Mengenal ragam pakaian adat Kalimantan Selatan menjadi pintu masuk memahami kekayaan budaya Banua yang sarat makna.
Setiap busana bukan sekadar penutup tubuh, tetapi simbol identitas, nilai sejarah, hingga pengaruh budaya yang membentuk masyarakat setempat.
Berbeda dengan sejumlah provinsi di Pulau Kalimantan yang didominasi suku Dayak, Kalimantan Selatan mayoritas penduduknya berasal dari suku Banjar.
Dominasi inilah yang memengaruhi corak budaya daerah, termasuk busana adat yang berkembang hingga kini.
Selain dipengaruhi budaya Banjar, pakaian adat Kalimantan Selatan juga mendapat sentuhan budaya luar, mulai dari Hindu, Jawa, Bugis, Tionghoa, hingga Timur Tengah.
Perpaduan tersebut menjadikan busana adat Banua tampil unik dan berkarakter.
BAGAJAH GAMULING BAULAR LULUT
Bagajah Gamuling Baular Lulut merupakan salah satu pakaian adat Kalimantan Selatan dengan nama yang unik.
Busana tradisional ini umumnya dikenakan pada prosesi pernikahan adat Banjar.
Bagajah Gamuling Baular Lulut merupakan tata rias pengantin Banjar pada masa peralihan antara Hindu dan Islam.
Jenis tata rias pengantin ini tercatat termasuk salah satu yang tertua yang ada di nusantara.
Mulai ditemukan di abad ke 15 dan saat itu hanya dipakai untuk keturunan raja dan kalangan bangsawan.
Pada bentuk aslinya mahkota Gajah Gamuling milik raja dibuat dari emas dan bertahtakan intan permata disatukan oleh dua batang logam emas yang dibentuk seperti Ular yang melilit sehingga disebut Ular lulut. Saat ini mahkota Gajah Gamuling Baular Lulut hanya terbuat dari logam kuningan.
Mahkota berbentuk ular meliuk mengelilingi kepala, yang mana jenis mahkota seperti ini umum dipakai bangsawan pada zaman tersebut.
Jenis mahkota dan pakaian seperti ini juga tersebar di beberapa negara di antaranya Muangthai (Thailand sekarang), Champa (Vietnam Selatan sekarang), dan Cambodia.
Desainnya berbeda antara mempelai pria dan wanita, namun tetap serasi dalam balutan warna yang sama.
Selain dipengaruhi adat Banjar, busana ini juga mendapat sentuhan budaya Hindu.
Pengantin wanita mengenakan gaun berhias payet, dilengkapi ikat pinggang dan mahkota. Mahkota tersebut dirangkai dari kuncup melati, mawar, dan clematis. Bagian bawah berupa kain panjang yang dibentuk menyerupai rok.
Sementara itu, pengantin pria tampil bertelanjang dada tanpa baju. Ia mengenakan celana sebatas betis yang dibalut kain senada, serta ikat pinggang.
Aksesori pelengkap berupa kalung samban dan penutup kepala berbentuk mahkota melingkar menyerupai ular.
Ciri khas busana ini terletak pada penggunaan rangkaian bunga melati dan mawar sebagai hiasan utama. Perpaduan tersebut memberikan kesan anggun dan sakral pada prosesi pernikahan adat Banjar.
BAAMUR GALUNG PANCAR MATAHARI
Busana adat Kalimantan Selatan yang kerap dikenakan dalam prosesi pernikahan adat Banjar.
Namanya yang unik mencerminkan tampilan busana ini yang cerah dan gemerlap, layaknya pancaran sinar matahari.
Busana ini telah dikenal sejak lama di kalangan masyarakat Banjar dan hingga kini masih lestari digunakan.
Dominasi warna-warna terang menjadi ciri utama, menghadirkan kesan mewah dan berkilau bagi pasangan pengantin.
Pengaruh budaya Hindu tampak jelas pada penggunaan mahkota serta kain bermotif naga dan kelabang. Motif tersebut dikenal dengan sebutan halilipan.
Sementara itu, sentuhan budaya Jawa hadir melalui aksesori bunga mawar dan melati yang melengkapi busana.
Pada mempelai pria, busana terdiri dari kemeja lengan panjang dengan hiasan renda di bagian dada. Kemeja ini dipadukan dengan jaket terbuka berwarna senada serta celana panjang.
Di bagian pinggang, dikenakan kain bermotif halilipan yang dililitkan dengan ikat pinggang atau tali.
Adapun mempelai wanita mengenakan baju poko berlengan pendek yang dihiasi rumbai manik-manik.
Bagian dada ditutup dengan kida berbentuk segi lima yang menambah kesan anggun.
Makna “pancar matahari” menggambarkan harapan agar pengantin memancarkan kebahagiaan dan cahaya dalam kehidupan rumah tangga.
Tak heran, busana ini menjadi pilihan masyarakat Banjar yang menginginkan tampilan pengantin yang elegan, cerah, dan penuh pesona.
