Begini Sejarah Awal Mula Tenun Pagatan di Tanah Bumbu

Zulqarnain Radar Banjarmasin • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 15:00 WIB
TENUN: Kain tenun produksi perajin tenun asal Pagatan Abdul Aziz dipajang dengan beragam motif dan warna. (Foto: Abdul Aziz untuk Radar Banjarmasin)
TENUN: Kain tenun produksi perajin tenun asal Pagatan Abdul Aziz dipajang dengan beragam motif dan warna. (Foto: Abdul Aziz untuk Radar Banjarmasin)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BATULICIN – Tenun Pagatan merupakan salah satu warisan budaya yang berkembang di Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Kain ini tidak lepas dari sejarah kedatangan masyarakat Bugis ke Pagatan sejak sekitar pertengahan abad ke-18.

Tradisi menenun dibawa oleh perantau Bugis, terutama dari Wajo, yang menetap di kawasan Pagatan. Bersamaan dengan perpindahan masyarakat, ikut pula berpindah berbagai unsur kebudayaan, termasuk tradisi membuat kain tenun.

Kedatangan masyarakat Bugis di Pagatan berkaitan dengan Puanna Dekke yang membangun permukiman di kawasan tersebut sekitar 1750.

Pagatan kemudian berkembang menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Pagatan. Tradisi dan identitas Bugis ikut tumbuh di wilayah tersebut, termasuk dalam pakaian dan kain yang digunakan masyarakat.

 

Bukan Sekadar Kain Sarung

Pada awal perkembangannya, Tenun Pagatan banyak dibuat dalam bentuk sarung. Penggunaannya kemudian meluas, tidak hanya untuk laki-laki, tetapi juga perempuan.

Kini, kain tersebut dapat dijumpai dalam berbagai bentuk. Mulai dari sarung, selendang, kain panjang, rok, baju, pakaian muslim hingga busana untuk keperluan tertentu.

Coraknya juga beragam. Motif tradisional Tenun Pagatan antara lain berbentuk burung, kuda, keris, pohon, anak panah, angsa, rantai, singa, naga, kelinci, jambangan bunga hingga kaligrafi. Keberagaman motif tersebut menjadi salah satu ciri Tenun Pagatan.

Tenun Pagatan secara tradisional dibuat dengan beberapa teknik. Salah satunya sobe atau songket. Motif dibuat dengan menyisipkan benang tambahan ke dalam kain ketika proses menenun berlangsung.

Ada pula bebbe atau tenun ikat. Pada teknik ini, benang diikat terlebih dahulu sesuai pola sebelum dicelupkan ke dalam pewarna. Setelah proses pewarnaan selesai, ikatan dibuka dan benang ditenun sehingga membentuk motif.

Teknik lainnya adalah panji, yakni motif dibuat melalui proses anyaman benang secara langsung.

Selain itu, terdapat kain dengan pola dasar kotak-kotak yang kemudian dapat dipadukan dengan motif songket, panji maupun bebbe.

 

Dulu Menggunakan Sutra Alam

Bahan yang digunakan untuk membuat Tenun Pagatan juga mengalami perubahan. Pada masa lalu, sutra alam menjadi salah satu bahan utama. Sutra tersebut didatangkan dari Sulawesi dan kemudian diolah di Pagatan.

Seiring waktu, penggunaan sutra alam semakin berkurang. Perajin kemudian menggunakan berbagai jenis benang produksi pabrik.

Pewarna yang digunakan juga terdiri dari bahan tradisional dan buatan. Beberapa bahan tradisional yang pernah digunakan antara lain kesumba, nila dan daun kabuau.

 

Dari Tradisi Menjadi Sumber Penghasilan

Menenun tidak hanya menjadi bagian dari tradisi, tetapi juga memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.
Perajin Tenun Pagatan, Abdul Aziz, mengatakan permintaan terhadap produk kelompoknya datang dari berbagai daerah, bahkan hingga luar negeri seperti India dan Inggris.

Tingginya permintaan membuat kelompoknya meningkatkan kapasitas produksi. Dalam 20 hari, mereka kini mampu menghasilkan hingga 10 kain dengan melibatkan lima pekerja tambahan.

"Ini membuat kelompok perajin perlu menjaga kapasitas produksi supaya pesanan dapat dipenuhi," katanya.

Bagi masyarakat Pagatan, tradisi menenun telah menjadi bagian dari kehidupan selama beberapa generasi. Produk yang awalnya digunakan sebagai pakaian tradisional kini berkembang menjadi berbagai produk sandang.

Perubahan tersebut membuat Tenun Pagatan tetap bertahan sebagai warisan budaya sekaligus sumber penghasilan di tengah perkembangan zaman.

Editor : Arif Subekti
Warisan budaya sejarah tenun pagatan sumber penghasilan Tanah Bumbu batulicin