Meski teknologi tidak secanggih sekarang, namun permainannya tak kalah mengasyikkan. Sayangnya, banyak dari jenis permainan ini yang sudah hilang ditelan zaman. Berikut 7 permainan tradisional di Banjar yang sudah hampir punah.
1. Babanga
Babanga konon ditemukan di Kabupaten Tapin, Kecamatan Candi Laras Utara, kota Margasari. Permainan ini adalah permainan anak - anak yang bersifat rekreatif. Dimainkan di waktu senggang pada saat istirahat belajar di sekolah, pagi hari atau sore hari di kampung dalam pergaulan mreka sehari - hari.
Babanga biasa dimainkan Dalam musim karet berbuah. Buah karet inilah yang dipergunakan untuk main babanga tersebut. Kalau diperhatikan, anak - anak yang memainkan permainan ini terdiri dari anak anak segala lapisan masyarakat. Babanga sudah ada sebelum kemerdekaan. Hanya kapan dimulai berkembangnya tidak dinyatakan dengan pasti.
Babanga dimainkan di halaman rumah atau sekolah yang rata, cukup keras dan tidak berbatu - batu. Alat yang dipergunakan dalam permainan ini ialah buah karet. Apabila buah karet tidak ada biasanya diganti dengan buah kemiri.
2. Babintih
Permainan ini dinamakan masyarakat daerah Kalimantan Selatan dengan nama Babintih. Pengertiannya ialah pukulan / tendangan yang di lakukan dengan kaki bagian tulang kering dan diarahkan ke kaki bagian belakangnya ( perut kaki ) di antara lutut dan mata kaki. Di daerah Pagatan, permainan ini dinamai oleh masyarakat dengan permainan M a I a n c a.
Permainan Babintih ini sering diadakan anak - anak pada waktu ada acara selamatan, perkawinan dan sebagainya. Pada waktu itu anak anak yang jagoan biasanya mengajak kawan - kawannya untuk mengadakan permainan Babintih tersebut. Permainan ini masa dahulu sangat ramai diadakan oleh anak - anak remaja. Tetapi sekarang ini permainan tersebut sudah tidak terlihat lagi dilakukan oleh anak - anak. Permainan ini sudah mendekati kepunahannya.
Permainan Babintih ini sebenarnya tidak memerlukan alat permainan secara khusus. Namun demikian bagi anak - anak yang akan ikut bermain, mereka mengadakan persiapan - persiapan sendiri. Umpamanya mencari obat untuk mengebalkan kulit kaki mereka yang akan dipukulkan atau yang akan menahan pukulan/tendangan. Menurut kepercayaan mereka, obat yang dapat mengebalkan kulit kaki itu adalah telur kalimbuai ( sejenis keong yang bentuknya besar bundar ). Telur kalimbuai ini biasanya menempel pada tonggak atau tiang - tiang rumah di atas air.
3.Babulanan
Babulanan dalam bahasa Banjar berarti main bulan bulanan atau main di atas suatu tempat yang berbentuk seperti bulan. Dalam penyebutannya di daerah., suku kata bu diulang sehingga menjadi babubulanan ; atau bunyi huruf u dalam pengulangan tersebut berubah menjadi a yaitu bababulanan.
Sejauh informasi yang dapat dikumpulkan, ternyata permainan ini tidak mempunyai hubungan dengan hal - hal yang mengandung unsur religiomagis atau upacara adat tradisional. Permainan ini dimainkan oleh anak - anak sebagai olah raga diwaktu pagi di sekolah atau pada sore hari dalam pergaulan di kampung mereka sehari hari.
Untuk melaksanakan permainan babulanan ini cukup diperlengkapi dengan lapangan permainan yang tidak terlalu luas. Permainan ini masa dulu cukup disenangi anak karena termasuk jenis olah raga yang bersifat rekreatif. Walaupun permainan ini sudah tidak berkembang lagi, peranannya masih tetap ada, yaitu kesehatan badan karena berolah raga.
4. Bagum
Bagum berasal dari akar kata gum dan mendapat awalan ba yang dalam bahasa Indonesia sama dengan ber. Bagum = bergum yang berarti bermain gum. Kata gum ini kemungkinan merupakan perubahan bunyi Bum yang maksudnya seolah-olah bunyi tembakan. Kata gum (bum) ini kita dapati dalam jalannya permainan yaitu apabila salah seorang pemain dari kelimpok B misalnya yang datang ke tempat pimpinan permainan sama dengan nama yang dibisikkan oleh salah seorang pemain dalam kelompok A maka secara serentak pemain dari kelompok A berteriak gum, seolah-olah menembak pemain lawan tersebut.