PAKAIAN ADAT TANAH BUMBU
Pakaian adat ini sempat menjadi perhatian nasional setelah dikenakan Presiden Joko Widodo pada peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2022.
Sejak itu, busana khas Kalimantan Selatan ini semakin dikenal luas masyarakat.
Busana adat Tanah Bumbu berasal dari masyarakat Pagatan, sebuah kelurahan di Kabupaten Tanah Bumbu yang mayoritas penduduknya bersuku Bugis. Identitas Bugis tampak kuat pada desain dan kelengkapan busana yang dikenakan.
Ciri utama pakaian adat ini adalah penggunaan kain tenun Pagatan sebagai sarung, serta laung atau penutup kepala.
Pada masa lalu, sarung tenun Pagatan hanya dikenakan kalangan bangsawan Bugis, menandakan status sosial pemakainya.
Tak sekadar indah, setiap bagian busana memiliki makna filosofis. Sarung melambangkan manusia yang terampil dan pekerja keras. Laung menjadi simbol kewibawaan dan keperkasaan.
Bagian dalam busana yang disebut teluk bahana merepresentasikan karakter Nusantara yang religius.
Sementara bagian luar berupa cekak musang tanpa kancing bermakna budi pekerti luhur serta sikap saling menghargai perbedaan.
Celana melambangkan kesetiaan, ikat pinggang mencerminkan kesederhanaan, dan hiasan kembang emas di dada kiri menjadi simbol pemimpin yang bijaksana.
Perpaduan unsur sejarah, identitas Bugis, serta nilai filosofis menjadikan pakaian adat Tanah Bumbu bukan sekadar busana, melainkan cerminan karakter masyarakat pesisir Kalimantan Selatan.
BABAJU KUN GALUNG PACINAN
Babaju Kun Galung Pacinan merupakan salah satu busana adat Kalimantan Selatan, yang pertama kali diperkenalkan pada abad ke-19 dan masih dilestarikan hingga kini, khususnya dalam prosesi pernikahan adat Banjar.
Keunikan busana ini terletak pada perpaduan budaya Timur Tengah dan Tionghoa. Sentuhan dua budaya tersebut menjadikan Babaju Kun Galung Pacinan tampil berbeda dibandingkan busana adat lainnya, baik dari segi warna maupun detail hiasan.
Pada pengantin pria, busana yang dikenakan berupa gamis dan jubah menyerupai pakaian saudagar Gujarat yang datang ke Nusantara pada masa lampau.
Sebagai penutup kepala, digunakan kopiah alpe yang dililit sorban atau tanjak laksamana. Leher dihiasi roncean bunga melati, sementara alas kaki berupa selop.
Sementara itu, pengantin wanita mengenakan kebaya lengan panjang bergaya cheongsam. Kebaya ini tampak mewah karena dihiasi payet benang emas yang dibentuk menyerupai bunga teratai.
Bagian bawah berupa rok panjang berhiaskan manik-manik dan sulaman motif tirai bambu.
Aksesori pelengkap turut memperkuat karakter busana. Mempelai wanita mengenakan mahkota bertabur permata, kembang goyang, serta tusuk konde.
Menariknya, tusuk konde tersebut tidak dibuat sembarangan, melainkan berbentuk huruf Lam dalam aksara Arab dan burung Hong, sebagai simbol pengaruh budaya Islam dan Tionghoa.
Perpaduan unsur Timur Tengah dan Tionghoa inilah yang menjadikan Babaju Kun Galung Pacinan bukan sekadar busana pengantin, tetapi juga cerminan akulturasi budaya yang telah lama berkembang di Kalimantan Selatan.
KUBAYA PANJANG
Kubaya Panjang merupakan salah satu pakaian adat Kalimantan Selatan yang berkembang dari beberapa busana tradisional sebelumnya, seperti Baamur Galung Pancar Matahari, Babaju Kun Galung Pacinan, dan Bagajah Gamuling Baular Lulut.
Busana ini kental dengan nuansa Islami khas Melayu, dengan model menyerupai baju Melayu.
Pada pengantin pria, busana terdiri dari laung tajak siak sebagai penutup kepala, jam raskop, jas tutup model cekak musang atau telung belanga, serta sabuk atau sarung yang dipadukan dengan salwar.
Sementara itu, pengantin perempuan mengenakan kebaya panjang yang dipadukan kain panjang atau rok dengan motif serasi dengan kain yang dikenakan mempelai pria.
Sebagaimana busana pengantin Banjar lainnya, Kubaya Panjang dilengkapi aksesori roncean bunga melati dan mawar.
Rangkaian bunga ini menjadi ciri khas yang hampir selalu hadir dalam pakaian adat Kalimantan Selatan.
Awalnya, busana ini digunakan khusus untuk prosesi pernikahan adat. Namun seiring perkembangan zaman, Kubaya Panjang juga mulai dikenakan dalam berbagai acara besar dan kegiatan penting lainnya.
Munculnya desain pengantin Banjar Baamur Galung versi modifikasi menandai perkembangan busana adat Banjar yang terus mengikuti tren mode.
