Di tengah hiruk-pikuk Kota Martapura, enam meriam besi berjejer kokoh di beberapa titik strategis sekitar Pendopo Mahligai Sultan Adam dan sekitarnya.
Bagi sebagian orang, benda-benda itu mungkin sekadar artefak tua yang diam membisu.
Namun sesungguhnya, keenam meriam tersebut adalah saksi bisu kejayaan militer dan pemerintahan Kesultanan Banjar berabad-abad silam.
Di Depan Halaman Pendopo Mahligai Sultan Adam
Berdiri kokoh di ujung kiri halaman depan Pendopo Mahligai Sultan Adam, sebuah meriam tua menjadi penanda kuatnya jejak sejarah Kesultanan Banjar di jantung Kota Martapura.
Besi hitam berumur ratusan tahun itu masih tegak menatap lurus ke arah jalan raya, seolah menjaga kehormatan istana lama yang kini menjadi rumah jabatan Bupati Banjar.
Meriam dengan panjang 290 sentimeter dan kaliber 11 sentimeter ini dipercaya sebagai salah satu senjata asli milik Kesultanan Banjar.
Meski polos tanpa ornamen, meriam ini memiliki nilai sejarah tinggi karena menjadi bukti nyata eksistensi kekuatan pertahanan kerajaan pada masa itu.
Penempatan meriam di halaman depan pendopo bukan kebetulan. Ini lokasi simbolik, menggambarkan posisi sultan sebagai pusat pemerintahan sekaligus penjaga kedaulatan.
Kini, meriam itu tetap terawat rapi di bawah rindangnya pohon halaman pendopo. Meski tak lagi menggelegar, keberadaannya menegaskan bahwa Martapura bukan sekadar kota santri, melainkan juga kota dengan akar sejarah kerajaan yang dalam.
Di Depan Halaman Pendopo Mahligai Sultan Adam
Tak banyak yang tahu, meriam besar yang kini berdiri di tengah halaman depan Pendopo Mahligai Sultan Adam dulunya ditemukan di kawasan Pasar Bumi Cahaya Selamat, Martapura.
Penemuan itu terjadi pada 2004, tak jauh dari tepian Sungai Martapura, wilayah yang dalam toponimi lama dikenal sebagai Murung Kraton, atau kawasan istana.
Dengan panjang 282 sentimeter dan kaliber 13 sentimeter, meriam berbahan besi polos ini diyakini sebagai salah satu alat pertahanan Kesultanan Banjar.
Bentuknya kokoh dan berat, menandakan fungsi ganda sebagai senjata serang sekaligus pertahanan statis.
Keberadaan meriam ini di jantung kota menegaskan bahwa Martapura dahulu bukan hanya pusat perdagangan, tapi juga pusat militer kerajaan.
Temuan di kawasan pasar lama ini memperkuat bukti bahwa aktivitas istana dan pemerintahan dulu berpusat di sekitar Sungai Martapura.
Kini, meriam itu kembali pulang ke rumahnya, berdiri di depan pendopo sebagai simbol kembalinya sejarah Banjar ke tempat asalnya.
Di Depan Halaman Pendopo Mahligai Sultan Adam
Tak jauh dari dua rekannya di halaman depan Pendopo Mahligai Sultan Adam, berdiri satu lagi meriam yang dulunya memegang peran istimewa.
Meriam ini bukan sembarang senjata, ia adalah alat upacara di Kesultanan Banjar.
Pada masa kejayaan Kesultanan Banjar, meriam ini dibunyikan setiap kali sultan dinobatkan, atau ketika tamu-tamu penting dari kerajaan lain datang berkunjung.
Dentuman kerasnya dulu menandai kebesaran dan kewibawaan istana.
Kini, benda sepanjang 283 sentimeter dengan kaliber 12 sentimeter itu berdiri diam di ujung kanan halaman pendopo.
Terbuat dari besi tanpa ornamen, meriam ini melambangkan kesederhanaan sekaligus kekuatan khas Banjar.
Meski suaranya telah lama padam, posisinya masih sama, yakni menghadap ke arah kota, seakan terus mengawal Martapura dari masa ke masa.
