RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarbaru – Universitas Lambung Mangkurat (ULM) memperkuat perannya dalam mendukung transisi energi dan pengendalian perubahan iklim. Hal ini sejalan dengan semakin terbukanya ruang kolaborasi antara ULM dan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI.
Kolaborasi tersebut mengemuka dalam Seminar Kebangsaan MPR RI Goes to Campus di Lecture Theater FEB ULM, Selasa (15/9/2026). Kegiatan menghadirkan Wakil Ketua MPR RI Dr Eddy Soeparno SH MH dan diikuti ratusan mahasiswa.
Hadir Rektor ULM Prof Dr Ahmad Alim Bachri beserta jajaran serta anggota DPR RI asal Kalsel Pangeran Khairul Saleh.
Eddy mengatakan, perguruan tinggi memiliki posisi penting dalam mendorong transisi energi karena menjadi ruang lahirnya riset dan gagasan baru.
Menurutnya, dalam setiap kunjungannya ke kampus, termasuk ULM, selalu ada berbagai masukan yang dapat menjadi bahan pengayaan dalam merumuskan kebijakan terkait energi dan lingkungan.
“Saya berharap teman-teman mahasiswa maupun akademisi ULM bisa memberikan gagasan terkait transisi energi. Ini bisa menjadi pengayaan dan pendalaman kita,” ujarnya.
Eddy juga menyoroti posisi Kalsel sebagai salah satu daerah dengan sumber daya energi besar, khususnya batubara. Menurutnya, batubara masih menjadi salah satu sumber devisa ekspor penting bagi Indonesia karena permintaan dari negara-negara industri di Asia masih tinggi.
Namun, pemanfaatan batubara di dalam negeri menurutnya perlu diperkuat melalui hilirisasi. Salah satunya pengembangan Dimethyl Ether (DME) sebagai alternatif LPG.
Di sisi lain, Eddy menilai transisi energi tidak hanya berkaitan dengan perubahan sumber energi, tetapi juga persoalan lingkungan seperti pencemaran air, pengelolaan sampah dan dampak perubahan iklim.
Hal tersebut membuka ruang kontribusi bagi perguruan tinggi, termasuk ULM, melalui penelitian dan pengembangan inovasi.
Sementara itu, Rektor ULM Prof Dr Ahmad Alim Bachri SE MSi mengatakan kehadiran MPR RI di ULM menjadi momentum untuk memperkuat kerja sama kedua lembaga yang sebelumnya telah dituangkan melalui nota kesepahaman (MoU).
Salah satu fokus kerja sama tersebut adalah pengembangan energi baru terbarukan dan isu perubahan iklim.
“Dengan MoU yang sudah ditandatangani, salah satu fokusnya adalah dalam bidang pengembangan energi baru terbarukan dan perubahan iklim,” ucapnya.
Ia menjelaskan, ULM juga telah memberikan kontribusi nyata melalui pengelolaan kawasan yang mendukung keberlanjutan lingkungan.
Di antaranya melalui hutan pendidikan seluas sekitar 1.670 hektare serta kawasan mangrove seluas 611 hektare.
“ULM berkontribusi secara langsung melalui hutan pendidikan yang luasnya 1.670 hektare dan lahan mangrove 611 hektare. Ini adalah kontribusi nyata ULM untuk pengelolaan lingkungan hidup dalam perubahan iklim,” jelasnya.
Menurut Rektor, keberadaan sumber daya dan kepakaran di ULM dapat terus dikembangkan menjadi basis riset dan inovasi untuk mendukung agenda transisi energi serta pembangunan berkelanjutan.
Melalui kolaborasi dengan MPR RI dan berbagai pemangku kepentingan lainnya, ULM diharapkan semakin berperan dalam menghasilkan gagasan berbasis riset yang dapat mendukung kebijakan energi dan lingkungan di tingkat daerah maupun nasional.
Editor : Nurhidayat