RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Kotabaru – Krisis air bersih di Kabupaten Kotabaru semakin nyata. Radar Banjarmasin turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi sumber air baku di tengah kemarau yang masih berlangsung, Rabu (23/9) sore.
Pantauan di Embung Mandin menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Cadangan air di embung tersebut kini hanya menyisakan sedikit genangan.
Sejumlah bagian yang sebelumnya menjadi area tergenang bahkan tampak telah mengering. Saluran buka-tutup air di sekitar embung juga terlihat tidak lagi dialiri air.
Kondisi tersebut terlihat jelas dari permukaan tanah yang mengeras dan kering di sekitar embung. Lapisan lumut yang biasanya berada dalam kondisi basah kini juga mengering.
Tanah di sisi-sisi embung juga tampak kehilangan kelembapan. Beberapa bagian permukaannya terlihat pecah-pecah, memperlihatkan betapa rendahnya ketersediaan air di lokasi tersebut.
Temuan Radar Banjarmasin di lapangan ini menjadi gambaran langsung bagaimana kemarau berdampak terhadap sumber air baku yang selama ini menopang kebutuhan pelayanan air bersih masyarakat di pusat kota.
Kondisi sumber air baku yang terus menyusut juga beriringan dengan kebijakan penghentian sementara distribusi air bersih oleh PDAM Kotabaru.
Melalui pengumuman resminya, PDAM Kotabaru menyampaikan penghentian sementara layanan distribusi pada Rabu hingga Kamis, 23–24 September 2026.
Dua unit Instalasi Pengolahan Air (IPA), yakni IPA Gunung Tirawan dan IPA Gunung Pemandangan, tercatat dalam status OFF selama penghentian layanan tersebut.
PDAM menjelaskan, penghentian dilakukan untuk menaikkan kembali level air di Embung Tirawan sehingga dapat mencapai batas yang memungkinkan untuk kembali digunakan sebagai sumber distribusi.
“Berdasarkan data PDAM Kotabaru, ketinggian air di Embung Tirawan pada 22 September 2026 pukul 07.00 WITA tercatat hanya 265 sentimeter,” tulisan himbauan PDAM Kotabaru yang ditanggungjawabi Direktur PDAM Kotabaru Tri Basuki.
Manajemen PDAM menyatakan waktu kembali normalnya layanan akan diinformasikan lebih lanjut setelah kondisi ketersediaan air baku memungkinkan.
PDAM juga menyampaikan permohonan maaf kepada pelanggan atas penghentian sementara tersebut. Kebijakan itu disebut dilakukan untuk menjaga ketersediaan air sekaligus keberlangsungan pelayanan di tengah kondisi sumber air baku yang terbatas.
Namun, di tengah kondisi tersebut, Radar Banjarmasin masih berupaya mendapatkan penjelasan lebih lengkap mengenai langkah yang disiapkan PDAM untuk menghadapi krisis air bersih.
Konfirmasi disampaikan kepada H. Suriansyah selaku Kabag Hubungan Langganan PDAM Kotabaru pada Rabu (23/9) pukul 10.46 WITA melalui WhatsApp.
Sejumlah pertanyaan diajukan, mulai dari strategi PDAM selama penghentian sementara, estimasi waktu normalisasi distribusi, hingga imbauan kepada masyarakat yang terdampak.
Pesan tersebut telah dibaca. Namun hingga pukul 15.36 WITA, belum ada tanggapan yang diterima Radar Banjarmasin.
Dengan kondisi Embung Mandin yang terpantau nyaris kering dan level air Embung Tirawan yang berada pada angka 265 sentimeter, persoalan air baku kini menjadi perhatian serius bagi keberlangsungan pelayanan air bersih masyarakat Kotabaru.
Situasi di lapangan sekaligus menunjukkan bahwa persoalan bukan sekadar penghentian distribusi selama dua hari, tetapi menyangkut seberapa lama cadangan air baku mampu bertahan menghadapi kemarau.
Editor : Arif Subekti