Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Situs Era Hindia Belanda di Tahura

Sheilla Farazela • Sabtu, 17 Februari 2024 | 04:40 WIB
Photo
Photo

Bertemu hal-hal baru dan menyegarkan kembali otak dari padatnya jadwal pekerjaan, Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam Mandiangin Kabupaten Banjar dapat menjadi salah satu tujuan rekreasi di akhir pekan.

Tahura Sultan Adam Mandiangin yang memiliki luas lahan sekira 113 ribu hektare ini terdapat beberapa situs peninggalan Pemerintah Hindia Belanda.

Jika ingin ke Tahura, jaraknya hanya sekitar 27 kilometer dari pusat Kota Banjarbaru dan sekitar 80 kilometer dari Kota Banjarmasin.

Selain merasakan sensasi di puncak tahura Mandiangin era Hindia Belanda, pengunjung juga dapat menikmati spot-spot lainnya di Tahura Sultan Adam Mandiangin.

Seperti Taman Konservasi Anggrek, Camping Ground, Permainan Anak-Anak, Taman Kelinci, Studio Geopark dan Habituasi Satwa Endemik. Bagi pengunjung yang suka adrenalin juga dapat menikmati olahraga paralayang yang disewakan dengan instruktur berpengalaman.

Kolam Renang (Zwembad) Mandiangin

Tidak jauh dari pintu gerbang Tahura Mandiangin, terdapat kolam renang peninggalan Pemerintah Hindia Belanda yang airnya mengalir langsung dari mata air pegunungan. Kolam berukuran sekira 30×50 meter tersebut dikenal sebagai Kolam Belanda dan sampai sekarang masih dapat digunakan untuk mandi ataupun berenang para pengunjung.

Photo
Photo

Ketika berada di puncak Mandiangin, terdapat situs peninggalan Belanda yang kini dijadikan villa dengan arsitektur bangunan bergaya Eropa dan terdapat bangunan kincir angin ala Belanda. Di sanalah pengunjung dapat menginap.

Dalam sejarahnya, bangunan itu dulunya dijadikan sebagai Pesanggrahan atau tempat peristirahatan yang sering dikunjungi Ambtenar (pejabat pemerintah) Hindia Belanda kala itu.

Garasi mobil

Di sekitar villa terdapat garasi mobil yang dibangun satu zaman dengan Pesanggrahan yaitu sekira tahun 1939.

Photo
Photo

Garasi bermaterial beton tersebut menurut sejarahnya digunakan Ambtenar Hindia Belanda untuk meletakan mobil saat ke Puncak Mandiangin.

Menginap di Puncak Tahura

Bagi pengunjung yang menginginkan sensasi bermalam di puncak Tahura Sultan Adam Mandiangin dapat memilih dua opsi yaitu menyewa villa atau membangun tenda.

Photo
Photo

Villa yang disediakan dapat disewa dengan harga mulai Rp500 ribu untuk kamar standar dan fasilitas bak menginap di hotel. Pengunjung akan disuguhi asrinya bentang pegunungan

Habituasi Satwa Endemik

Ada beberapa jenis binatang yang dilestarikan keberadaannya yakni, Rusa Sambar, Binturung (jenis musang), Berung madu, kera dan lain sebagainya.

Photo
Photo

Untuk Rusa Sambar yang merupakan bagian binatang dari pegunungan Meratus, kini jumlahnya sudah puluhan ekor berkembang biak.

Binturung atau jenis musang yang berekor besar dan bertubuh besar, dengan panjang antara 60 sampai 95 cm dan berat antara 6 sampai 20 kg.

Kemudian Beruang Madu, salah satu koleksi habituasi Satwa endemik Tahura Sultan Adam yang juga bertubuh cukup besar, yakni, panjang tubuh 1,40 m, tinggi punggung 70 cm, dengan berat berkisar 50 sampai 65 Kg.

Pesona Paralayang di Tahura

Pengunjung juga dapat menikmati keindahan Tahura melalui jalur udara menggunakan Paralayang yang tersedia di Tahura Sultan Adam.

Photo
Photo

Landasan pacu paralayang ini juga kerap dinikmati pengunjung sebagai spot foto dan tempat nongkrong menikmati sunrise.

Editor : Arief
#Tahura #Destinasi #BanuaPedia #Sejarah