Di Bumi Sa-ijaan tidak hanya terkenal dengan wisata alamnya. Banyak sekali potensi yang lain yang membuat orang dari luar Kotabaru datang ke daerah ini.
Salah satunya adalah makam-makam bersejarah. Mulai dari makam peninggalan kerajaan sampai dengan makam peninggalan penjajahan Belanda.
Dalam edisi Banua Pedia kali ini, Radar Banjarmasin akan menampilkan lima makam yang sering dikunjungi di Kotabaru.
Makam Pangeran Jaya Sumitra
Pangeran Jaya Sumitra adalah Raja Pertama Kerajaan Pulau Laut. Makamnya terletak di Kompleks Makam Kerajaan Pulau Laut di Desa Sigam. Dari pusat kota Kabupaten Kotabaru memakan waktu sekira 10 menit menuju arah Pantai Gedambaan Kotabaru.
Setiap harinya, banyak peziarah yang datang ke sana. Ada yang dari Banjarmasin, Samarinda dan kota lain di Kalimantan.
Makam Muhammad Aliuddin Aminullah
Makam ini terletak di Desa Limbuang Kecamatan Hampang Kotabaru. Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah adalah Raja Banjar yang ke-10. Ia merupakan datu dari Pangeran Antasari yang makamnya ada di Banjarmasin.
Untuk menuju ke makam ini, dari pelabuhan Fery Tarjun memerlukan waktu dua jam.
Yang luar biasanya, ada bebatuan kapur meratus yang menjulang tinggi. Sedangkan di samping kiri dan kanan makam, juga ada perkebunan jagung dan jeruk.
Kubur Besar Kerajaan Cantung
Kompleks Makam Keluarga Kerajaan Cantung (Kubur Besar) ini terletak di Desa Banua Lawas Kecamatan Kelumpang Hulu.
Untuk menuju ke makam ini memerlukan waktu sekira satu jam dengan jarak tempuh sekira 30 KM dari Pelabuhan Ferry Tarjun. Dulunya di sekitar makam ini adalah Pusat Kota Cantung dahulu yang dikenal dengan Banua Lawas.
Makam Pangeran Agung
Makam ini terletak di Bangkalaan Melayu Desa Batu Ganting. Nisannya dua, terbuat dari kayu ulin besar yang sudah dimakan usia.
Untuk menuju ke makam ini dari Pelabuhan Fery Tarjun memakan waktu satu jam lebih menuju Kecamatan Kelumpang Hulu. Selain Makam Pangeran Agung, dalam kompleks makam ini juga terdapat beberapa makam tua.
Makam Belanda
Makam ini terletak di Desa Sebelimbingan Kecamatan Pulau Laut Utara yang menandakan jejak penjajahan di daerah ini. Jaraknya sekira 15 kilometer dari pusat kota.
Dari pinggir jalan raya, masuk ke pemakaman itu sekira lima menit, atau sejauh 200 meter. Kondisinya sekarang sangat tidak terawat karena berada di tanah warga.
Editor : Arief