Sungai di Kalsel Kehabisan Oksigen, Bencana Bangkai Ikan Bakal Dimulai

Redaksi Radar Banjarmasin • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 12:48 WIB
ilustrasi ikan mati
ilustrasi ikan mati

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Ketika air menyusut dan oksigen menipis, ikan mulai megap-megap. Di balik kematian massal, ada kerugian besar dan ancaman ekologis yang tak boleh diabaikan.

 ****

Kemarau panjang membuat sungai-sungai di Kalsel bukan hanya kehilangan air, tetapi juga kehilangan kemampuan menopang kehidupan di dalamnya.

Debit menyusut, suhu meningkat, sementara oksigen terlarut atau dissolved oxygen (DO) turun. Pada perairan yang dipenuhi keramba, tekanan itu semakin berat.

Ikan mulai stres. Nafsu makan menurun. Sebagian berenang tidak normal dan megap-megap di permukaan. Jika kondisi bertahan, kematian massal menjadi sulit dihindari.

Peristiwa itu terjadi di sejumlah daerah sepanjang 2026. Di Kabupaten Banjar, sekitar 50 ton ikan dilaporkan mati pada Juli. Kematian massal terjadi dari kawasan Sungai Martapura hingga aliran Sungai Riam Kanan.

Lebih dari 200 keramba terdampak dengan nilai kerugian sementara sekitar Rp1,3 miliar.

Kabid Perikanan Budi Daya DKPP Banjar, Bandi Chairullah mengatakan kondisi tersebut berkaitan dengan kemarau ekstrem dan memburuknya kualitas perairan. Hasil pemantauan menunjukkan kadar DO di sejumlah lokasi hanya sekitar 0,59 hingga 1 miligram per liter.

Di hilir Sungai Arfat, DO sekitar 1 mg/liter, dengan suhu 29,7 derajat Celsius, pH 6 dan kedalaman sungai sekitar 1,5 hingga 3 meter.

Di Mali-Mali, DO bahkan tercatat sekitar 0,61 hingga 1,3 mg/liter. Kedalaman sungai hanya 1 hingga 2,5 meter, dan permukaan air turun sekitar dua meter. “Kondisi itu sangat berisiko. Ikan sudah terlihat megap-megap, sehingga kami langsung mengimbau pembudi daya segera mengangkat atau memanen ikan yang masih bisa diselamatkan agar kerugian tidak semakin besar,” jelas Bandi.

HSU Menghadapi Masalah Serupa

Tekanan kualitas air juga terjadi di Kabupaten Hulu Sungai Utara.

Di Desa Tahuran, Kecamatan Haur Gading, sekitar 300 keramba terdampak kematian ikan massal. Mayoritas ikan yang mati merupakan bawal air tawar dengan kerugian sementara diperkirakan mencapai Rp2 miliar.

Sebelum mati, ikan dilaporkan lemas dan berenang tidak normal.

Debit Sungai Haur Gading yang menurun membuat sungai semakin dangkal. Aliran yang tidak optimal diduga mengganggu sirkulasi dan menurunkan kadar oksigen.

Namun, pemerintah desa mengingatkan penyebab kematian ikan belum dapat dipastikan hanya karena kemarau. Kepala Desa Tahuran, Hambali mengatakan kemungkinan adanya faktor lain dari hulu masih perlu dibuktikan melalui pemeriksaan kualitas air. “Kami masih menduga penyebabnya karena kondisi air yang tidak mengalir dan kekurangan oksigen. Kalau ada penyebab lain, seperti limbah atau bahan beracun dari hulu, itu masih perlu dibuktikan,” katanya.

Temuan kualitas air juga terlihat di HSU. Dinas Perikanan bersama kepolisian dan Dinas Perkim-LH melakukan pemeriksaan terhadap lokasi kematian ikan. Suhu air mencapai 31,3 derajat Celsius, pH 8,59, DO 2,9 ppm, dengan tingkat kekeruhan mencapai 29 sentimeter.

Sebagai pembanding, kondisi ideal bagi kehidupan ikan berada pada suhu sekitar 27–31 derajat Celsius, pH 6,5–8 dan DO di atas 4 ppm.

Kepala Dinas Perikanan HSU, Khairi Hanani mengatakan ketika DO turun di bawah 4 ppm ikan mulai menunjukkan tanda kekurangan oksigen. “Kalau oksigen terlarut kurang dari 4 ppm, ikan mulai mengap-mengap ke permukaan. Kalau sampai 1 ppm, ikan bisa mengalami kematian massal,” katanya. Bahkan, petugas pernah menemukan DO di salah satu keramba mencapai nol.

Kolam Tak Luput dari Ancaman

Krisis air tidak hanya terjadi pada keramba sungai. Di Desa Durian Rabung, Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Pokdakan Tani Makmur menghadapi persoalan berbeda.

Sumber air kolam bioflok mereka berasal dari sumur. Namun, kemarau membuat sumur tersebut mengering. “Sekarang kita bukan kekurangan lagi, airnya sudah tidak ada lagi di sumur,” ujar Ketua Pokdakan Tani Makmur, Hardaniansyah.

Penggunaan air PDAM menjadi alternatif, tetapi menambah biaya. Air tersebut juga tidak bisa langsung dimasukkan ke kolam bioflok, dan harus dinetralkan terlebih dahulu sekitar 20 hari.

Sebagian kolam kelompok juga kehilangan air setelah pipa saluran diduga tercabut akibat gangguan hewan. Ikan yang hampir memasuki masa panen akhirnya mati.

