Aruh Pisit Padi disebut juga aruh penutup dari siklus bercocok tanam Suku Dayak di sana, sekaligus persiapan menghadapi musim tanam berikutnya.
Warga setempat, Ardi mengatakan aruh tersebut menjadi tradisi tahunan yang wajib diadakan.
"Aruh ini sebagai bentuk syukur kepada tuhan yang Maha Esa karena telah diberikan rezeki dan kesehatan," ujarnya, Rabu (17/7/2024).
Aruh ini ditandai dengan penyimpanan padi atau beras hasil panen ke dalam lumbung yang disebut lulung.
Uniknya dalam pelaksanaan terpadat sesaji atau piduduk seperti ketan, kelapa, hasil alam dan janur. Ada juga bambu yang dianyam sebagai tempat peletakan sesajen.
Dalam aruh itu, warga akan batandik (menari) mengelilingi sesaji diiringi tabuhan gendang. Kemudian tokoh adat atau orang yang dituakan membacakan doa dalam bahasa balian.
"Doa-doa dipanjatkan memohon agar musim tanam selanjutnya lebih baik," tambahnya.
Aruh ini digelar setiap bulan Juli. Waktunya selama satu hari dua malam. Di Desa Hinas Kiri, aruh ini telah dilaksanakan pada 7-8 Juli 2024 kemarin.
Pada malam pertama dilaksanakan di rumah warga masing-masing. Malam berikutnya di balai adat diikuti para umbun (kepala keluarga).
"Hari pertama itu pamali, tubuh manusia yang melaksanakan aruh atau umbun. Hari kedua pamali di lulung (kindai/lumbung padi) yang melaksanakan aruh," ungkapnya.
Dalam kepercayaan masyarakat Dayak Meratus, semua aktivitas yang mereka lakukan terhubung dengan tuhan dan roh para leluhur.
Tanaman padi adalah contoh ciptaan yang suci, sehingga dalam proses menanamnya perlu diawali secara sungguh-sungguh dengan aruh.
Editor : Muhammad Syarafuddin