RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Kandangan - Musim kemarau tidak hanya berdampak terhadap ketersediaan air, tetapi juga mulai dirasakan para pembudidaya ikan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).
Kondisi tersebut terutama terjadi pada usaha perikanan budidaya yang memanfaatkan aliran sungai sebagai sumber air. Penurunan debit air membuat kondisi kolam berubah dan turut memengaruhi pertumbuhan ikan.
Kepala Bidang Perikanan Dinas Pertanian, Perikanan dan Pangan Kabupaten HSS, Fatmadiansyah, mengatakan salah satu dampak yang paling dominan adalah menurunnya nafsu makan ikan.
“Biasanya ikan diberi makan dua atau tiga kali sehari, sekarang kami sarankan cukup satu kali sehari. Yang penting ikan bisa bertahan,” ujarnya.
Selain nafsu makan, kondisi kualitas air juga menjadi perhatian. Memasuki musim kemarau, kadar pH dan oksigen terlarut di perairan dapat menurun sehingga berpengaruh terhadap kondisi ikan.
Dampak lainnya, pembudidaya terpaksa melakukan panen lebih awal. Jika dalam kondisi normal ikan dapat dibesarkan hingga sekitar enam bulan, saat kemarau ada yang harus dipanen ketika baru berumur sekitar empat bulan.
“Ini tentu menyebabkan kerugian bagi pembudidaya. Ikan yang seharusnya masih dibesarkan sampai enam bulan, terpaksa dipanen lebih cepat,” jelasnya.
Wilayah yang mulai merasakan dampak kekeringan di antaranya kawasan atas seperti Kecamatan Loksado dan Padang Batung. Sejumlah kolam di wilayah tersebut sudah mengalami kekeringan.
Kondisi serupa juga terjadi di Kecamatan Kalumpang, terutama Balanti, Karangbulan dan Balimau. Debit air di sejumlah lokasi mulai berkurang sehingga tidak semuanya bisa digunakan untuk budidaya.
Fatmadiansyah menyarankan pembudidaya yang memiliki sumber air alternatif memanfaatkannya untuk mempertahankan ikan hingga masa panen.
“Kalau ada sumber air lain selain sungai, seperti sumur bor atau pompa, bisa dimanfaatkan. Ikan yang belum cukup umur untuk dipanen bisa dipindahkan ke kolam terpal dan diberi air dari sumber tersebut,” katanya.
Sementara itu, kondisi berbeda justru dirasakan nelayan tangkap di wilayah Nagara, Daha. Bagi nelayan tangkap di kawasan tersebut, musim kemarau justru dapat menjadi berkah karena ikan cenderung berkumpul di bagian perairan yang masih memiliki air sehingga lebih mudah ditangkap.
“Kalau perikanan tangkap, kemarau ini justru menjadi berkah. Ikan berkumpul di satu-satu titik atau bagian yang masih terdapat air sehingga bisa dipanen,” tuturnya.
Menurut Fatmadiansyah, kondisi tersebut menunjukkan dampak kemarau terhadap sektor perikanan tidak sama di setiap wilayah. Pembudidaya ikan lebih menghadapi persoalan keterbatasan air, sedangkan nelayan tangkap di kawasan Nagara, Daha justru memanfaatkan kondisi perairan yang menyusut untuk mendapatkan hasil tangkapan.
Editor : Sutrisno