan samudera tetap terjaga.
“Aktivitas kami macam-macam. Ada yang pakai Pancing Rawai dengan ratusan mata kail, ada pancing tonda, ada juga yang meng-gondrong (menangkap cumi). Tapi yang paling aktif sekarang adalah Jaring Hela Dasar,” tutur Arifin.
Di atas kapal kayu yang bergoyang pelan, para nelayan ini bertaruh nasib. Jaring yang disapu ke dasar perairan menjadi harapan tunggal untuk membawa pulang rupiah demi menghidupi keluarga di daratan.
Bagi masyarakat Bajau Samah, perjuangan tidak berhenti saat kapal bersandar di dermaga. Justru, persiapan untuk hari esok dimulai sesaat setelah kaki menginjak daratan. Prinsip mereka sederhana, jangan biarkan alat tangkap rusak saat musim ikan tiba.
Begitu kapal merapat, tangan-tangan kekar para nelayan langsung sigap. Jaring yang robek segera disulam kembali, mesin kapal yang menjadi jantung utama dicek saksama. Kunci inggris dan oli menjadi kawan setia setelah seharian memegang kemudi.
"Intinya, pulang melaut langsung cek kondisi peralatan. Di laut, persiapan adalah nyawa. Kalau ada yang rusak, ya harus segera diperbaiki hari itu juga," tegasnya.
Di sudut lain desa, peran perempuan tak kalah penting. Ikan-ikan segar hasil tangkapan dipilah dengan cepat. Sebagian langsung masuk ke tengkulak, sebagian lagi diletakkan di atas lanjung-lanjung untuk dikeringkan.
Ikan asin Desa Rampa bukan sekadar komoditas, melainkan simbol keberlangsungan ekonomi yang sudah tersohor kualitasnya. Menariknya, meski kehidupan orang dewasa di Desa Rampa tampak keras dan penuh disiplin, anak-anak mereka tumbuh dengan keceriaan yang jujur. Di sini, laut adalah taman bermain paling mewah.
Saat air laut surut, lapangan tanah di pinggir desa akan penuh dengan anak-anak yang asyik bermain bola atau mengejar layang-layang. Namun, suasana paling meriah justru terjadi saat pasang datang. Air yang merangkak naik ke kolong-kolong rumah panggung seolah menjadi kolam renang raksasa.
Dengan tawa lepas, mereka melompat dari jembatan kayu, berenang dengan lincah seolah air adalah elemen alami mereka sejak lahir. Inilah filosofi Samah sama rata, tanpa kasta. Di atas air, semua anak Bajau memiliki kegembiraan yang sama.
Desa Rampa tetap berdiri kokoh sebagai benteng terakhir tradisi bahari di Kotabaru. Di mana orang-orang seperti Arifin terus menjaga ritme kehidupan di atas gelombang, memastikan identitas Suku Bajau tak luntur ditelan zaman.
HASIL LAUT
WARUNG RAMPA:
PERAHU NELAYAN:
TERPAKIR RAPI:
KESEHARIAN NELAYAN: