RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Amuntai – Kemarau panjang tak hanya membuat debit air sungai dan kolam menurun. Bagi petani ikan di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), kondisi tersebut juga menjadi ancaman serius terhadap kelangsungan budi daya.
Kenaikan suhu air, penurunan kadar oksigen terlarut, hingga penumpukan bahan organik dapat membuat ikan stres. Jika tidak diantisipasi, kondisi itu berpotensi memicu kematian ikan secara massal dan menimbulkan kerugian bagi pembudidaya.
Ancaman tersebut menjadi perhatian Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) HSU. Penyuluh Perikanan Ahli Madya DKP HSU Wahyudi Rachman, S.Pi., menyusun panduan penyuluhan khusus untuk membantu pembudidaya menghadapi kondisi perairan selama kemarau panjang.
Panduan tersebut tertuang dalam Poster Penyuluhan Perikanan Nomor 7 Tahun 2026. Isinya memberikan langkah pencegahan dan penanganan bagi pembudidaya ikan, baik yang menggunakan keramba di sungai maupun kolam.
“Pencegahan jauh lebih baik daripada penanganan. Mencegah kerugian jauh lebih murah dan lebih mudah dilakukan dibandingkan mengobati ikan yang sudah sakit atau mati,” ujar Wahyudi, Sabtu (19/9/2026).
Keramba Sungai Perlu Perhatian Ekstra
Menurut Wahyudi, kondisi sungai selama kemarau harus menjadi perhatian pembudidaya keramba. Penurunan debit air dapat membuat arus melemah sehingga sirkulasi dan suplai oksigen ke dalam keramba ikut berkurang.
Karena itu, pemilihan lokasi menjadi faktor penting. Keramba sebaiknya ditempatkan di bagian sungai yang masih memiliki arus dan kedalaman air yang cukup.
Kepadatan ikan juga perlu dikurangi sekitar 20–30 persen dari kondisi normal. Langkah tersebut bertujuan mengurangi persaingan ikan dalam mendapatkan oksigen ketika kualitas air menurun.
Pemberian pakan juga tidak boleh berlebihan. Sisa pakan yang tidak termakan dapat menjadi bahan organik dan memperburuk kualitas air.
Jaring keramba pun perlu dibersihkan secara berkala dari lumut dan kotoran yang menghambat pertukaran air. Kualitas air harus dipantau secara rutin, terutama kadar oksigen terlarut.
“Jika kadar oksigen turun di bawah 4 mg/L, aerasi wajib ditingkatkan,” jelas Wahyudi.
Kolam Tak Luput dari Ancaman
Risiko serupa juga dihadapi pembudidaya ikan kolam. Bahkan, pada kondisi tertentu, kolam yang volume airnya terus berkurang dapat mengalami perubahan kualitas air lebih cepat.
Wahyudi menyarankan kedalaman air kolam dipertahankan minimal 80–100 sentimeter. Kepadatan ikan juga perlu disesuaikan dengan kapasitas air dan kondisi lingkungan.
Pergantian air dilakukan secara bertahap. Pembudidaya juga dianjurkan menggunakan pakan berkualitas sesuai kebutuhan serta memanfaatkan probiotik secara rutin untuk membantu menjaga kondisi lingkungan budidaya.
Yang tidak kalah penting, pembudidaya perlu menyiapkan saluran atau sumber air cadangan sebelum kondisi memasuki tahap kritis.
Langkah antisipasi tersebut dinilai penting karena penanganan ketika ikan sudah menunjukkan gejala stres berat akan jauh lebih sulit.
Jangan Tunggu Ikan Mengambang
Wahyudi mengingatkan pembudidaya segera mengambil tindakan ketika kondisi ikan dan air mulai menunjukkan tanda-tanda memburuk.
Jika kondisi sudah kritis, aerasi harus ditingkatkan semaksimal mungkin. Ikan juga dapat dipindahkan ke lokasi dengan kualitas air yang lebih baik apabila memungkinkan.
“Bila sudah masuk kondisi kritis, segera tingkatkan aerasi semaksimal mungkin, pindahkan ikan ke lokasi yang airnya lebih baik, hentikan pemberian pakan sementara, dan berikan garam serta probiotik untuk menekan perkembangan bakteri patogen,” ungkapnya.
Penghentian pakan sementara menjadi salah satu langkah penting ketika ikan mengalami stres akibat buruknya kualitas air. Pemberian pakan dalam kondisi tersebut justru dapat meningkatkan sisa bahan organik apabila ikan tidak mampu mengonsumsinya secara optimal.
Parameter Air Harus Dipantau
Dalam panduan tersebut, pembudidaya juga diminta tidak hanya mengandalkan pengamatan visual terhadap kondisi ikan. Parameter kualitas air perlu dipantau secara berkala.
Beberapa standar yang perlu dijaga antara lain oksigen terlarut di atas 4 mg/L, suhu 26–32 derajat Celsius, pH 6,5–8,5, serta kadar amonia di bawah 0,02 mg/L.
Selain itu, tingkat kecerahan air diupayakan lebih dari 30 sentimeter dengan alkalinitas minimal 20 mg/L.
Parameter tersebut menjadi indikator penting untuk mengetahui apakah lingkungan budidaya masih berada dalam kondisi yang mendukung kehidupan ikan.
Bagi pembudidaya, pemantauan kualitas air menjadi bagian penting dari strategi menghadapi kemarau. Sebab, kematian ikan tidak selalu terjadi secara tiba-tiba. Perubahan suhu, penurunan oksigen, dan memburuknya kualitas air dapat berlangsung lebih dahulu sebelum ikan akhirnya mengalami stres berat.
Wahyudi berharap panduan tersebut dapat menjadi pegangan praktis bagi petani ikan di HSU selama menghadapi kemarau panjang.
“Budidaya cerdas di musim kemarau, ikan sehat, panen tetap melimpah!” pesannya.
Editor : Sutrisno