RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, PARINGIN - Kemarau panjang yang melanda wilayah Kabupaten Balangan selama hampir tiga bulan terakhir memberikan pukulan telak bagi sektor pertanian lokal. Kondisi lahan yang terlampau kering membuat tanaman cabai bertumbangan, memicu terganggunya pasokan, dan berimbas pada lonjakan harga yang sangat drastis di pasaran.
Harga komoditas cabai merah keriting di tingkat petani yang sempat anjlok ke level Rp15 ribu per kilogram pada awal Juli lalu, kini melompat berkali-kali lipat. Keterbatasan stok panen di tengah tingginya permintaan pasar membuat harga jual saat ini meroket ke kisaran Rp60 ribu hingga Rp75 ribu per kilogram, bergantung pada kualitas hasil panen.
Situasi dilematis ini diakui oleh Khairullah, salah seorang petani cabai di Balangan. Menurutnya, tingginya harga di pasaran saat ini tidak serta-merta membuat para petani meraup keuntungan melimpah karena jumlah barang yang bisa dijual sangat terbatas.
"Sekarang harga sekitar Rp60 ribu sampai Rp75 ribu per kilogram, tergantung kualitas. Permintaan pasar banyak, sementara barangnya sedikit," ungkap Khairullah, Minggu (27/9).
Meroketnya harga tersebut rupanya berbanding lurus dengan tingkat kesulitan perawatan tanaman di lapangan. Krisis sumber air akibat kemarau membuat para petani kewalahan menjaga sisa tanaman cabai agar tetap hidup dan berproduksi secara optimal.
"Sekarang perawatan CMK sangat sulit karena kurangnya air. Sudah hampir tiga bulan musim kemarau, banyak tanaman petani yang sudah tumbang," keluhnya.
Kepala Bidang Metrologi dan Stabilisasi Harga Disperindag Balangan, Ika Noor Maulida, membenarkan adanya kenaikan harga yang cukup tajam tersebut. Ia mencatat cabai rawit menjadi bumbu dapur yang paling mahal pekan ini.
"Kenaikan harga yang meroket tinggi ada pada komoditas cabai di pasaran. Minggu ini cabai keriting mencapai Rp90 ribu, cabai tiung Rp120 ribu, dan cabai rawit Rp150 ribu," sebut Ika.
Ia menjelaskan, kondisi ini murni karena faktor cuaca kemarau yang membuat petani kesulitan air hingga berujung gagal panen.