Kopi Excelsa Tapin Resmi Kantongi Indikasi Geografis

Rasidi Fadli • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 14:51 WIB
BERITAHUKAN: Kepala Bappelitbang Tapin, Meidy Harris Prayoga memberitahukan bahwa Kopi Ekcelsa Tapin sudah resmi dapat pengakuan. (Foto Rasidi Fadli)
BERITAHUKAN: Kepala Bappelitbang Tapin, Meidy Harris Prayoga memberitahukan bahwa Kopi Ekcelsa Tapin sudah resmi dapat pengakuan. (Foto Rasidi Fadli) 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Rantau – Kopi Excelsa Tapin semakin mendapat pijakan untuk berkembang sebagai komoditas unggulan daerah.

Pengembangan Indikasi Geografis (IG) Kopi Excelsa Tapin menjadi salah satu bentuk komitmen Pemerintah Kabupaten Tapin dalam mendorong budidaya sekaligus meningkatkan nilai ekonomi kopi lokal.

Kepala Bappelitbang Kabupaten Tapin, Meidy Harris Prayoga, mengatakan pengembangan IG tersebut tidak terlepas dari kebijakan Bupati Tapin H Yamani yang mendorong pengembangan budidaya Kopi Excelsa Tapin.

“Pengembangan indikasi geografis ini berdasarkan kebijakan Bapak Bupati Tapin untuk pengembangan budidaya Kopi Excelsa Tapin. IG ini merupakan bentuk komitmen dukungan kepala daerah dalam pengembangan budidaya kopi,” ujarnya, Jumat (18/9/2026).

Menurut Meidy, keberadaan IG menjadi langkah strategis untuk memperkuat identitas dan daya saing Kopi Excelsa Tapin. Dengan adanya perlindungan tersebut, produk kopi Tapin memiliki identitas geografis yang semakin kuat dan dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

Ia berharap ke depan Kopi Excelsa Tapin tidak hanya dikenal di daerah, tetapi mampu menjadi salah satu produk unggulan yang menembus pasar nasional hingga internasional.

“Harapannya, ke depan Kopi Excelsa Tapin bisa menjadi salah satu produk unggulan yang mampu masuk pasar nasional dan internasional,” katanya.

Dijelaskan, dokumen Indikasi Geografis Kopi Excelsa Tapin tersebut telah dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual. Dokumen tersebut selanjutnya akan diserahkan secara langsung sebagai bagian dari proses penguatan perlindungan terhadap produk khas daerah.

Pengakuan IG ini juga diharapkan memberikan manfaat besar bagi petani kopi. Sebab, keberadaan IG tidak sekadar menjadi label atau identitas produk, tetapi menjadi instrumen strategis dalam pengembangan Kopi Excelsa Tapin, mulai dari budidaya, kualitas, pengolahan, hingga pemasaran.

“Manfaat adanya IG ini tentu sangat besar bagi kalangan petani. Ini menjadi langkah strategis untuk pengembangan Kopi Excelsa di Tapin, karena sudah memiliki IG yang dapat digunakan untuk pengembangan kopi itu sendiri,” jelas Meidy.

Punya Karakter Cita Rasa Khas

Kopi Excelsa Tapin merupakan produk yang berasal dari kawasan Pegunungan Meratus di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Jenis kopi yang dibudidayakan adalah Kopi Excelsa.

Secara historis, kopi tersebut dibawa oleh masyarakat transmigrasi dari Jawa Timur dan mulai berkembang melalui program transmigrasi pada era 1970-an.

Kopi Excelsa sempat mengalami perkembangan pesat sebelum kemudian mengalami penurunan. Kini, komoditas tersebut kembali berkembang seiring meningkatnya tren kopi spesialti dan kebutuhan terhadap identitas produk unggulan daerah.

Kondisi geografis Tapin turut memberikan karakter tersendiri terhadap kopi yang dihasilkan. Mulai dari kondisi geologi, jenis tanah, topografi perbukitan dengan ketinggian sekitar 80 hingga 250 meter di atas permukaan laut, hingga iklim tropis basah dengan curah hujan rata-rata 2.331,6 milimeter per tahun.

Saat ini, luasan lahan Kopi Excelsa Tapin yang masuk dalam kawasan IG mencapai sekitar 266,9 hektare, dengan perkiraan produksi sekitar 160 ton kopi biji atau green bean per tahun.

Produk yang dimintakan perlindungan IG meliputi kopi biji, kopi sangrai atau roasted bean, serta kopi bubuk atau ground coffee. Pengolahannya menggunakan metode olah kering atau natural dan olah basah giling kering atau fullwash.

Berdasarkan pengujian sampel oleh Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka) di Jember, secara mutu fisik Kopi Excelsa Tapin telah memenuhi standar SNI 01-2907-2008 dengan tingkat cacat rendah dan masuk kategori mutu 1 dan 2.

Sementara dari sisi citarasa, pengujian yang mengacu pada standar Specialty Coffee Association (SCA) menunjukkan skor di atas 80 atau masuk kategori Specialty Grade.

Pada metode fullwash, profil citarasa yang muncul antara lain dark chocolate, rubbery, hazelnut, dried fruit, nutty, ambarella, sweet, acidic, cereally, spicy, snack fruit, greenish dan herbal.

Sedangkan metode natural menghasilkan karakter citarasa seperti dark chocolate, sweet, herbal, sweet corn, rubbery, spicy, cereally, greenish, brown fruit dan caramelly.

Dengan proses produksi yang terstandar sesuai dokumen deskripsi serta keterkaitan antara faktor lingkungan geografis dan faktor manusia, Kopi Excelsa Tapin memiliki dasar kuat untuk dikembangkan sebagai produk unggulan daerah.

Pemerintah daerah pun mendorong agar perlindungan IG tersebut tidak berhenti pada aspek administratif. Namun menjadi pintu masuk untuk memperkuat budidaya, meningkatkan kualitas produksi, memperluas pasar, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani kopi di Kabupaten Tapin.

Pengembangan ini diharapkan mampu menjadikan Kopi Excelsa Tapin sebagai produk yang memiliki identitas kuat, bernilai ekonomi tinggi dan memiliki daya saing berkelanjutan, baik di pasar nasional maupun internasional.

Editor : Sutrisno
Kopi Tapin