Meriam ini saksi upacara kebesaran sultan, dan keberadaannya di halaman pendopo adalah penghormatan terhadap sejarah.
Di Depan Kantor Disbudporapar Banjar
Di depan kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjar, sebuah meriam besar menjadi pemandangan yang mencuri perhatian.
Ditempatkan dalam monumen permanen, benda ini bukan sekadar logam tua, melainkan simbol pelestarian sejarah.
Meriam besi sepanjang 290 sentimeter dengan kaliber 11 sentimeter ini ditemukan di pusat kota Martapura.
Bentuk dan bahannya identik dengan meriam-meriam di sekitar Pendopo Mahligai Sultan Adam, yang menunjukkan asal usulnya dari masa Kesultanan Banjar.
Keberadaan meriam ini memperkuat narasi bahwa pusat pemerintahan kerajaan Banjar tidak hanya terbatas di sekitar pendopo, tetapi juga meluas ke kawasan administratif di sekitarnya.
Dinas Kebudayaan menempatkan meriam ini dalam monumen untuk memastikan generasi muda tahu, bahwa benda seperti ini bukan sekadar besi tua, tapi simbol perjuangan dan kebesaran Banjar.
Kodim 1006/Banjar Martapura
Meriam besi di depan Kodim 1006 Martapura menjadi bukti kesinambungan antara semangat militer Kesultanan Banjar dengan pertahanan nasional masa kini.
Di depan Markas Kodim 1006 Martapura, satu meriam besi tua berdiri gagah di antara bendera dan monumen.
Ukurannya tak sebesar meriam di pendopo, tapi maknanya dalam: simbol kesinambungan kekuatan militer Banjar dari masa lalu ke masa kini.
Meriam sepanjang 168 sentimeter dengan kaliber 8 sentimeter ini ditemukan di pusat kota Martapura dan kini ditempatkan di monumen depan markas Kodim.
Bentuknya polos, terbuat dari besi padat tanpa inskripsi khas meriam buatan lokal pada masa Kesultanan Banjar.
“Meriam ini menjadi simbol yang tepat. Dari dulu hingga sekarang, Martapura selalu punya semangat juang dan pertahanan yang kuat,” ujar seorang anggota TNI setempat.
Kini, di bawah kibaran Merah Putih, meriam tua itu berdiri tegak.
Di Depan Kodim 1006 Martapura
Di depan Markas Kodim 1006 Martapura, berdiri kokoh sebuah meriam besi tua di atas monumen permanen Meriam Besi (06), peninggalan penting dari masa kejayaan Kesultanan Banjar.
Dengan panjang 168 sentimeter dan kaliber 8 sentimeter, meriam ini tampak sederhana, namun menyimpan makna besar.
Terbuat dari besi tanpa inskripsi dan ornamen, bentuknya polos namun padat, menggambarkan karakter senjata lapangan yang kuat dan fungsional.
Sejarawan lokal meyakini, meriam ini dulunya merupakan bagian dari sistem pertahanan Kesultanan Banjar yang tersebar di sekitar ibu kota kerajaan di Martapura.
Penempatan meriam di depan Kodim Martapura kini jadi simbol dari masa kerajaan hingga era modern, Martapura selalu menjadi pusat kekuatan dan pertahanan Banjar.
Jika dulu meriam ini dijaga para prajurit sultan, kini ia berdiri di bawah pengawasan prajurit TNI, meneruskan tradisi penjagaan negeri dalam bentuk berbeda.
Meski berusia ratusan tahun, kondisi meriam masih terawat. Warnanya menghitam legam, serasi dengan alas monumennya yang dibuat oleh pemerintah daerah sebagai bentuk pelestarian warisan sejarah.
Meriam ini bukan sekadar besi tua. Ia saksi perjalanan panjang Martapura sebagai kota kerajaan sekaligus pusat pertahanan.
Kini, Meriam Besi (06) berdiri diam di sisi kanan markas militer, kehadirannya jadi pesan semangat juang dan daya pertahanan Banjar tidak pernah padam.
Editor: Arif Subekti
Editor : Arief