Dalam satu kolam, ikan yang mati diperkirakan mencapai 40–50 kilogram. Dengan harga sekitar Rp40 ribu per kilogram, kerugian belum termasuk biaya pakan selama sekitar empat bulan.

Cuaca panas juga membuat nafsu makan ikan yang masih bertahan menurun.

Kondisi berbeda dialami H Asnawi dari Kelompok Tani Mufakat. Kolamnya memang terlihat kering, tetapi bukan akibat kemarau. Kolam sengaja dikosongkan karena memasuki masa pascapanen dan akan dibersihkan.

Sumber air dari irigasi masih tersedia, sehingga kolamnya tidak terdampak kekeringan.

Tapin Mulai Kehilangan Ikan

Di Kabupaten Tapin, penurunan debit air juga mulai memukul budi daya ikan. Plt Kepala Dinas Perikanan Tapin, Rahmadi Sasi Purnama mengatakan berkurangnya debit air secara langsung memengaruhi kadar oksigen.

Di Kembang Habang, kolam buatan yang sebelumnya berisi sekitar 3.000 ikan, kini hanya menyisakan sekitar 1.000 ekor lebih. “Memang di Kembang Habang sudah ada terindikasi mati di air untuk budi daya kolam buatan. Dari 3.000, sisa kurang lebih 1.000 lebih ikan yang hidup,” jelasnya.

Pada kawasan tambak di Linuh dan Pampain, debit air yang masuk ke kantong-kantong tambak juga sangat terbatas. Sebagian ikan dilaporkan mati.

Dinas Perikanan mengimbau pembudi daya menunda penebaran benih, menyesuaikan kepadatan dengan ketersediaan air, dan melakukan panen lebih awal ketika kondisi kolam tidak memungkinkan.

Ancaman Tidak Berhenti Saat Hujan

Kemarau yang berakhir pun belum tentu langsung menghapus risiko.

Khairi mengingatkan hujan deras pertama setelah kemarau perlu diwaspadai. Selama musim kering, bahan organik cenderung mengendap di dasar sungai.

Ketika hujan deras turun, material tersebut dapat teraduk dan masuk kembali ke badan air. Air menjadi keruh dan proses penguraian bahan organik oleh bakteri membutuhkan oksigen dalam jumlah besar.

Akibatnya, DO dapat kembali turun dan memicu kematian ikan.

Karena itu, pembudi daya diminta memperhatikan kondisi air sebelum kembali menebar bibit.

Sungai Sedang Mengalami Tekanan Ekologis

Akademisi Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Akbar Rahman melihat fenomena kematian massal ikan di Sungai Martapura sebagai tanda bahwa ekosistem sungai sedang menghadapi tekanan. Menurutnya, ketika debit air turun, volume air menyusut, suhu meningkat, DO menurun, sementara konsentrasi bahan pencemar dapat meningkat. “Ini bukan lagi kejadian biasa. Kematian ikan massal merupakan sinyal adanya gangguan serius terhadap ekosistem sungai,” tegas Akbar.

Persoalan menjadi lebih kompleks jika bangkai ikan dibuang atau dihanyutkan ke sungai. Bangkai yang membusuk menambah beban organik. Proses penguraian membutuhkan oksigen, sehingga pada sungai yang sejak awal kekurangan DO, kondisi tersebut berpotensi memperburuk kualitas air.

Akbar meminta pemerintah segera mengangkat bangkai ikan, dan melakukan pemantauan kualitas air secara rutin. Parameter yang perlu diperiksa antara lain DO, pH, suhu, amonia dan Biological Oxygen Demand (BOD).

Ia juga mendorong adanya sistem peringatan dini berbasis kualitas air agar pembudi daya dapat mengurangi kepadatan atau memanen ikan sebelum terjadi kematian massal.

Dalam jangka panjang, menurutnya, pengelolaan budi daya harus mempertimbangkan daya dukung sungai. Rehabilitasi daerah aliran sungai, perlindungan kawasan resapan, pengendalian limbah domestik, serta koordinasi pengelolaan bendungan dan sungai perlu menjadi bagian dari penanganan. “Sungai harus dipandang sebagai satu kesatuan ekosistem, bukan sekadar tempat budi daya atau saluran air,” tegasnya.

Daya Dukung Sungai Dipertaruhkan

Rangkaian kejadian di berbagai daerah menunjukkan persoalan yang lebih besar daripada sekadar ikan mati. Ketika air menyusut, ruang hidup ikan berkurang. Ketika suhu naik dan DO turun, kemampuan sungai menopang kehidupan ikut melemah. Di tengah kondisi itu, kepadatan keramba menjadi faktor yang semakin menentukan.

Pembudi daya akhirnya berada di antara dua pilihan: mempertahankan ikan hingga ukuran optimal dengan risiko kematian, atau memanen lebih cepat dengan konsekuensi hasil yang belum maksimal.

Di sisi lain, bangkai ikan yang tidak segera ditangani berpotensi menambah beban pencemaran. Kemarau dengan demikian tidak hanya menguji ketahanan pembudi daya, tetapi juga menguji seberapa jauh sungai-sungai di Kalimantan Selatan masih mampu menanggung aktivitas budi daya di tengah tekanan iklim dan perubahan kualitas lingkungan. (zkr/mpi/mud/mar /dly/mal/gr/sbx/dye)

Editor : Arief M
Sumber : RADAR BANJARMASIN edisi cetak
Indepth Perikanan Sungai