12 Bekantan Mati Terbakar di HSS, Gubernur Muhidin Minta Rambai Dijaga

Sheilla Farazela • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 18:25 WIB

TERBAKAR: Bekantan ditemukan menjadi korban kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. (Foto: Istimewa)
TERBAKAR: Bekantan ditemukan menjadi korban kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. (Foto: Istimewa)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarbaru - Sebanyak 12 bekantan dilaporkan mati terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS). Peristiwa yang menimpa satwa endemik Kalimantan itu mendapat perhatian Gubernur Kalimantan Selatan Muhidin.

Muhidin meminta habitat bekantan dijaga, terutama pohon rambai yang menjadi salah satu sumber pakan satwa berhidung panjang tersebut. Perlindungan dinilai penting untuk mencegah dampak karhutla terhadap populasi bekantan di daerah lain.

“Yang penting harus dijaga di daerah lain, kami mengimbau makanannya ini yaitu rambai, kalau bisa itu dijaga dan jangan sampai terbakar,” ujar Muhidin kepada awak media seusai memimpin rapat koordinasi di Kantor Gubernur Kalsel, Banjarbaru, Kamis (17/9/2026).

Muhidin menilai kebakaran di kawasan habitat satwa tidak hanya mengancam bekantan. Satwa lain yang hidup di kawasan terdampak juga menghadapi ancaman serupa.

Karena itu, ia menekankan pentingnya menjaga ekosistem dan habitat satwa dari kebakaran.

Evakuasi Bekantan Tak Mudah

RESPONS: Gubernur Kalimantan Selatan Muhidin menanggapi kematian 12 bekantan akibat kebakaran hutan dan lahan di Hulu Sungai Selatan, Kamis (17/9/2026). (Foto: Sheilla/Radar Banjarmasin)
RESPONS: Gubernur Kalimantan Selatan Muhidin menanggapi kematian 12 bekantan akibat kebakaran hutan dan lahan di Hulu Sungai Selatan, Kamis (17/9/2026). (Foto: Sheilla/Radar Banjarmasin)

Muhidin juga menyoroti tantangan penanganan bekantan ketika terjadi kebakaran. Karakter satwa tersebut yang cenderung menjauh ketika manusia mendekat menjadi kendala tersendiri dalam upaya penanganan di lapangan.

Ia mencontohkan perilaku bekantan yang berada di Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala.

“Nah, di Pulau Curiak itu, bekantannya banyak di situ berkumpul. Tapi kalau kita sudah mendekat saja dia sudah hilang,” tambahnya.

Karakter tersebut membuat upaya mendekati bekantan tidak mudah. Di tengah ancaman kebakaran, perlindungan habitat menjadi penting agar satwa tetap memiliki ruang hidup dan sumber pakan.

Muhidin secara khusus mengingatkan agar pohon rambai tetap dijaga. Pohon tersebut menjadi bagian penting dari habitat dan sumber pakan bekantan.

Pemprov Berupaya Padamkan Api

Muhidin berharap peristiwa yang menyebabkan 12 bekantan dilaporkan mati terbakar di HSS tidak kembali terjadi.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, menurut dia, akan berupaya melakukan pemadaman terhadap api yang masih mengancam kawasan tersebut.

“Masalah bekantan perlu kita pelihara, mudah-mudahan tidak terjadi lagi. Kita berusaha untuk memadamkan api yang ada di situ,” pungkasnya.

Peristiwa di HSS menjadi perhatian karena karhutla tidak hanya berdampak terhadap lingkungan dan kualitas udara, tetapi juga mengancam habitat satwa.

Pemprov Kalsel pun meminta perlindungan terhadap habitat dan sumber pakan bekantan diperkuat agar kejadian serupa tidak kembali menimbulkan korban satwa. (*)

Editor : M. Ramli Arisno
karhutla Hulu Sungai Selatan bekantan mati terbakar habitat bekantan Kalsel pohon rambai bekantan Gubernur Kalsel Muhidin