Permainan ini memang cocok sekali dimainkan pada malam hari sambil menungu larut malam untuk tidur, karena dalam permainan ini tidak banyak memerlukan gerak dan mengeluarkan keringat.
Permainan ini sampai sekarang masih berkembang dan merupakan salah satu jenis permainan yang digemari oleh anak - anak terutama di daerah pedesaan. Dari pelaksanaan permainan ini sebenarnya terdapat unsur - unsur positif misalnya merupakan pembinaan kerja sama dan pembinaan kepercayaan serta musyawarah bersama antar pemain.
5. Bacit
Masyarakat Banjarmasin menamakan permainan ini "bacit". Beberapa Kabupaten lainnya seperti Kabupaten Banjar dan Kabupaten Tanah Laut menyebutnva sama. Cara memainkannva pun tidak berbeda. Perkataan bacit ini berasal dari kata cit ditambah awalan ba artinya ialah melakukan permainan cit. Apa sesungguhnya arti permainan cit itu, masih belum ditemukan informasi yang jelas. Salah seorang informan menjelaskan bahwa kata cit itu hanya tiruan bunyi ciiiit .
Permainan ini adalah permainan orang dewasa. Umumnya mereka bermain di waktu sore atau malam, sesudah lepas kerja atau duduk duduk minum kopi di warung warung kopi. Jadi kalau diperhatikan saatsaat mereka melakukan permainan ini, sebenarnya hampir sama dengan permainan catur atau dam. Segala golongan yang ada dalam masyarakat, pemuda, orang tua dari lapisan apa saja dapat dan bisa memainkan permainan ini. Petani, nelayan, pedagang, pegawai negeri dan lain sebagainya sangat menyenangi permainan ini. Seperti permainan catur, kadang - kadang penontonnya malah lebih banyak yang menyaksikan bergerombol di samping pemain yang sedang bermain.
Sampai dengan sekitar tahun 60 an masih kelihatan permainan ini dimainkan. Setelah itu hingga saat ini sudah tidak nampak dimainkan orang lagi. Mungkin sebab - sebab mengapa permainan ini tidak berkembang lagi karena terdesak oleh jenis permainan lainnya yang lebihh menarik perhatian orang.
6. Badurit
Badurit berasal dari kata durit ( bahasa Banjar) yang berarti paling belakang. Badurit berarti bermain paling belakang.Istilah durit ini sebenarnya diambil dari kata - kata yang sering ditujukan kepada salah seorang pemain yang dalam melakukan lemparan tahap pertama ternyata undasnya ( alat pelempar berupa batu atau potongan kayu ) paling dekat dengan garis batas pelemparan.
Permainan ini merupakan permainan yang dilakukan anak laki - laki saja, tidak pernah dilakukan oleh anak perempuan meskipun sebenarnya permainan ini bisa dilakukan oleh anak - anak perempuan. Hal ini kemungkinan sekali disebabkan dalam permainan ini setiap pemain harus melemparkan undas berupa batu atau potongan kayu yang dianggap merupakan permainan kasar dan tidak cocok bagi perempuan.
Permainan ini sampai sekarang merupakan permainan yang tetap digemari oleh anak-anak meskipun kadang - kadang bersifat musiman. Selama masih ada orang atau warung yang menjual karet gelang maka permainan ini kemungkinan akan tetap masih berkembang.
7. Bagimpar
Permainan ini dinamakan masyarakat daerah Kalimantan Selatan dengan Bagimpar. Asal kata Gimpar. Jadi Bagimpar berarti melakukan permainan Gimpar. Nama permainan ini sebenarnya diambil dari sebutan salah satu tahapan dalam permainan tersebut, yaitu tahapan Gimpar, yang merupakan variasi dari kata lempar. Karena permainan ini pelemparannya dilakukan dengan kaki, maka tahapan itu dinamakan Gimpar.
Permainan Bagimpar ini dapat dilakukan secara perorangan dapat pula diadakan secara beregu. Kalau diadakan secara perorangan, maka jumlah pemainnya hanya dua orang. Dari kedua orang itu, yaitu seorang sebagai pemain yang naik dan yang seorang lagi sebagai pemain yang pasang.
Dalam permainan ini tidak ada konsekwensi kalah menang, tetapi bagi pemain yang jarang mati dan sering membela teman yang mati, pemain itu dianggap sebagai pemain yang cakap dan terampil. Bila dibandingkan dengan masa lalu, permainan ini kelihatannya sudah mendekati kepunahan. Hal ini mungkin disebabkan kurang menonjolnya peranan permainan tersebut di masyarakat. Editor : Arief