Meski dimodifikasi, bentuknya tetap berpijak pada pakem adat dan tidak menghilangkan unsur keindahan tradisi yang berlaku.
Pada versi modifikasi, mempelai pria tetap mengenakan busana yang sama, sementara mempelai wanita yang sebelumnya menggunakan gaun lipit beralih ke kebaya panjang.
Penyesuaian ini dilakukan bagi mereka yang ingin menonjolkan nuansa Islami.
Tak jarang pula kebaya panjang dipadukan dengan selendang serta mahkota atau amar sebagai hiasan kepala.
Meski tampil lebih modern, busana ini tetap mempertahankan aksesori bunga melati dan mawar sebagai identitas utama.
Hingga kini, Kubaya Panjang masih populer dan sering dipilih pasangan yang ingin menggelar pernikahan bernuansa Banjar.
Busana ini menjadi bukti bahwa tradisi dapat terus hidup dan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.
KAIN SASIRANGAN
Selain ragam pakaian adat, Kalimantan Selatan juga memiliki kain tradisional yang menjadi produk budaya khas Banua, yakni kain sasirangan.
Kain ini menyimpan nilai sejarah dan filosofi yang kuat, bahkan dipercaya memiliki makna spiritual.
Dalam Hikayat Banjar, kain sasirangan disebut sudah ada sejak abad ke-7 dengan nama kain Langgundi.
Kisahnya berawal dari Patih Lambung Mangkurat dari Kerajaan Dipa yang bertapa di atas rakit, mengikuti aliran sungai selama 40 hari 40 malam untuk mencari raja.
Perjalanannya berujung di Kecamatan Rantau Kota Bagantung. Di sana, ia mendengar suara perempuan dari gumpalan buih. Sosok itu adalah Putri Junjung Buih.
Sang putri bersedia turun ke alam manusia dengan syarat dibangunkan istana dan dibuatkan kain panjang oleh 40 gadis dalam satu hari.
Permintaan itu dipenuhi. Putri Junjung Buih kemudian muncul mengenakan kain kuning Langgundi dan dinobatkan sebagai ratu Kerajaan Dipa.
Sejak itulah kain Langgundi dikenal luas, yang kini berkembang menjadi kain sasirangan.
Secara turun-temurun, kain sasirangan dipercaya memiliki kekuatan magis. Kain ini digunakan sebagai media penyembuhan dan perlindungan dari gangguan roh jahat.
Karena dibuat berdasarkan permintaan khusus, kain ini juga disebut kain pamintan.
Pada masa lalu, orang sakit akan diarahkan tabib untuk mendatangi pembuat kain. Sasirangan kemudian dibuat sesuai kebutuhan sebagai sarana pengobatan penyakit yang sulit disembuhkan.
Nama sasirangan berasal dari kata sirang atau nyirang, yang berarti mengikat atau menjahit dengan tangan, lalu menarik benang sebelum proses pewarnaan.
Teknik inilah yang menghasilkan motif khas pada kain, seperti:
- Sarigading
- Ombak sinapur karang
- Hiris pudak
- Bayam raja
- Kambang kacang
- Naga balimbur
Dahulu, kain sasirangan lebih banyak digunakan sebagai pelengkap busana adat, seperti laung atau ikat kepala pria, sabuk, tapih bumin (sarung pria), selendang perempuan, kerudung, udat (kemben), hingga kakamban.
Kini, fungsi kain sasirangan semakin berkembang. Kain ini digunakan sebagai pakaian adat oleh berbagai kalangan, terutama saat mengikuti upacara adat dan acara budaya.
Keberadaannya menjadi simbol identitas sekaligus kebanggaan masyarakat Kalimantan Selatan.
Kapan Pakaian Adat Dikenakan
Pakaian adat Kalimantan Selatan melekat erat dengan nilai sejarah dan budaya yang diwariskan turun-temurun.
Ragam warna dan motif tradisional menjadi simbol identitas serta kebanggaan masyarakat Banua.
Busana adat dikenakan dalam berbagai momen penting, mulai dari upacara adat, perayaan keagamaan, pernikahan, hingga festival budaya.
Pada ritual tradisional, pakaian adat menjadi penanda jati diri sekaligus bentuk penghormatan terhadap leluhur.
Dalam pernikahan, pakaian adat menjadi elemen utama. Pengantin dan keluarga mengenakannya sebagai wujud kebanggaan terhadap adat Banjar, termasuk saat prosesi penyambutan tamu.
Busana tradisional juga kerap tampil dalam ajang budaya seperti Festival Budaya Banjar dan Festival Loksado sebagai sarana promosi kekayaan tradisi Kalimantan Selatan.
Tak hanya pada acara formal, sebagian masyarakat juga mengenakan pakaian adat dalam kegiatan keluarga atau pertemuan sosial sebagai upaya pelestarian budaya.
Dari ragam tersebut, pakaian adat Kalimantan Selatan bukan sekadar busana tradisional, tapi sudah menjadi simbol identitas, kebanggaan, sekaligus cerminan kekayaan budaya Banua yang terus dijaga hingga kini. (zkr)
Editor : Arief