RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARBARU – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan penggunaan dry ice atau es kering sebagai bagian dari upaya teknologi modifikasi cuaca (TMC) untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap di Kalsel.
Langkah tersebut disampaikan langsung Kepala BNPB, Letjen TNI Kristomei Sianturi, saat meninjau lokasi karhutla di kawasan Jalan Lingkar Utara, Kecamatan Liang Anggang, Banjarbaru, Senin (19/10). Dalam kunjungan itu, Kristomei didampingi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Tandyo Budi Revita dan Gubernur Kalimantan Selatan Muhidin.
Menurut Kristomei, penggunaan es kering akan dipadukan dengan penyemaian natrium klorida (NaCl) atau garam untuk menciptakan kondisi atmosfer yang lebih mendukung terjadinya hujan. "Hari ini kita akan gunakan dry ice untuk membuka tabir asap sehingga terjadi presipitasi, dan kita bisa melakukan TMC dalam rangka penaburan NaCl sehingga bisa turun hujan," katanya.
Kehadiran BNPB di Kalsel tegasnya, tidak hanya untuk melihat langsung perkembangan penanganan karhutla, tetapi juga memastikan dukungan pemerintah pusat dapat segera diberikan sesuai kebutuhan daerah. "Kami mengecek apa yang sudah dikerjakan di daerah, sekaligus melihat apa yang bisa dibantu oleh pemerintah pusat," ungkapnya.
Kristomei mengatakan, metode yang mengombinasikan penggunaan dry ice dan penyemaian garam sebelumnya telah diterapkan di Sumatera Selatan dengan hasil yang dinilai positif. Pengalaman tersebut menjadi dasar bagi BNPB untuk menerapkannya kembali di wilayah yang saat ini masih menghadapi ancaman karhutla, termasuk Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. "Kemarin di Sumsel kita sudah berhasil seperti itu. Di Kalteng dan Kalsel kita akan coba lagi," cetusnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa keberhasilan operasi modifikasi cuaca sangat bergantung pada kondisi atmosfer serta ketersediaan awan yang memenuhi syarat. Penggunaan dry ice maupun penyemaian NaCl tidak serta-merta menjamin hujan akan turun sesuai target yang ditetapkan.
Karena itu, upaya pemadaman di darat tetap menjadi fokus utama dalam pengendalian kebakaran yang masih terjadi di sejumlah titik. Operasi modifikasi cuaca hanya berfungsi sebagai langkah pendukung untuk mempercepat penanganan.
Dalam kesempatan tersebut, Kristomei juga menginstruksikan personel satuan tugas (satgas) karhutla untuk mempercepat penanganan di lapangan dengan menginventarisasi kebutuhan mendesak yang masih menjadi kendala selama proses pemadaman. "Inventarisasi kebutuhan-kebutuhan di lapangan agar api bisa dipadamkan dengan segera. Ingat, hitungannya adalah waktu," ujarnya.
Menurut dia, kecepatan menjadi faktor kunci dalam penanganan karhutla. Semakin lama api dibiarkan, semakin besar potensi kebakaran meluas dan semakin banyak sumber daya yang dibutuhkan untuk mengendalikannya.
Karena itu, Kristomei menekankan pentingnya kolaborasi seluruh pihak dalam menghadapi ancaman karhutla yang kembali meningkat pada musim kemarau tahun ini. Penanggulangan tidak bisa hanya mengandalkan satu institusi, melainkan membutuhkan keterlibatan pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, dunia usaha hingga masyarakat. "Mari sama-sama kita keroyok ini. Sama-sama kita berupaya dalam rangka penanggulangan karhutla," ajaknya.
Ia kembali menegaskan bahwa keberhasilan pengendalian karhutla sangat ditentukan oleh kecepatan respons dan kekompakan seluruh elemen yang terlibat. "Yang terpenting, kita bergerak cepat dan bekerja bersama. Penanggulangan karhutla ini tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi harus dikeroyok bersama-sama," tegas Kristomei. (zkr/mof)
Editor : Arief M