RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Amuntai – Pemandangan berbeda terlihat di sepanjang Jalan Norman Umar, yang melintasi Kelurahan Murung Sari dan Kebun Sari. Sejumlah tanaman penghias jalan yang biasanya tampak hijau pekat kini berubah kecokelatan. Sebagian daun bahkan berguguran dan menutupi permukaan tanah.
Namun, perubahan tersebut bukan berarti tanaman mengalami kerusakan. Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (Perkim dan LH) Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) menyebut kondisi itu merupakan respons alami tanaman menghadapi musim kemarau.
Kepala Dinas Perkim dan LH HSU yang juga Pelaksana Tugas (Plt) Yandi Gunawan melalui Kepala Bidang Lingkungan Hidup Marwoto mengatakan, daun menguning hingga rontok merupakan salah satu mekanisme tanaman untuk bertahan ketika ketersediaan air terbatas.
“Ini justru cara pohon bertahan hidup di tengah keterbatasan air. Saat musim kemarau, wajar jika daun menguning hingga rontok. Itu upaya alami untuk menghemat cadangan air,” ujarnya, Rabu (30/9/2026).
Menurut Marwoto, kondisi tersebut dipicu sejumlah faktor. Salah satunya stres air akibat tanah yang mengering sehingga cadangan air di sekitar perakaran menurun.
Dalam kondisi demikian, akar tanaman menjadi lebih sulit menyerap air dan nutrisi penting, seperti nitrogen dan magnesium. Tanaman kemudian melakukan penyesuaian untuk mempertahankan bagian yang lebih penting.
“Pohon mengurangi penguapan air melalui daun. Daun yang lebih tua bisa digugurkan agar cadangan air tetap tersedia untuk batang dan akar utama,” jelasnya.
Selain kekurangan air, suhu udara yang tinggi selama kemarau juga mempercepat penguapan cairan dari permukaan daun. Kondisi tersebut membuat tanaman harus mengatur kembali penggunaan air agar tetap mampu bertahan.
Marwoto menambahkan, karakter setiap jenis tanaman juga memengaruhi respons terhadap musim kemarau. Sejumlah jenis pohon, seperti jati, randu, dan gamal, memang memiliki kecenderungan menggugurkan daun ketika kondisi lingkungan lebih kering.
“Jadi, daun yang menguning dan rontok tidak selalu berarti tanaman mati atau rusak. Ini bagian dari sifat alami beberapa jenis tanaman dalam menghadapi kemarau,” katanya.
Meski demikian, Dinas Perkim dan LH HSU tetap melakukan pemeliharaan untuk memastikan tanaman di sepanjang Jalan Norman Umar tidak mengalami kekeringan parah.
Penyiraman dilakukan secara rutin setiap sore menjelang senja. Perawatan terutama difokuskan pada tanaman gamal yang cukup mendominasi kawasan tersebut.
“Kami pastikan penyiraman tetap berjalan teratur. Dengan perawatan yang tepat, tanaman akan kembali hijau dan subur begitu curah hujan turun,” pungkasnya.
Kondisi daun yang menguning dan berguguran itu sekaligus menjadi gambaran bagaimana tanaman beradaptasi terhadap kemarau.
Di tengah keterbatasan air, pohon memilih mengurangi bagian yang membutuhkan banyak air demi mempertahankan kelangsungan hidupnya.
Editor : M Oscar Fraby