RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Paringin - Budi daya kelinci perlahan mulai bergeser. Dari sekadar hewan peliharaan hias, kelinci menjadi komoditas peternakan yang memiliki nilai ekonomi menjanjikan di Kabupaten Balangan.
Salah satu wilayah yang mulai merintis pengembangan komoditas ini berada di Desa Sumber Rejeki, Kecamatan Juai. Kelinci pedaging dinilai mampu menjadi alternatif sumber ketahanan pangan dan ekonomi baru bagi masyarakat.
Salah satu peternak kelinci asal Desa Sumber Rejeki, Chamim Ongko Sisno, menjelaskan bahwa prospek kelinci pedaging belakangan mulai dilirik warga lantaran pangsa pasarnya yang cukup luas, membentang dari wilayah Tanjung, Banjarmasin, hingga ke Kalimantan Tengah.
"Mulanya saya melihat teman yang lebih dulu budidaya kelinci dan berhasil. Ternyata ini bukan sekadar hobi peliharaan, tapi di situ jelas ada perputaran nilai ekonomisnya untuk menambah penghasilan," ungkap Chamim, Jum'at (18/9).
Daya tarik utama dari peternakan kelinci terletak pada siklus reproduksinya yang sangat singkat. Masa kehamilan kelinci hanya memakan waktu satu bulan, dan anakan sudah bisa disapih serta dijual saat memasuki usia satu setengah bulan.
Secara hitungan bisnis peternakan, perputaran modal komoditas ini diklaim jauh lebih efisien dibandingkan ternak ruminansia.
"Kalau dihitung secara modal, ini jauh lebih menghasilkan dari kambing. Uang tiga juta rupiah kalau dibelikan kambing cuma dapat satu ekor. Tapi kalau dibelikan kelinci, kita bisa dapat sepuluh ekor indukan dengan perputaran panen yang sangat cepat," jelasnya.
Selain perputaran panen daging dan bibit, kelinci juga tergolong komoditas minim limbah. Kotoran dan urine kelinci yang dihasilkan setiap hari memiliki nilai jual tersendiri karena sangat diminati sebagai bahan baku pupuk organik yang cepat terurai.
Meski potensinya cukup besar, pengembangan kelinci pedaging di Balangan saat ini masih berjalan secara mandiri oleh pembudidaya. Para peternak kini mulai mengorganisir diri membentuk Kelompok Tani (Poktan) agar sektor ini bisa masuk dalam program pembinaan daerah.
"Harapan kami budidaya kelinci ini bisa mendapat perhatian pemerintah agar perkembangannya tidak kalah dengan peternak sapi atau kambing, misalnya melalui fasilitasi bantuan alat pembuat pelet pakan untuk menekan biaya produksi," pungkasnya.
Editor : Sutrisno